Curhat Tentang Lelaki Ceking yang Dihujani Fitnah

Oleh: Elisabeth Shirley

 
Saya menuliskan ini bukan karena saya pemuja buta. Saya cuma menuliskan pengalaman saya tentang laki-laki ceking yg tiap hari kalian hujani dengan fitnah. Ya.. laki-laki yang kalian hina-hina dengan berbagai hujatan, Joko Widodo.
 
Saya mengenalnya jauh sebelum hingar bingar kampret versuss cebong ada. Jauh sebelum itu. Beliau adalah pengusaha mebel yang kerap hilir mudik di kantor tempat saya bekerja. Penampilannya sederhana. Hanya hem putih lengannya digulung sampai se siku, lalu dipadu dengan celana jeans. Seingatku, wajahnya tak banyak berubah. Kalau sekarang matanya sedikit sembab, mungkin jadwal padat membuat beliau kurang tidur. Yang paling kuingat dari beliau adalah saat nongol di titian tangga terakhir lantai 2, senyumnya selalu mengembang. "Mau ketemu bapak." Jempolnya terangkat diantara genggaman 4 jari yg lain.
 
 
 
Seperti kebanyakan orang jawa yg meminta ijin kepada org lain yang dihormati. Lalu saya akan menjawab : "Ditengga njih Bapak... (ditunggu ya bapak), masih ada tamu." Tangan saya mempersilahkannya duduk.
 
Tidak banyak bertanya, tidak banyak menuntut, tidak pernah sekali pun beliau meminta didahulukan untuk bertemu pak boss. Beliau akan duduk anteng di ruang tunggu biasa, sambil meraih koran sampai gilirannya tiba. Bukan di ruang khusus. Betul-betul berbeda dengan kebanyakan pengusaha yang rata-rata berpenampilan bossy.
Beberapa tahun kemudian, laki-laki itu menjadi orang penting di Solo. Menjadi walikota, orang nomor satunya Solo. Satu dua kali kami masih sering berjabat tangan. Bukan karena saya menjadi orang penting juga. Tapi karena saya bertugas ngemsi dan beliau menjadi pejabat yang meresmikan pembukaan kantor cabang di tempat saya ngemsi.
Menjadi catatan emas buat saya, dari antara pejabat yg pernah ikut meresmikan kantor, cuma beliau yg enggak rewel dengan rundown.
 
Ajudan para bupati lebih rewel soal rundown yg bolak balik berubah, membuat pusing panitia. Bapak ini sama sekali tidak. Ajudan hanya menelpon meminta rundown, diperiksa sejenak, lantas ajudan meneruskan pesan beliau : "Bapak ngikut rundown yang ada saja."
 
Satu dekade lebih sekian tahun saya telah berlalu dari kantor itu. Beliau telah melangkah jauh hingga menjadi orang nomor 1 di negara ini. Ingatan saya tidak bisa lepas dari kesederhanaannya beliau dan Bu Iriana Orang2 di seputar tempat tinggal beliau pun tau seperti apa kesehariannya. 
 
Yang membuat saya heran, ada saja orang-orang yang menutup mata hatinya dan tega menghujat dengan terus secara masif mengedarkan kebohongan dari satu WA group ke WA group lain. Bagi saya, berbeda pilihan itu bukan aib. Tapi menghujat tanpa bukti dan  penuh tendensi serta hoax itu menyedihkan. Bahkan yg lebih menyedihkan, pelaku-pelaku penyebar kebohongan itu adalah orang-orang pintar yg mengaku dirinya takut dijauhkan dari surga.
 
Saya hanya sanggup tersenyum kecut. Saya bisa apa? Hanya bagian dari kaum yang diberi stempel auto kafir, yang mimpi ngliat emper surga saja haram.
 
Sehat selalu, Pak Joko Widodo... kalau pilihan saya kali ini salah, setidaknya kesalahan saya ini adalah kesalahan yg paling sadar saya lakukan.

(Sumber: Facebook)

Monday, March 25, 2019 - 17:15
Kategori Rubrik: