Daeng Aziz Tersangka, Langkah Ahok Gusur Kalijodo Lancar

Oleh : Ricky Vinando

Daeng Aziz yang selama ini tidak tersentuh dan bebas menguasai dan mengambil untung besar dari tanah negara, yang mana tanah negara itu dialihfungsikan menjadi tempat bisnis prostitusi, premanisme, perjudian hingga tempat penjualan minuman keras kini berakhir sudah. Polisi sebagai penegak hukum sungguh tak mau main-main lagi dalam menindak setiap seseorang yang diduga kuat melakukan tindak pidana. Prostitusi sungguhlah sebuah perbuatan melawan hukum begitupun menyerobot lahan negara sesungguhnya juga adalah sebuah perbuatan melawan hukum.

Daeng Aziz kini makin terjepit setelah perbuatan yang selama ini dilakukannya tersebut adalah perbuatan pidana, yakni menyediakan fasilitas pencabulan dan menjadikannya sebagai mata pencaharian. Terbukti kini dari penguasaan Kalijodo selama ini telah menjadikan Daeng Aziz seagai penguasa besar Kalijodo. Bukti polisi sebagai aparat penegak hukum tak mau main-main ini terlihat dari penetapan tersangka terhadap penguasa Kalijodo, Daeng Aziz. dan setelah ditetapkan sebagai tersangka, Daeng Azizi pun hilang kekuatannya. Selama ini Kalijodo dikenal sebagai tempat prostitusi kelas bawah, dimana di Kalijodo pula banyak wanita yang setiap hari yang menjajakan diri untuk dinikmati pria hidung belang yang haus akan kebutuhan seks.

 Dan selama itu pula Daeng Aziz memanfaatkan tanah negara karena sesungguhnya selama puluhan tahun menguasai Kalijodo, Daeng Aziz tak ada yang berani menyentuhnya. Namun, Kini Daeng Aziz makin tidak berkutik lagi ditambah sebelumnya dalam operasi penyakit masyarakat yang dilakukan oleh Polda Metro Jaya menemukan sekitar 400 anak panah dan dua ember berisi alat kontrasepsi. Silih berganti Gubernur yang memimpin DKI Jakarta, namun tak ada satupun Gubernur yang berani untuk menggusur habis kawasan Kalijodo yang dikuasai penuh oleh Daeng Aziz, Barulah Basuki Thajaya Purnama atau Ahok yang mempunyai nyali besar untuk menghabisi Kalijodo karena dianggap menguasai tanah negara.

Dan tanggal 29 Februari mendatang, Kalijodo akan rata dengan tanah setelah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam hal ini Gubernur DKI Jakarta, Ahok telah memutuskan menggusur Kalijodo dan mengembalikan ke fungsi awalnya yakni sebagai lahan terbuka hijau. Keputusan Ahok tersebut harus tetap didukung karena itu adalah upaya nyata dan konkrit Ahok dalam upayanya untuk mengatasi banjir yang selalu menghantui Ibu Kota jika hujan mengguyur terlebih lagi saat ini musim hujan telah tiba dan jika Ahok tak mengantisipasinya maka jelas akan membuat Jakarta masih akan tergenang oleh air hujan akibat minimnya daerah resapan air.

Selama ini ruang terbuka hijau di Jakarta memang masih kurang, seperti halnya penggusuran Kampung Pulo yang beberapa waktu yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga merupakan bagian dari upaya untuk mengurangi potensi banjir karena yang melekat dalam benak masyarakat DKI Jakarta bahkan rakyat Indonesia adalah Jakarta selalu banjir. Banjir akan terus terjadi selama tidak adanya sikap kesadaran masyarakat dalam membuang sampah terlebih lagi saat ini masih minimnya ruang terbuka hijau. Kalijodo adalah ruang terbuka hijau, namun akibat tak ada yang berani menyentuh Daeng Aziz selama ini, kawasan itu berubah menjadi kawasan penyakit sosial dalam masyarakat, karena mulai dari pekerja seks, perjudian, penjualan minuman keras hingga premanisme semuanya berkumpul menjadi satu disana.

Sungguh tidak terbayangkan apa jadinya anak-anak yang tinggal dan hidup di Kalijodo jika Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tak segera bertindak. Kasan Kalijodo jelas dangat tidak ramah bagi anak-anak yang tinggal disana, karena lingkungan sosial adalah penyebab utama dapat berubahnya perilaku anak, dan jika Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tak memutuskan penggusuran Kalijodo, Maka tak menutup kemungkinan anak-anak yang tinggal di Kalijodo selama ini , ketika dewasa ia akan berpikir untuk mendapatkan uang yang instan yakni cukup dengan menjual diri, maka langsung dapatlah uang yang memang diinginkan olehnya. Keputusan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta adalah sebuah keputusan yang bijak bukan arogan, karena Ahok dalam hal ini hanya menjalankan perintah konstitusi.

Jika Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus membiarkan prostitusi di Kalijodo makin berkembang pesat, maka itulah yang menjadi kesalahan kita selama ini, karena jelas-jelas Kalijodo yang terkenal akan prostitusi kelas bawah ini sudah merusak sekaligus menganggu ketertiban umum masyarakat yang tinggal diperbatasan antar RT/RW disana. Sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, terima tidak terima, demi mewujudkan lingkungan sosial masyarakat yang aman, nyaman dan tentram, tak ada cara lain yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kecuali membersihkan habis kawasan Kalijodo dan mengembalikannya ke ruang terbuka hijau.

Dan jika ada yang mengatakan bahwa penggusuran Kalijodo adalah merampas hak orang lain untuk bebas tinggal sesuai dengan amanah konstitusi, hal itu adalah sebuah pemikiran yang salah dan sesat. Menjadi melanggar HAM, Apabila negara menelantarkan warga-warga yang selama ini tinggal di Kalijodo. Namun yang terjadi pada faktanya tidaklah demikian, saat ini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah menyediakan Rusunawa sebagai tempat tinggal yang baru bagi para warga Kalijodo yang selama ini hidup dalam lingkungan yang mengancam masa depan anak-anaknya. Tak hanya soal itu, Pemerintah DKI Jakarta pun sudah menyediakan tempat pelatihan kerja bagi para PSK yang tak pulang kampung. Begitupun terhadap anak-anak yang selama ini tinggal di Kalijodo pun akan mendapatkan Kartu Jakarta Pintar (KJP) dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Sehingga beban pendidikannya tak terlalu membebani orang tuanya lagi.

Ada 3 alasan mengapa Kalijodo harus dibersihkan dari penyakit sosial. (1) untuk menjadikan Jakarta menjadi the world class city tentunya harus dilakukan dengan melakukan pembersihan, penataan di semua wilayah yang ada di Jakarta termasuk hingga perkampungan (2) untuk mewujudkan Jakarta sebagai the world class city dibutuhkan sikap serius dalam menata dan mempercantik Jakarta sebagai Ibu Kota negara, terlebih lagi prostitusi hingga perjudian yang ada di Kalijodo merupakan salah satu elemen perusak citra Jakarta sekaligus penghambat menjadikan Jakarta sebagai the world class city (3) penataan Jakarta dan memperbanyak ruang terbuka hijau juga merupakan jalan bagi DKI Jakarta untuk menuju the world class city, karena dengan demikian akan makin cantik Jakarta dipandang oleh masyarakat luas Jakarta, rakyat Indonesia bahkan hingga wisatawan asing.

Sumber : Kompasiana

Tuesday, February 23, 2016 - 14:00
Kategori Rubrik: