Dampak Penyebaran Hoax Telur Palsu

Ilustrasi

Oleh : Retno Tanding

Telur adalah protein yang murah, mudah diperoleh (apalagi kl memelihara unggas sendiri), mudah dimasak, dan enak bagaimana pun memasaknya, serta nutrisinya menjadi penunjang pertumbuhan otak dan kecerdasan janin dan anak2 yang sedang tumbuh. Seorang Bill Gates pun, meskipun kedengaran patetik, membuat program di daratan Afrika , one family one chicken, untuk mendorong pemenuhan kebutuhan protein untuk anak anak secara mudah dan murah.

That being said, penyebar berita palsu tentang telur palsu, yang bikin jeri ibu ibu yang belanja di Indonesia saat saat ini, pastilah manusia biadab yang secara sistematis, bersama dengan penyebar hoax yang lain, berusaha mempercepat tercapainya kebodohan massal di Indonesia.

Kemarin kemarin pembodohan hanya dilakukan dengan bermain emosi. Pembodohan dilakukan agar audiens hanya mau mendengar informasi dari satu sumber seragam. Sehoax apa pun isi informasi tersebut. Emosi dimainkan agar proses logis pengolahan informasi tidak berlangsung sebagaimana mestinya.

Sekarang issue telur palsu dilakukan untuk menghambat secara fisik pengembangan kecerdasan masyarakat, terutama tentu saja kecerdasan penerus masa depan peradaban masyarakat Indonesia.

Ujungnya ke mana sih, membentuk kelompok masyarakat yang sudah bodoh secara mental dan juga kemudian secara fisik?

Saya kira satu mungkin disasar, kelanggengan penguasaan dan pengendalian cara berpikir kelompok yang tidak mau cerdas tersebut.
Penguasaan sekelompok zombie yang bisa diarahkan sesuai keinginan pengendalinya.

Bayangkan skenarionya, kemarin secara mental sudah diarahkan utk menolak penjelasan logis, seilmiah apa pun penjelasan logis yang diberikan untuk mengcounter hoax.

Kemudian dilemparkan hoax telur palsu yang meresahkan.

Kemudian muncul pelurusan informasi dari otoritas terkait, bahwa issue telur palsu hanya hoax semata. 
Meskipun yg nyebar hoax tidak jelas kredibilitasnya, meskipun yg membuktikan kehoaxan issue telur palsu punya kapasitas dan kompetensi untuk melakukan tes dan menyebarkan informasi lurus tentang telur asli di pasar.

Menurut Anda, mana informasi yang akan lebih dipercaya?

Sumber : Status Facebook Retno Tanding

Thursday, March 22, 2018 - 12:15
Kategori Rubrik: