Dakwah Tidak Dibutuhkan Lagi di Indonesia

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.MA

Kalau tidak berilmu, isi dakwahnya apa coba? Masak ngelawak doang? Kalau cuma mau ngelawak, jangan dakwah, tapi sekalian jadi komedian, pelawak, badut atau stand-up komedi.

Apalagi Indonesia, negeri dengan jumlah muslim terbesar di dunia ini, buat apa lagi kita berdakwah dalam arti menggiring orang masuk Islam. Yang muslim sudah banyak, ampe tumpe-tumpe.

Ibarat kita menggarami laut, air laut sudah asin, masak mau ente garami lagi? Buat apa, nggak penting juga.

Posisi kita di Indonesia ini sudah mirip di zaman Umar bin Al-Khattab. Beliau radhiyalalhuanhu menolak ketika orang kafir datang minta harta zakat lewat jalur muallaf. Padahal dahulu Nabi SAW selalu dapat jatah zakat buat mereka.

Alasan Umar jelas sekali, dulu di masa kenabian kami masih sedikit dan lemah, jadi kami perlu menaklukkan hati orang kafir lewat diberikannya harta zakat.

Tapi sekarang ini, kami sudah kuat dan mayoritas, apalagi urusan kalian minta-minta zakat? Mau masuk Islam silahkan, nggak mau masuk Islam, terserah. Pokoknya tidak ada lagi jatah buat orang kafir dengan alasan ingin menaklukkan hati mereka.

* * *

Kata dakwah kalau kita kembalikan ke ranah aslinya adalah mengajak non-muslim untuk memeluk agama Islam. Itu adalah tugas suci dan mulia Baginda Nabi Muhammad SAW. Intinya bagaimana kita bisa mengislamkan orang.

Namun ketika orang sudah berbondong-bondong masuk Islam, maka Allah SWT pun memanggil pulang utusan-Nya. Misi mengislamkan orang sudah selesai.

Dan dakwah Beliau SAW sudah diteruskan oleh para shahabat dan para tabiin ke seluruh dunia. Dan di abad yang sama pun juga sudah sampai ke negeri kita.

Dakwah Islam di negeri kita awalnya masih harus berjibaku dengan pemeluk agama lain, seperti Hindu dan Budha. Namun atas berkat jasa para walisongo, akhirnya agama Islam bukan hanya menjadi agama mayoritas disini, namun menjadi negeri dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia.

So, di negeri kita sudah tidak perlu lagi berdakwah dalam arti mengajak-ngajak orang masuk Islam, karena jumlah kita muslimin sudah banyak dan sudah mayoritas sejak dulu. Ibarat di zaman Umar, mau masuk Islam silahkan, nggak mau masuk Islam ya terserah aja. La ikraha fid-diin.

Pekerjaan kita sekarang sudah berubah 180 derajat. Bukan lagi kampanye mengajak masuk Islam, tapi bagaimana agar umat Islam yang sudah amat banyak menghias angkasa ini bisa mendalami agamanya.

Menurut saya istilahnya bukan lagi dakwah, karena istilah dakwah yang secara harfiyah berarti mengajak. Mengajak kemana? Mengajak ke agama Islam? Lha kan memang sudah jadi muslim, terus mau diapakan lagi?

Ya, diajarkan ilmu-ilmu keislaman, bukan? Nah, istilahnya kan bukan mengajak tapi mengajari. Bukan dakwah tapi taklim, tatsqif, tarbiyah, atau apalah istilah lainnya. Namun intinya tetap mengajarkan ilmu-ilmu keislaman.

Di negeri muslim terbesar ini, kita tidak mengalami krisis jumlah pemeluk Islam. Maka isu sentralnya bukan dakwah, tapi bagaimana 268 juta bangsa ini memahami Al-Quran, As-Sunnah serta hukum-hukum syariah.

Tapi kalau masih mau ngotot pakai istilah dakwah, ya terserah. Tapi tema besar dakwahnya bukan bagaimana ngajak ribut orang kafir. Orang mereka itu minoritas, sedikit dan kecil sekali.

Yang justru jadi PR besar kita sekarang malah sebaliknya, yaitu bagaimana muslim-muslim keturunan ini bisa kita sehatkan dengan asupan gizi ilmu-ilmu keislaman.

Maka dakwah kita ini dakwah keilmuan, bukan dakwah perang atau perlawanan. Mau perang sama siapa? Mau melawan siapa? Kan yang diperangi dan dilawan itu muslim-muslim juga.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Monday, June 1, 2020 - 11:15
Kategori Rubrik: