Dakwah Kekuasaan

ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat

Salah satu sumber malapetaka umat Islam adalah rebutan kekuasaan dengan sesama. Namun begitu, narasi dakwah secara internal masih saja dihembuskan untuk selalu mencapai tujuan kemenangan atas kekuasaan.

Semua materi dan kajian dakwah selalu terarah agar umat Islam mendapatkan kekuasaan.

Tema macam ini mungkin sejalan, ketika konteksnya umat Islam berada di negeri minoritas muslim. Sebab sebagai minoritas, harus ada jaminan keamanan dan keselamatan atas eksistensi muslim disitu.

Namun ketika narasi merebut kekuasaan ini dimainkan di negeri mayoritas muslim, berbagai kejanggalan langsunf menerpa di benak kita yang sehat cara berpikirnya.

Kalau disebut 'kita' harus merebut kekuasaan, siapakah yang dimaksud dengan 'kita' disitu. Umat Islam kah? Lho bukankah yang berkuasa selama ini masih bagian dari umat Islam?

Atau jangan-jangan ada 'tuduhan' bahwa mereka itu bukan Islam? Kalau bukan Islam, lantas apakah mereka dianggap kafir?

Atas dasar apa kita jadi berhak menuduh mereka kafir?

Atau mungkin kita tidak menuduh mereka kafir, tapi setidaknya menuduh mereka tidak pro kepada umat Islam. Begitu kah?

Baik kalau begitu, lalu definisi dan batasan pro dan tidak pro itu apa?

Miniatur Dakwah Kampus

Sebenarnya perebutan kekuasaan ini sudah terjadi di level mikro, misalnya di sekolah dan di kampus. Sebagai yang pernah jadi aktifis dakwah kampus, saya kenyang pengalaman mempolitisir siapa yang jadi ketua OSIS atau ketua BEM di kampus.

Sejak masih di dunia pendidikan, saya mengalami bagaimana berpolitik ala anak sekolah dan mahasiswa. Selalu kita diarahkan untuk merebut jabatan tertentu. Dan aksi-aksi pengerahan suara memang dianggap bagian dari dakwah dan jihad.

Lucunya semua dilakukan secara hitam putih begitu saja. Maksudnya, kita dikerahkan untuk pilih si A dan jangan pilih si B. Ini adalah bagian dari perjuangan. Mau bela Islam, pioih A. Kalau sampai pilih B, berarti Islam akan hancur. Titik

Maka ratusan atau ribuan kader kita kerahkan untuk semua pilih A. Siapa pun yang tidak pilih A, maka dia adalah musuh dakwah, Islam akan hancur di tangan B. Kita akan perang mati-matian.

Padahal si A yang kita bela mati-matian itu orangnya biasa-biasa saja. Tidak islam-islam amat. Pacaran juga, joget dan ngedance juga.

Sebaliknya, si B yang kita citrakan sebagai manusia terkafir di dunia, titisan Firaun, Dajjal, Namrudz sekaligus Abu Jahal, ternyata muslim juga, shalat dan puasa juga.

Tidak ada tanda Islam akan jaya kalau yang menang A. Tidak ada isyarat Islam akan hancur kalau yang menang B.

Sayangnya, dalam materi dakwah, justru doktrin macam inilah yang tiap hari ditanamkan. Kajian rutin kita meluap-luap dengan mendiskreditkan B dan memuja A. Tiap hari seperti itu disuntikkan, lama-lama jadi aqidah dasar yang tidak bisa berubah lagi.

Tidak menerima konsep dan doktrin macam ini, berarti siap diposisikan sebagai musuh agama, musuh Allah dan musuh umat Islam.

Kalau sejak jadi anak rohis sudah begitu cetakan fikrahnya, maka masuk dunia nyata, sama saja dan tidak berubah. Dakwah itu adalah stigma kawan dan lawan.

Ada kawan yang harus dibela mati-matian, walau pun tidak ada alasan yang sehat dan masuk aka, kenapa kudu kayak gitu.

Dan selalu ada lawan yang harus selalu dimaki, dibenci, dibuli, dihabisi dan dimusuhi, meski kita pun tidak pernah tahu, kenapa harus diperlalukan seperti itu. Dosa apa yang telah dilalukannya kok sesial itu nasibnya.

Itulah fakta, itulah realita. Dengan doktrin semacam itulah keislaman kami ditumbuhkan. Dengan stigma hitam putih itulah benih-benih keimanan kami ditumbuhkan.

Iman yang harus melahirkan kawan dan lawan. Harus selalu ada tokoh untuk disanjung dan dibela-bela. Dan harus selalu ada tokoh yang selalu dibenci dan dimusuhi bersama.

Ahh...sudah lah.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat, Lc.MA

 

Monday, May 27, 2019 - 11:15
Kategori Rubrik: