Curangnya Jokowi Itu Mudah

ilustrasi

Oleh : Rudi Bintang

Kalau mau jujur, baik dari kubu 01 dan 02 juga sama-sama ada pelaku kecurangan. Baik dalam bentuk money politik, intimidasi, penyalahgunaan wewenang, coblos surat suara tanpa hak, dlsb.....

Apa perlu kita saling buka data soal itu ? Apa perlu kita saling tuding ? Karena toh bisa jadi pelaku dan aktornya adalah pihak provokator. Bisa jadi bukan? Kalau nyata itu kecurangan biarkan pihak berwenang menyelesaikannya dengan sistem hukum yang berlaku.

Janganlah kita yang sangat punya keterbatasan kemampuan ini dan cuma bermodal dari medsos dan katanya katanya lalu sok sok-an jadi penyidik, sekaligus hakim, grasa grusu vonis sesuatu padahal dia blm tentu benar. Ujungnya adalah fitnah.

Benar kata Pak Mahfud MD, di zaman ORBA, kecurangan itu terstruktur dari atas sampai ke bawah karena perangkat politik dan aparatur negara dikuasai 1 pihak. Eksekutif dan Legislatif berada dalam satu wadah dominasi yaitu penguasa. Sehingga.......,

~ Pemilu diselenggarakan sendiri.
~ Pengawasnya dia sendiri.
~ Dicoblos sendiri.
~ Diumumkan sendiri.

Hasil akhirnya sudah bisa ditebak, selama 7 pemilu yg selalu menang ya dia lagi dia lagi. Saat itu kebebasan pun dibungkam, media disensor sangat ketat, oposisi ditekan sampai dikejar-kejar.

Lalu bagaimana kecurangan di saat ini apakah itu ada ? Ya jelas ada ! Namun yang harus diperhatikan adalah pola dari kecurangan itu. Beda dengan kecurangan di masa lalu, kecurangan saat ini atau masa pasca reformasi, itu bersifat invidual bukan lagi terstruktur dari atas. Dalam arti tak bisa dengan mudahnya mengklaim bhw kecurangan itu adlh perintah penguasa (baca : presiden).

Coba kita tengok fakta sejarah yang belum lama ini terjadi.....

Megawati kalah di pilpres 2004 padahal saat pilpres DIA YANG JADI PRESIDEN. Kalau dia mau bisa saja dengan segala cara kecurangan, lalu dia memenangkan pilpres. Tapi nyatanya kan tidak.

Pileg 2009 SBY sukses membawa Demokrat Raih 20,85 % suara tapi 5 tahun berikutnya di Pileg 2014 SBY gagal membawa Demokrat kembali berjaya dan hanya dapat 10,19% suara.

Padahal saat pemilu itu SBY MASIH JADI PRESIDEN. Kalau dia mau bisa saja dengan segala cara kecurangan, lalu dia memenangkan Pileg. Tapi nyatanya kan tidak.

Terakhir ini, Jokowi kalau mau curang ya gampang sebenarnya kalau mau. Gak usah ada transparansi di KPU, tekan Bawaslu supaya gak banyak tindakan, bungkam media supaya gak banyak liputan, dan sensor ketat internet seperti China, Korut dan negara otoriter lainnya.

Lalu apakah itu dilakukan?
Kan tidak, malah sebaliknya. Media bebas, mau legal atau abal-bal yang kadang pake judul aneh-aneh gak diapa2in tuh, kecuali yang menjurus ke fitnah ya harus di larang.

Transparasi pemilu sdh dilakukan dari desa sampai tingkat pusat, jutaan mata tiap detik bisa memantau kerja KPU. Jadi sangat naif sekali jika ada yang mengatakan bahwa telah terjadi kecurangan pemilu secara struktural, masif, dan terorganisir. Berhentilah kalian dari mencekoki rakyat dengan hasutan, fitnah, dan provokasi thdp pemerintah.

Sekali lagi, jadilah orang bijak yang bisa menahan diri dari mengumbar syak wasangka. Suudzon itu akan menjadikan dirimu terlihat bodoh di mata orang lain.

Ingat, bagi Jokowi......,,

"CURANG ITU MUDAH TAPI KEPENTINGAN RAKYAT, BANGSA DAN NEGARA TAK BOLEH DIRAIH DENGAN CARA MENIPU."

Ingat pepatah Arab Kuno.....

"Yabtadi'u Ma Bi Khoirin, Fayahtasilu Ma Khoiron.... Wa Yabtadi'u Ma Bil Fahsya, Fayahtasilu Ma Mungkaron...."

"Memulai sesuatu dengan cara yang baik maka akan menghasilkan sesuatu yang baik pula. Dan jika memulai sesuatu dengan cara yang tercela maka akan menghasilkan perkara yang mungkar."

Sumber : Status Facebook Rudi Bintang

 

Sunday, May 12, 2019 - 13:45
Kategori Rubrik: