Dai atau Ustadz Tidak Selalu Tahu Semua Hal

Ilustrasi

Oleh : Iik Fikri Mubarok

Sekarang ini banyak Da'i diundang untuk ceramah lalu kemudian mereka di tanyai segala hal, lewat atensi-atensi dari para pendengarnya.

Anehnya para penanya seolah menjadikan da'i sebagai sosok orang yg segala apa tahu, sampai-sampai mereka menanyakan hal-hal yang dimana hal yg ditanyakan tersebut bukan wilayah Da'i, seperti menanyakan tentang kesehatan, membuat jembatan, cara menanam pohon dengan baik, cara mengurus bayi, bahkan cara melahirkan pun mereka tanyakan ke si da'i, dan anehnya para Da'i tersebut selalu saja menjawab apapun yg ditanyakan para jama'ah.

Karena yang diketahui oleh para Da'i adalah tentang, Haram-halal, wajib- sunah, dan makruh-mubah, maka tentu saja mereka menjawab pertanyaan apapun, ya pasti selalu dengan 6 perangkat diatas.

Mari kita lihat, sejumlah tanya jawab diantara mereka yg sempat terekam oleh saya.

Penanya : Pak ustadz, bagaimana cara membuat Jembatan agar Tidak cepat Ambruk?

Ustadz / , Da'i : Membuat Jembatan agar tidak cepat Ambruk hukumnya halal. ( Anehnya para Jama'ahpun seperti setuju-setuju saja dengan jawaban si Ustadz seperti itu 

Penanya : Pak Ustadz, Bagaimana cara melahirkan?.

Ustadz / Da'i : Cara melahirkan hukumnya mubah.  ( Dan lagi-lagi para jama'ah pun seolah setuju-setuju saja dengan jawaban si Ustadz, buktinya para jama'ah kepalanya angguk2 semua .

Penanya : Pak Ustadz, bagaimana cara mengurus bayi dengan baik?

Ustadz / Da'i : Cara mengurus Bayi dengan baik Hukumnya Sunnah. ( Dan Lagi-lagi para jama'ah pun seolah setuju-setuju saja dengan jawaban si Ustadz, 

Penanya : Pak Ustadz, bagaimana cara mencirikan seseorang bahwa ia mempunyai penyakit Jantung?

Ustadz / Da'i : Orang yg mempunyai Penyakit Jantung Hukumnya haram. ( Jama'ah pun semuanya setuju-setuju saja dengan jawaban si Ustadz 

jama'ahnya Gwoblok, Ustadznya Pea

Hadoooooch... Bisa kalian tebak sendirilah dari kelompok mana yg biasa ceramah tapi ujungnya tanya jawab antar jama'ah dan Da'i nya.

Sumber : Status Facebook Iik Fikri Mubarok

Sunday, January 7, 2018 - 16:15
Kategori Rubrik: