Dalam Politik, Tak Ada Musuh Yang Abadi

Oleh : Tomi Lebang

Sampai pagi ini, pada hari pesta Pilkada Serentak 2018, ujar-ujaran identitas masih wara-wiri di linimasa media sosial. Aromanya seperti partai tambahan menuju puncak pemilihan presiden 2019, padahal ini pemilihan kepala daerah.

Tapi wajar, ini pemilihan kepala daerah secara serentak di 171 daerah di Tanah Air. Warga memilih gubernur, bupati, dan wali kota di 17 provinsi, 115 kabupaten, dan 39 kota. Dalam hitungan sebuah media, pilkada hari ini melibatkan sekitar 151 juta penduduk Indonesia -- lebih dari setengah pemegang hak pilih pada pemilu raya tahun depan.

Bagaimana Anda menentukan pilihan? Karena kesamaan identitas, partai, proyeksi pilpres 2019, atau rekam-jejak?

Ini fakta yang dirangkum KPU:

- PDIP berkoalisi dengan Gerindra di 48 wilayah (5 provinsi, 37 kabupaten, dan 6 kota).

- PDIP berkoalisi dengan PKS di 33 wilayah (3 provinsi, 24 kabupaten, dan 6 kota).

- PDIP berkoalisi bersama Gerindra & PKS di 21 wilayah (2 provinsi, 16 kabupaten, dan 3 kota).

Partai-partai lain? Ya, sama saja. Seperti pertautan roda gigi pada mesin, di satu tempat berangkulan, di tempat lain renggang.

Oh ya, jangan lupa, saat maju jadi kandidat Walikota Solo di tahun 2005, Joko Widodo diusung sendirian oleh PDIP, dan lawannya didukung PKS. Lima tahun kemudian, PKS bahu-membahu dengan PDIP dan PAN mendukung dan memenangkannya dengan suara lebih dari 90 persen pemilih. Salah satu juru kampanyenya yang terkenal adalah Hidayat Nur Wahid, bekas Presiden PKS.

Dan saya kira itu juga yang terjadi hari ini. Politisi dan partai bisa bersekutu kapan saja, dan berseteru kapan saja, lalu bergandengan lagi. Semua tergantung hitung-hitungan di balik pintu.

Jadi, kalian yang hari ini ke bilik suara, selamat memilih! Kalian yang hanya bersorak-sorai di luar 171 daerah itu, nikmati sajalah hari liburnya.

Sumber : facebook Tomi Lebang

Wednesday, June 27, 2018 - 13:00
Kategori Rubrik: