Dai Enterpreuneurship

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Seorang perempuan paruh baya duduk nikmati sore di beranda samping 'loji'nya yang besar dan megah. Bercengkerama dengan beberapa perempuan yang juga duduk bersimpuh di lantai kayu jati pilihan. Beralaskan tikar pandan Bawean.

Di atas sebuah meja pendek yang terletak di sebelah kanannya, ada sebuah 'kinangan' yang telah terisi lengkap namun tak diusiknya. Kali ini dia memang berniat habiskan sore hanya dengan minum 'wedang' jahe gula kelapa.

Perempuan yang masih tersisa kecantikannya di usia yang tak lagi muda itu, adalah Nyai Ageng Pinatih. Pedagang kaya raya, pemilik armada puluhan kapal dagang, sekaligus Syah Bandar Pelabuhan Gresik. Sebuah kota di pesisir Laut Jawa, pusat perdagangan daerah timur Nusantara . . .

Ketenangan sedikit terusik, serombongan laki2 gagah masuk halaman yang diteduhkan oleh rimbunnya emoat pohon Sawo Kecik, dengan hiruk pikuk. Mata Nyi Ageng menyipit. Segera dia kenali, mereka adalah para anak buah sebuah kapal dagangnya. Yang di depan si Nakhoda, jalan bergegas. Kedua tangannya membopong sebuah peti kayu berukir.

'Mengapa mereka pulang sebelum waktunya ? Bukankah baru kemaren mereka berlayar menuju Bali ?' Tanya Nyi Ageng dalam hati.

Dalam cerita yang lebih merupakan legenda, dalam peti itu terdapat seorang bayi laki2. Kelak diketahui adalah putra Syech Maulana Isqak dengan Dewi Sekardadu putri Kerajaan Blambangan. Oleh kakeknya Menak Sembuyu, si bayi di buang ke laut setelah ditempatkan dalam sebuah 'kendaga', kotak kayu.

Ditemukan oleh para pelaut itu, lalu diserahkan pada Nyai Ageng yang kemudian mengasuh-nya. Di berinya nama Jaka Samudra.

Ketika menginjak remaja Jaka Samudra, yang juga dikenal sebagai Raden Paku, dibawanya menghadap ke Ampeldenta Surabaya, untuk dititip-asuh-ajarkan pada Kanjeng Sunan Ampel.

Kelak kemudian hari Raden Paku kembali ke daerah Gresik, terkenal sebagai Sunan Giri atau Prabu Satmata.

Nyai Ageng Pinatih meski 'hanya' seorang saudagar, secara tak langsung telah mencetak, 'melahirkan' seorang pemuka agama yang besar. Salah satu dari Sembilan Wali, penyebar agama Islam di Jawa.

Hampir mirip dengan riwayat Siti Khadijah, istri Rasul, seorang Saudagar Perempuan Mekah kaya raya, yang 'temani' Nabi Besar Muhammad saw, berjuang sebarkan Islam. Sejak awal ke-Nabi-an.

Keduanya Saudagar. Bahkan, kebetulan atau bukan, keduanya juga Perempuan . . .

Siang ini, Rabu 20 November 2019, saya akan datang, tepatnya ikuti sebuah 'hajatan', sebuah seminar yang diadakan oleh Pengurus Besar NU Pusat, di Salemba. Jakarta Pusat.

Seminar Nasional Da'i Entrepreneur 2019. Keren 'judulnya'. 'Improve Your Mind And Creativity to be Competitive Entrepreneur'

Nara-sumbernya pun cukup terpilih dan terbukti. Ada Yusuf Mansyur, pen-dakwah kondang Asli Betawi sekaligus penulis buku yang produktif, juga seorang Pengusaha.

Ada Dino Pati Djalal. Dulu mungkin lebih dikenal sebagai Wakil Menlu dan Duta Besar. Seorang tokoh Diaspora Indonesia. Pendiri 'Waqara'. Sebuah bisnis 'start-up' pelayanan Perencanaan Keuangan dan Pembayaran Umroh.

Lalu ada Prasetya M. Brata, seorang Executive & Personal Growth Coach. Telah 20 tahun lebih malang melintang di bidang HRD, Marketing, Management, dll. Public Speaker dan Trainer yang aktif dan handal. Dosen MM-UI dan perguruan tinggi lain. Seorang penulis buku juga.

Saya seneng kalau NU sudah mulai bicara tentang Entrepreneur-ship begini. Kembali ke 'khittah'. Nurut saya.

Terbayang oleh saya para Kiai2 Sepuh dulu yang kaya2 meski mungkin ndak semua 'raya', tapi cukup mumpuni dan mandiri secara ekonomi. Kalau ndak punya tambak ikan atau garam, sawah, kebun yang luas, bisa jadi para beliau seorang pedagang. Saudagar . . .

Mandiri juga secara politik karena bukan seorang pegawai pemerintah, atau menjadi 'demang' di jaman baheula.

Bukankah pula penyebaran Islam, terutama di negeri ini sukses, konon karena lewat jalur per-dagang-an ? Oleh para Saudagar ?

Sebelum Islam masuk, Nusantara bukan sebuah negeri yang bodoh, miskin, tak ber-budaya, dan lemah. Tapi sudah ada terbentuk beberapa negeri2 kuat dan besar. Majapahit, Sriwiijaya telah punya armada laut yg kuat. Mataram Lama telah mampu dirikan candi Borobudur. Para empu2 telah mampu hasilkan keris yang merupakan hasil teknologi metalurgi canggih. Telah ada perguruan tinggi semacam Nalanda yang sudah 'go Internasional'. Dan sebagainya . . .

Jadi kalau lewat cara militer, jalan pedang dan bedil, baru kaki menginjak pasir pantai negeri2 Nusantara, tentu sudah 'dibabat' habis. Kalau cuma modal 'kêmlinthi', sok pinter, ya ndak dipercaya, ndak digubris . . .

Memang cuma para saudagar yang mampu kerjakan 'proyek' itu. Penyebaran Islam di Nusantara. Karena siapa pun butuh Saudagar. Datang tentu disambut. Ada dan muncul kesempatan tunjukkan 'proposal'. Ini tahap awal dan paling krusial . . .

Terbiasa hadapi segala jenis manusia, tentu para Saudagar telah berpengalaman 'sentuh' hati orang. Terbiasa bersikap menarik hati dan santun, agar orang percaya, untuk sepakat jual dan beli.

Perlu jeli hitung untung-rugi. Tak cukup hanya pakai otak, namun harus pula disertakan hati. Biar berkah. Nantinya yang nampak tampil keluar jadinya ya 'Person' yang Smart, Lugas, namun Luwes, Bijak, dan Persuasif, bukan Provokatif dan biyayak-an . . .

Lawan bicara jadi 'kêsêngsêm', sangat tertarik, lalu 'klêpêk2'. Masuklah ajaran Islam dengan 'smooth' dan adem ayem . . .

Isi seminar nanti ndak tau seperti apa. Kalau lihat judulnya mungkin akan mengajak orang jadi 'Entrepreneur'. Jika pun sudah, mungkin jadi bisa lebih 'competitive' . . .

Pokoknya beri motivasi. Pak Prasetya malah terkenalnya provokatif. Orang bukan cukup dibujuk dan digoda, tapi diseret didorong. Itu memamg keahlian dia.

Semua mobil kami, lama dan baru, warnanya mesti 'Silver'. Berkilap. Luxurious. Meski terkesan 'sombong' dan sok pamer, namun menawan hati, adêm-ayêm, dan ndak nampak sangar. Ciri Saudagar . . .

'Kenapa ndak pilih hitam sih, Pak ?' Anak saya dulu sempat nanya. Karena ber-mobil hitam itu bawa citra atau identik dengan 'pejabat'.

'Bapak ndak seneng disangka pejabat, Nak. Kurang gagah dan kurang keren. Bapak lebih suka dianggap 'seperti' orang kaya. Disangka jadi Saudagar. Lebih keren. Vera-very cool . . .'

Ini juga satu jenis contoh 'motivasi', yang kata Arek Suroboyo, kelasnya 'Becak-an' . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Wednesday, November 20, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: