Cuma Nanya, Pak JK Mau Ke Mana

Oleh: Iyyas Subiakto
Sudah menjadi rahasia umum bahwa pak JK adalah tokoh utama dibelakang hadirnya Anis di Balai Kota. Karena sejak kampanye dan melakukan drama jual agama mustahil kalau pak JK tak ikut hadir minimal dalam pemikiran itu. Karenanya kedatangan tokoh Islam garis keras Zakir Naik ke istana adalah pertandanya, bahkan tokoh Taliban pun pernah datang kesana.
Kita sebagai warga yg punya pandangan kebimbangan atas prilaku para seniman agama yg suka atas kekerasan itu hanya bisa memandang, dan menerawang, ada apa dgn pak JK, dan jawabannya sdh bisa di tebak, jawaban diplomatis nan puitis. Itu kan silaturahim sesama muslim.
 
Hehe, muslim yang mana, itu masalah selera. Kalau kami jelas memilih silaturahmi kepada muslim yg adem dan " dalem ". Bukan yg kalem tapi menikam, dan mingkem saat kroninya keluar dari pakem.
Ketokohan pak JK tak perlu di tanya, sebagai politikus lintas era dan menjadi wapres dua kali, harusnya dalam darahnya mengalir DNA kenegarawanan yg prima, bukan tokoh kaleng-kaleng yg hanya ada pada kepentingan belaka.
Era orba pak JK pasti banyak belajar dan menyesali kesalahan yg ada, shg seharusnya tidak dibawa ke era reformasi apalagi era Jokowi dimana Indonesia sdg dibenahi dari kerusakan yg dilakukan pada era orba dan era sby, bukan malah di tutupi atau ada keinginan mengulang kejayaan orba yg penuh kenistaan berkepanjangan, serta membuat negara ini nyaris terbelakang, bahkan dgn Vietnam kita harus berpacu dalam separuh nafas..ku.
Jayanya orba, hanya membuat segelintir manusia kenthir jadi kaya raya, apakah pak JK ikut juga, mestinya sekelas pak JK tidak demikian adanya, karena pak JK politisi dan pengusaha yg " bersih " mestinya, kalau faktanya biar pak JK dan orang yg menilainya.
Kembali kepada piaraan Bpk, Anis sbg gubernur Jakarta yg makin menggila, apakah Bpk sepemikiran dgn kelakuannya, apakah Bpk tdk melihat hal yg merusak dlm proses dia bekerja. Kalau Bpk lupa, ini saya ingatkan, dia membuat APBD terkonyol di dunia, dia membuat patung bambu senggama, dia membeli toa utk mengatasi banjir, tapi kali Ciliwung dibiarkan dangkal, dia membongkar trotoar dgn biaya tak masuk akal, membeli bunga plastik dan di bongkar, menguapkan uang 560m utk formula E yg konon tim kerjanya keluarga dan kolega Bpk semua. Dia bangun laboratorium COVID sejak April 20 sampai skrg tak jelas ujudnya, skrg saat pandemi dia belanja pohon taman 115m, dia mau melakukan PSBB lanjutan dan menghancurkan IHSG 300 T gegara mulutnya yg selalu lancang bicara, dan keluarnya membawa petaka.
Kami tidak heran kalau Bpk mendukungnya, selain dia piaraan Bpk, dari awal Bpk juga mendorong lock down. Padahal sbg penguasa dan mantan wapres harusnya cara berpikir, antara ekonomi dan kematian haruslah seimbang, jd jangan sok manusiawi disatu sisi, tapi mematikan disisi yg lain. Berpikirlah sbg negarawan bukan relawan.
Pepatah India mengatakan, kadang kita menaiki kereta yg salah tapi berhenti di stasiun yg benar. Jadi Bpk jangan sebaliknya, seolah kereta yg Bpk naiki benar tapi berhenti di stasiun yg salah, ini negara pak ngurusnya gak bisa seperti ngurus usaha yg hanya untung rugi dgn neraca yg di rekayasa. Negara ini sdh pernah salah waktu dikelola orba, Bpk ada di dalamnya bersama orba dan Golkar yg ckp cetar saat itu. Tapi apa jadinya, akhirnya kita sakit gigi semua.
Sekarang apakah Bpk tdk sakit gigi melihat Jakarta yg porak poranda sejak dipegang anak Bpk yg manis tapi bau amis itu. Mestinya orang waras jelas melihat bedanya. Apakah orang sejenis itu yg Bpk siapkan utk Indonesia, kalau iya, Bpk sdh perlu ganti kaca mata agar tak salah baca, jangan negara Bpk baca neraca, bisa beda makna. Karena negara adalah keberlangsungan, sementara neraca hanya melihat keuntungan.
Ah, sudahlah pak, banyak yg mau ditanya tapi kadang waktunya gak ada. Kamipun hanya bisa meraba Bpk itu maunya apa karena kita tak bisa tau isi hati manusia. Kawan saya bilang hati manusia seperti kendi, kita tak bs melihat dasarnya, hanya saat dituangkan baru kita lihat airnya keruh atau jernih. Tapi kalau piaraan Bpk itu sdh pasti keruh hatinya, kelihatan kelakuannya yg sdh diumbarnya. Kadang kami sampai lupa dia itu manusia atau apa.
MARILAH PAK KITA BELAJAR DARI KESALAHAN BUKAN BERBUAT SALAH TERUS-TERUSAN.
(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)
Sunday, September 20, 2020 - 21:15
Kategori Rubrik: