Damai Natal di Indonesia

Ilustrasi

Oleh : Chitra Retna

PGI, Persatuan Gereja Indonesia, menolak undangan perayaan Natal yang digagas Gubernur DKI di Monas. Menurut mereka: jangan jadikan Monas sebagai tempat mobilisasi umat beragama untuk kepentingan politik tertentu. Biarkan Natal dirayakan di tempat-tempat biasa seperti gereja atau rumah-rumah #Jlebb.

(Sementara FPI mendukung perayaan Natal di Monas. Bingung gak sih, biasanya Natal yang dirayakan terlalu terbuka, di gedung umum misalnya, diprotes, sekarang didorong di tempat seterbuka Monas. Sementara muslim sendiri biasa pengajian di lapangan terbuka dengan pengeras suara. Termasuk di Monas. Bingung aja dengan standar-standar gandanya)

Tapi mengilas ingatan masa kecil saya, sebagai yang biasa didapuk jadi pemeran Bunda Maria kecil, mencecap Natal sebagai simbol dua hal: kesederhanaan dan kembali ke esensi. Orangtua, yang ingin seorang bayi lahir dengan selamat, tidak melihat kandang domba sebagai simbol kerendahan, yang penting si bayi lahir dengan sehat. Raja-raja yang turun dari kuda-kuda mewah mereka, melepaskan seluruh protokol kemewahan, merunduk masuk ke kandang domba menjadi manusia yang menghikmati sebuah proses kelahiran. Maka Natal menjelma sebagai sebuah prosesi agama, seperti juga prosesi-prosesi agama-agama lainnya, yang mengajak manusia bertarung dengan dirinya sendiri untuk memasang perspektif di kepalanya: apa yang sebenarnya esensial dalam hidup ini, dan melepaskan diri dari semua keterikatan-keterikatan dengan hal yang tidak esensial.

(Sedianya Natal kali ini saya ikut sebagai undangan/observer perayaan Natal di Canberra, sayang tetiba harus mudik mendadak ke tanah air. Tapi saya mendukung teman-teman muslim yang mau menyempatkan menghadiri perayaan Natal, bahkan kalau bisa ditradisikan sebagai gerakan, seperti juga banyak teman-teman kristen ikut dalam acara lebaran. Sebentuk upaya menganyam jaring-jaring empati pada keberagaman, satu modal sosial yang mutlak mutlak mutlak penting untuk kehidupan generasi anak cucu kita kelak yang damai dan saling menguatkan. Menghadiri perayaan Natal baik-baik aja kok, gakpapa. Kalau Anda beragama dengan akal, kesadaran kritis dan hati, maka akal kesadaran kritis dan hati itu akan menuntun Anda mencecap pelajaran-pelajaran menarik dan penting saat menghadiri perayaan Natal, yang insya Allah akan menguatkan jalan Anda sendiri)

Selamat menghikmati proses Natal teman-teman yang merayakan. Please be patient, yang sabar ya, dengan kami-kami umat mayoritas yang sebagian masih beragama dengan kekanak-kanakkan..(termasuk saya pastinya). Mari saling menguatkan 

Damai di hati. Damai di bum

Sumber : Status Facebook Chitra Retna

Sunday, December 17, 2017 - 16:00
Kategori Rubrik: