Dalang

ilustrasi
Oleh : Karto Bugel
.
Ketika sikap toleran menjauh dari cara kita hidup, radikal sebagai akibat cara kita berpikir mendekat dalam dekat jangkauan menggoda. Selalu bertaut dalam gerak seirama. Di sana ada korelasi tak dapat dihindar.
Rasa tak suka-ku, menuntut tindakan kongkrit. Bukan sekedar alenia dalam kalimat dan narasi sebagai tanda.
Hantam! Pukul! Musnahkan! Dan lalu chaos terjadi sebagai akibat.
Dalam kekacauan, pikiran jernih bukan pilihan. Refleks sebagai reaksi, jauh lebih mudah terjadi dan nalar kita tak bertanya lagi tentang pantas atau tidak.
Dalam kacau kita bersama, selalu tercipta peluang bagi "liyan" (pihak ke 3).
"Siapakah gerangan dia memancing di air keruh?"
Kaum oportunis si pemilik naskah. Ide dan gagasannya hanya berputar pada puas diri dan kelompoknya. Mereka menjadikan diri sebagai dalang dan kita, para bodoh pemakan janji adalah wayang dalam genggaman dua tangannya dan layar memberi visual secara terbalik dalam remang cahaya.
Menjadi apa bukan pilihan wayang. Pun demikian ketika mendapat apa dibuat tanya, dalang punya jawab.
Dan lalu kita bertanya, pantaskah?
Bukan pada dalang kita harus, pada nurani kita punya. Namun, masihkah dia ada? Turut rusakkah dia kini?
Entahlah..,namun dia yang 6 tahun lalu hadir, tampak berpeluh meski tanpa keluh terdengar dari mulutnya. Dia mencoba dan selalu mencoba menemukan jejak hilang arif kita sebagai bangsa.
Jalin menjalin masalah dan lurus jalan harus dibentangkannya sangat membuat kepayahan. Dia masih tak berkeluh.
Dua pohon besar sebagai penghalang telah dibuat roboh. Bukan itu penghalang sesungguhnya, itu hanya benteng dimana mereka senang bersembunyi. Itu hanya alat agar terlihat kokoh dan garang.
Konon, pohon kedua itu demikian besar dan angkuh hingga banyak pendahulunya lebih senang memutarinya ketika harus lewat. Bukan menebang karena kokoh dan kuat batangnya.
Sangat mungkin dia belum mati. Jalinan akarnya sudah terlalu kuat membuat ikatan hingga kembali tumbuh adalah apa yang kini harus disikapinya.
Akankah sang dalang akan menanam pohon baru atau membuat pohon itu kembali hidup, drama memang masih berlangsung.
Wayang baru dengan lakon baru akan terus dibuat.
"Sekuat apa dalang itu hingga 6 tahun waktu panjang telah dilaluinya dan peluh masih harus diteteskannya?"
Kusut telah diurai, penghalang telah dibuat roboh, jalan lurus telah dibentangkannya, dan kini dia mengajak kita ikut serta.
Cabut semua benih bibit tak baik sebelum dia menjadi liar. Itulah makna Perpres No. 7 tahun 2021yang baru saja dibuatnya.
Perpres itu berbicara tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang mengarah pada Terorisme.
Kebijakan itu sendiri berisi sekitar 125 rencana aksi yg harus dijalankan oleh lebih dari 20 kementerian dan lembaga.
Presiden mengajak semua komponen masyarakat terlibat tanpa terkecuali. Dulu, itu masalah BNPT, hari ini kita diajak.
Perpres itu mengajak kita terlibat menjadi mata dan telinga negara atas potensi terjadinya tindakan bersifat ektrimisme dan kekerasan.
Cabut semua bibit dan benih tak baik di sekolah, tempat kita bekerja, lingkungan rumah kita sebelum dia tumbuh apalagi berbuah. Laporkan!
Terlihat sepele, namun bukankah demikian konsep tentang pencegahan?
Dulu, kita pernah abai terhadap hal sepele seperti toleran terhadap tips kecil saat membuat KTP atau surat keterangan apapun di instansi, hasilnya budaya korup menjadi milik.
Dulu, kita pernah berlaku dengan menganggap sepele tentang bagaimana penetrasi intoleransi di sekolah dan hari ini, sekolah negeri justru digunakan sebagai tempat penyemaian.
Dulu, kita toleran dengan hal sepele seperti saat pemilihan Ketua RT, RW, OSIS hingga Ketua Senat Mahasiswa harus terkait agama dengan sang calon, kini segala hal harus dibuat dan selalu dikaitkan dengan agama.
Demikianlah kita berkembang dan tumbuh menjadi besar karena dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana.
Tak ada kesia-siaan atas kecilnya kebaikan kita tumpuk, demikian pula tak ada kesia-siaan menolak hal kecil yang tak baik demi besar kita yang lebih baik.
Kita diajak berperan sesuai kapasitas kita dalam masyarakat. Tak selalu harus peran besar, peran kecil pun adalah tentang bersama membuat bingkai yang lebih besar bagi kebersamaan kita sebagai satu Indonesia.
Demi Indonesia yang lebih baik, Kenapa Tidak?
.
.
RAHAYU
.
Sumber : Status Facebook Karto Bugel
Tuesday, January 26, 2021 - 09:00
Kategori Rubrik: