Dan Akupun Masuk Ruang Isolasi

ilustrasi
Oleh : Laeliya Almuhsin
 
Turun dari mobil, kuseret koper dan kugendong ransel menuju meja IGD RS Mako Brimob, ada 4 petugas berjejer.
"Mbak, saya positif Covid, mau dikarantina di sini," kuserahkan lembar hasil tes Swab. Dua petugas langsung bergeser mundur. Aku paham, siapapun kalau menemukan orang Covid pasti akan jaga jarak. Mungkin juga mereka kaget, kok ada pasien Covid keluyuran di depan. Aku datang tidak pakai ambulan. Oh ya, sebelumnya aku tes Swab di RS Hermina Depok, tapi baru dapat ruang karantina di RS Mako Brimob. Ini nyarinya gak mudah, sebelumnya hubungi sana sini, berbagai RS untuk ruang pasien Covid sudah penuh. Bisa masuk setelah menyebut dokter rekomendasi.
Setelah itu, aku diminta mengikuti seorang petugas yang mengarahkan ke ruang IGD jalur Covid untuk menaruh koper dan bawaan lain. Lalu, diarahkan ke beberapa lab untuk Rontgen dan cek darah. "Lurus terus, lalu belok kiri," katanya. Tidak diantar karena petugas belum pakai APD.
Di ruang Rontgen, seorang petugas memberitahu cara periksa paru. Lalu dari balik kaca diberitahu sudah selesai. Ke lab darah, berkas ditaruh di keranjang depan kaca pembatas. Petugas akan ambil berkas lewat lubang kecil. Tampak sejumlah petugas di lorong memakai APD. Situasi pandemi memberikan pemandangan berbeda di Rumah Sakit.
Aku kembali ke ruang IGD untuk istirahat sebentar karena kepalaku pusing. Petugas menyampaikan akan memakai APD lengkap dulu, baru cek jantung.
Petugas kesehatan datang dengan pakaian APD, serupa astronot siap terbang. Dari suaranya, dia seorang lelaki, terdengar ramah. Dia menyampaikan akan cek jantung, permisi akan pasangi alat-alat di kaki, tangan, dan perlu buka dada. Dalam situasi normal biasanya aku gak berkenan diperiksa area privat oleh dokter atau petugas medis lelaki, minta perempuan meski antri. Namun, dalam situasi luar biasa begini, aku menyadari mereka berpakaian begitu pasti sudah dengan kerepotan setengah mati. Kalau aku rewel minta ganti petugas lain yang perempuan, tentu akan merepotkan. Jadi, ya sudahlah.
Hasil Rontgen: paru bersih.
Hasil tes Darah: Baik. Leukosit wajar.
Jantung: Oke. Perlu cek jantung karena akan diberi Clorokuin.
Sembari menunggu disiapkan ruang isolasi, aku istirahat di ranjang IGD jalur Covid. Ada 4 ranjang kosong. AC membuatku kedinginan dan sakit kepala. Tapi konon AC gak bisa dimatikan.
Setelah itu, petugas tadi akan mengantarku ke ruang isolasi. Dia membawa koperku dan rangselku, sedangkan aku mengalungi tas dan memeluk botol infus. Badanku dalam kondisi tak karuan, nggreges, sakit kepala, dan kedinginan. Kami berdua jalan ke lif menuju lantai 3. Ke sebuah area dengan tanda bahwa semua petugas yang memasuki area tersebut wajib pakai APD lapis 3.
Aku di ruangan besar sendiri. Ini beneran isolasi karena memang tidak bisa keluar dari area ini. Ada jendela besar jika ingin dapat matahari. Petugas bilang, jika mau olah raga bisa di lantai persis depan jendela. Ruangan dilengkapi instalasi sirkulasi udara yang menyisakan bunyi serupa suara selip padi.
Lihat ruangan sebesar ini sendiri, tiba-tiba aku khawatir sepi karena tak terhubung dengan manusia lain. Sementara pintu menuju petugas berlapis-lapis dan tentu terkunci.
"Saya sendirian di sini?" tanyaku. Aku sadar, ini pertanyaan bodoh, namanya isolasi ya sendiri. Aku memastikan pasien Covid lain di mana, ada di ruang sebelah.
Setelah petugas pergi, aku malah takut sendirian. AC terlalu dingin, tak ada remot. Suaraku mulai serak. Suara serak ini terjadi hampir setiap pagi selama sekian hari ini. Lanjut aktifitas bongkar koper dll dengan gotong botol infus. Lalu, aku keluar ruangan ke pintu berlapis, berharap ada petugas lewat, tapi tak ada. Intip ruangan lain dari kaca di pintu, tampak pasien lelaki sedang duduk di ranjang.
Aku kembali ke ruangku, bersih-bersih meja dan ranjang pakai tisu basah yang kubawa. Entah kenapa ruangan ini tampak berdebu, menempel di berbagai instalasi sana sini. Pun lantai. Rasanya ingin ngepel sendiri. Sejak pandemi, aku rajin sekali ngepel kamar dan bersih-bersih. Saat lihat debu begini, tentu jadi risih.
Sebelumnya sebenarnya sempat masuk petugas kebersihan. Berpakaian APD berlapis. Tapi, buru-buru dan saat ngepel lantai bawah ranjangku pun jauh-jauh. Aku paham kalau beberapa orang takut dengan pasien Covid. Mereka mungkin sehat, tapi bisa membawa virus ke rumah, mengenai keluarganya yang rentan.
Sakit kepalaku belum reda. Perasaan tadi aku bilang minta obat sakit kepala tapi kok lama tak dikasih, jadi aku pakai obat pereda sakit yang kubawa sendiri. Saat siap tiduran, baru menemukan banyak sekali obat di kresek terjatuh di lantai. Kucek ada nama depanku. Ya ampun, mungkin tadi petugas memberiku bungkusan ini, saking pusingnya kepalaku sampai gak menyadari.
Aku tertidur dalam keadaan badan tak nyaman, tengah malam bangun karena kaget ada yang pegang tanganku. Dua petugas bersuara perempuan berpakaian APD lengkap sedang memeriksaku. Memasang selimut ke tubuhku yang kedinginan dan cek cairan infus. Akhirnya AC baru bisa dimatikan setelah petugas membawa remot.
Pagi ini aku bangun dengan kondisi lebih enakan. Ini hari ke-13 sejak anosmia. Kini lidahku sudah mulai bisa mengenali rasa dan indera penciuman mulai mengenali aroma, meski belum sepenuhnya. Membuat catatan ini, selancar internet tentang obat/suplemen apa saja ini, kandungan dan efek sampingnya.
 
Sumber : Status Facebook Laeliya Almuhsin
Thursday, September 24, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: