Dakwah Teror

ilustrasi

Oleh : Kalis Mardiasih

Organisasi Rohis di sebuah sekolah di Sragen mengirim WA teror ke siswi yang belum berjilbab. Awalnya, siswi itu mengiranya broadcast biasa. Tapi pesan datang beruntun dan lama kelamaan bersifat teror. Orang tua siswi yang membalas pesan via WA dan meminta untuk bertemu baik-baik, justru mendapat jawaban: buat apa berdiskusi dengan orang tua yang tidak paham syariat, sia-sia dan akan menjadi debat kusir. Akhirnya, orang tua melakukan langkah mediasi ke sekolah. Pengurus Rohis mengakui bahwa memang mereka yang mengirimkan pesan-pesan tersebut. Kepala sekolah mengaku bahwa mereka kecolongan.

Di @kelas.kalis, saya juga banyak mendapat cerita yang sama. Di perguruan tinggi negeri, seorang dosen yang bukan pengajar mata kuliah agama islam berkali-kali meminta mahasiswinya berjilbab. Ia secara kode berujar jika cara mereka berpakaian akan mempengaruhi nilai ujian. Mahasiswi pun jadi berpikir keras karena ancaman tersebut.

Di sebuah SMA negeri yang lain, ibu kepala sekolah selalu bertanya kepada seorang siswi, kapan ia akan memakai jilbab? Siswi itu akhirnya membawa jilbab tiap pelajaran agama Islam. Tapi, tiap kali bertemu ibu kepala sekolah, ia mendapat pertanyaan yang sama, "kok belum pakai jilbab juga? Agama kamu Islam kan?"

Dalam kasus-kasus di atas, teror atau pemaksaan terjadi dan dilaksanakan oleh pihak-pihak yang memiliki kekuasaan: organisasi sekolah, dosen, kepala sekolah. Kalau peristiwa-peristiwa ini terjadi dalam lembaga pendidikan swasta yang bernuansa agama, tentu saja kita maklum. Akan tetapi, jika terjadi pada lembaga negeri, hal tersebut jelas bermasalah. Lembaga negara dibayarin pakai pajak rakyat dari berbagai agama dan identitas loh. Negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan hak-hak dasar warga negara sesuai dengan konstitusi. Perangkat-perangkat yang digaji oleh negara seharusnya juga memiliki pandangan keberagaman tersebut.

Bagaimana pendapat kalian, mengapa hal ini kerap terjadi dewasa ini?

Sumber : Status Facebook Kalis Mardiasih

Friday, January 10, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: