Dahlan Iskan dan Orang Kristen Gumunan

ilustrasi

Oleh : Efron Bayern

Tulisan Dahlan Iskan (DI) dengan judul “Alex susul Leonard” viral di medsos terutama grup Whatsapp (WAG). Saya membaca itu biasa-biasa saja, karena memang seperti itulah fenomena gereja-gereja sempalan dari gereja yang menganut sistem pemerintahan atau sinode “kongregasional” kontemporer yang barangkali (sekali lagi barangkali) tak diketahui oleh DI. Jangankan DI, lha wong orang Kristen saja sedikit berpengetahuan tentang sistem pemerintahan gereja.

Saya baru tergeliat ketika membaca tulisan terusan di WAG oleh seorang Kristen bernama Setio Boedi yang sangat bergairah menanggapi tulisan DI. Ia membuat judul “Dahlan Iskan dan Gereja”. Ia memuji tulisan DI. Dari tulisan DI itu ia membuat refleksi: (1) Gereja perlu introspeksi. Yang disajikan DI adalah nyata bukan maya. (2) Ia merasa malu, karena gereja yang menekankan hukum kasih dan mengampuni tidak terjadi. (3) Tulisan DI menampar gereja dan menunggu waktu saja gereja hancur sendiri. (4) Tulisan DI membawa pesan mulia bahwa gereja seperti domba di tengah serigala. (5) Untuk apa berebut harta benda toh tidak dibawa mati. (6) Gereja harus bertobat dan kembali ke tujuan mula-mula dibentuk.

Saya tergeliat bukan karena kaget, tetapi sangat geli. Orang Indonesia termasuk orang Kristen di dalamnya itu gumunan (gampang heran). Apalagi kalau mendengar atau melihat kesaksian orang yang baru pindah agama kemudian kesaksiannya diamini dan diimani secara lebih istimewa. Gumunan melihat dan mendengar kesaksian-kesaksian sensasional. Bukan maksud saya mengatakan DI pindah agama, tetapi orang Kristen langsung berdecak kagum pada DI yang adalah orang Islam dan langsung mengatakan gereja harus bertobat gara-gara tulisan DI. Seperti dalam alinea pertama tulisan saya di atas andaikata penulis itu paham mengenai pemerintahan gereja, ia tidak akan senaif itu.

Gereja dalam pengertian sempit adalah gedung tempat ibadah Kristen. Secara teologis gereja berarti persekutuan orang-orang percaya kepada Kristus. Secara organisasi apabila saya menyebut nama gereja itu merujuk nama sinode, misal GKI, HKBP, GKJ, GKJW, GPIB, GKE, GPI, dlsb. Kalau Gereja Katolik (Roma) lebih mudah merujuknya. Sinode-sinode itu memiliki jemaat-jemaat lokal (paroki-paroki untuk Gereja Katolik). Misal, GKI Kebayoran Baru adalah jemaat lokal dari (Sinode) GKI. GKJ Gondokusuman adalah jemaat lokal dari (Sinode) GKJ. Jadi, kalau saya menyebut jemaat itu berarti merujuk komunal, persekutuan, himpunan. Kalau individual disebut warga atau anggota jemaat. Misal, saya adalah warga GKI Kebayoran Baru (GKIKB) atau saya adalah warga jemaat GKI Kebayoran Baru. Menyebut saya adalah jemaat GKI Kebayoran Baru adalah keliru.

Secara umum keberadaan gereja arus-utama di Indonesia ditumbuhkan oleh para misionaris dari Eropa. Dalam organisasi militer jemaat dapat dianalogikan dengan batalion, satuan terkecil yang mandiri. Gabungan beberapa batalion disebut dengan brigade, sedang gabungan beberapa jemaat disebut dengan klasis (ada yang menggunakan istilah distrik). Gabungan beberapa brigade disebut dengan divisi atau Kodam, sedang gabungan beberapa klasis disebut wilayah. Gabungan divisi atau Kodam disebut dengan satu matra angkatan darat, sedang dalam gereja gabungan wilayah-wilayah itu disebut sinode. Misal, Sinode GKI. Jemaat, Klasis, Sinode Wilayah, dan Sinode masing-masing dan bersama-sama merupakan perwujudan GKI sebagai satu gereja yang lengkap dan utuh. Bahkan secara tata gereja GKI tidak memberi ruang bagi pemisahan jemaat dari sinode.

Sinode ada pengurusnya yang keputusannya dibuat secara kolektif-kolegial. Gabungan sinode-sinode gereja berhimpun dalam Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Meskipun demikian PGI bukanlah lembaga hirarki yang menyelia sinode-sinode yang menjadi anggotanya. PGI merupakan tempat permusyawaratan dan usaha bersama dari Gereja-gereja di Indonesia, misal isu-isu nasional yang dijadikan masalah bersama atau ekumenis untuk ditanggulangi seperti kemiskinan, korupsi, dlsb. Wadah lain yang setara dengan PGI adalah PII, Persekutuan Injili Indonesia.

Dalam organisasi batalion kadang ada satu kompi yang terpisah jarak dari batalion, misal Kompi Senapan C. Kompi bukanlah organisasi mandiri di militer, karena ia bagian organik dari batalion induknya. Kompi itu juga terbagi-bagi lagi menjadi regu-regu. Demikian juga halnya jemaat. Sebagai contoh GKI Jemaat Kebayoran Baru memiliki “kompi” di Gunung Sindur yang secara organisasi disebut GKI Kebayoran Baru Bakal Jemaat (Bajem) Gunung Sindur. Apabila Bajem Gunung Sindur sudah dapat mandiri sesuai persyaratan organisasi GKI, maka Bajem akan ditingkatkan menjadi “batalion” alias jemaat sehingga ia lepas dari induk yang mengasuhnya yaitu GKI Kebayoran Baru. Bajem Gunung Sindur menjadi GKI Gunung Sindur yang mandiri di dalam sinode GKI.

Sejarah yang jelas sejak zaman zending Belanda jemaat-jemaat arus-utama ini tidak akan gontok-gontokan berebut harta benda. Bahkan selalu terjadi jemaat kuat menolong jemaat lemah. Apabila ada bajem yang memang pantas untuk ditingkatkan statusnya menjadi “batalion” atau jemaat sesuai persyaratan tata gereja, maka segera dijadikan. Hal ini tentu sangat berlainan dengan gereja-gereja “kontemporer” dari AS yang hadir di Indonesia sesudah Indonesia merdeka.

Pada 1970 Pdt. H.L. Senduk dari Gereja Pentakosta membentuk Gereja Bethel Indonesia (GBI). GBI tumbuh pesat sehingga terbangunlah jemaat-jemaat (ingat istilah jemaat bukanlah individual). Berbeda dari gereja-gereja arus-utama yang saya jelaskan di atas sistem organisasi GBI berbentuk Kongregasional. Secara takrif struktur organisasi ini merancukan praktik. Kewenangan ada di jemaat lokal dengan pemimpin tertinggi adalah pendeta gembala jemaat, bukan pada majelis jemaat (MJ) seperti pada Gereja-gereja Protestan arus-utama. MJ dalam gereja arus-utama adalah pemimpin jemaat. Seorang pendeta tidak bisa membuat dan menggunakan anggaran sendiri. Semua MJ yang mengorganisasi. Bahkan MJ bisa mengusir pendeta dan mengembalikannya kepada sinode. Kalau MJ di gereja-gereja “kontemporer” tak sejelas di arus-utama. MJ hanya sebatas pelengkap atau pembantu umum pendeta yang menjadi penguasa atas jemaat.

Sehubungan dengan sistem organisasi seperti di atas lambat laun sulit terjadi pertumbuhan jemaat dalam arti seperti yang terjadi dalam jemaat GKI atau gereja arus-utama. Pada mulanya GBI tumbuh menjadi jemaat-jemaat karena para pemimpin jemaat (atau pendeta) masih memiliki hubungan keluarga atau kerabat dekat. Meningkatkan suatu persekutuan atau perkumpulan menjadi jemaat berimplikasi jemaat yang baru dibentuk terlepas dari jemaat induk pengasuhnya luar-dalam. Untuk menghindari kehilangan harta benda atau properti sebuah jemaat di GBI cenderung memilih menjadi gemuk. Satu “batalion” dengan banyak “kompi” yang menyebar di mal-mal.

Pada 1978 Gereja Bethany didirikan oleh Abraham Alex Tanuseputra, di Jalan Manyar Rejo II/36-38, Surabaya. Gereja Bethany menginduk pada Sinode Gereja Bethel Indonesia (GBI) dan disebut GBI Jemaat Bethany atau GBI Bethany. Dalam penggembalaan umat GBI Bethany ini Abraham Alex Tanuseputra mencetuskan "Successful Bethany Families" sebagai visi gereja tersebut. Pada 1985 dibangun gedung gereja berkapasitas 3.500 orang sebagai tempat ibadah Gereja Bethany Pusat di Jalan Manyar Rejo II/36-38, Surabaya. Pada 1987 dimula visi pembangunan Graha Bethany, Nginden, Surabaya dengan kapasitas 35.000 orang dan kelar pada 2000.

Pada 1988 GBI Jemaat Bethany mengutus Niko Njotorahardjo guna membuka gereja “cabang” di Jakarta. Setahun berikitnya GBI Bethany mengutus Timotius Arifin Tedjasukmana membuka gereja “cabang” di Denpasar, Bali. Dengan pembukaan cabang-cabang tersebut GBI Bethany membagi pelayanannya di Indonesia menjadi GBI Bethany wilayah Indonesia bagian barat yang dipimpin oleh Niko Njotorahardjo, wilayah Indonesia bagian tengah yang dipimpin oleh Yusak Hadisiswantoro, dan wilayah Indonesia bagian timur yang dipimpin oleh Timotius Arifin Tedjasukmana. Abraham Alex Tanuseputra perintis Gereja Bethany menjadi Gembala Sidang Senior. Pada 2000 mereka mendaku sudah mendirikan hampir 1.000 jemaat yang tersebar di seluruh Indonesia dan di luar negeri dengan 250.000 warga jemaat.

Di sini persoalan muncul. Seperti penjelasan saya di atas mengenai jemaat yang saya analogikan sebagai batalion, kalau GBI Bethany mendaku sudah mendirikan banyak jemaat, maka jemaat itu harus mandiri dan bukan lagi menginduk ke GBI Bethany lagi melainkan ke Sinode GBI. Kalau ini terjadi, maka konsekuensi logisnya harta benda menjadi terpisah, bukan lagi menjadi bagian dari GBI Bethany di Surabaya. Untuk itulah pada 1997 (dan diperkuat pada Sidang Sinode pada 2000) Sinode GBI mengeluarkan keputusan bahwa seluruh jemaat lokal yang tergabung dalam Sinode GBI harus menggunakan nama jalan atau tempat jemaat tersebut berada, misal GBI Sudirman. Keputusan Sinode GBI ini sangat penting agar tidak terjadi sinode di dalam sinode. GBI Bethany wilayah barat dan timur mengikuti keputusan Sinode GBI dengan menanggalkan nama Bethany dan menyesuaikan nama-nama jemaat lokal menurut nama jalan atau tempat.

Dalam pada itu Abraham Alex Tanuseputra, meski pada mulanya mengikuti keputusan Sinode GBI, ia menolak untuk menurunkan visi gereja "Successful Bethany Families" yang sudah diusungnya selama bertahun-tahun. Pada tanggal 11 Desember 2002 Leonard Limato mendirikan Sinode Gereja Bethany Indonesia dengan akta Nomor 2 di Notaris WINARKO, SH, dan didaftarkan pada Kantor Wilayah Provinsi Jawa Timur Departemen Agama RI, 15 Januari 2003, No: Wm.07.02/BA.01.1/103/2003 dan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Departemen Agama RI, 17 Januari 2003, No: DJ.III/Kep/HK.00.5/5/158/2003. Dengan demikian pada tanggal 17 Januari 2003 Sinode Gereja Bethany Indonesia pun resmi berdiri sebagai badan hukum gereja. Sifat mendua Abraham Alex Tanuseputra membuat Sinode GBI secara tegas mengeluarkannya melalui surat pemberhentian oleh Badan Pekerja Lengkap Sinode GBI pada 2003. Pada tahun yang sama Abraham Alex Tanuseputra menjadi Ketua Umum Sinode Gereja Bethany Indonesia. Kisruh perebutan kekuasaan terus berlanjut sampai dua tokoh utama Bethany Leonard dan Alex meninggal dunia beberapa waktu lalu.

Persoalan pecah kongsi GBI Bethany dari GBI bukanlah satu-satunya. Pariadji setelah mendaku mendapat wangsit dari Yesus Kristus kemudian membangun para pengikut. Ia mendaftarkan jemaatnya ke GBI dan diberi nama GBI Tiberias pada 1990. Dengan kemasan bisnis yang menarik lewat branding minyak urapan GBI Tiberias makin besar dengan menyebar “kompi-kompi” gemuk di mal-mal. Secara ukuran kompi-kompi itu sebenarnya sudah setingkat “batalion”, namun tetap dipelihara sebagai kompi. Kompi-kompi atau bajem-bajem dari GBI Tiberias itu tidak ditingkatkan menjadi jemaat, karena akan berimplikasi ia terlepas dari induknya, GBI Tiberias, yang berarti induk akan kehilangan harta benda atau mesin uangnya.

Tentu saja praktik ini menimbulkan ketegangan antara Pariadji sebagai pemilik GBI Tiberias dan pengurus Sinode GBI. Sinode membuat keputusan agar GBI Tiberias untuk tidak menggunakan nama GBI Tiberias di “kompi-kompi” yang seharusnya sudah tingkat “batalion”. Untuk menyelamatkan harta benda dan mesin uangnya pada 1997 Pariadji menyatakan keluar dari Sinode GBI dan membuat sinode sendiri dengan nama Sinode Gereja Tiberias Indonesia (GTI). Berhubung Pariadji adalah pendiri Tiberias, maka ia tentu saja menjadi “kaisar” di Sinode GTI yang kekuasaannya absolut.

Di Gereja-gereja Protestan arus-utama kekuasaan tertinggi jemaat ada di majelis jemaat (MJ). MJ dapat memecat pendeta yang sudah menyimpang dari aturan tata gereja. Bahkan seorang warga jemaat dapat mengusulkan kepada MJ untuk memecat seorang pendeta. Sinode GTI tampaknya menganut sistem “teokrasi” murni dengan Pariadji sebagai Wakil Kristus sehingga tidak ada yang bisa mengusik Pariadji.

Apakah pecah kongsi karena persoalan harta benda menjadi “monopoli” gereja-gereja beraliran pentakostal-kharismatik? Tidak. Ada gereja terkenal dari aliran evangelikal yang menyempal dari sinodenya pada awal abad ke-21 karena persoalan harta benda. Gereja apa? Képo, ya? Yang hendak saya katakan di sini menjadi orang Kristen janganlah gumunan. Kita itu murid Kristus. Tugas murid itu ya belajar terus-menerus meski melelahkan badan. Untuk apa? Ya itu tadi biar tidak menjadi orang Kristen gumunan. Ndesa banget!

Sumber : Status Facebook Efron Bayern

Thursday, August 13, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: