Cukuplah Bantu Islam Dari Bidangmu

ilustrasi

Oleh : Jauhar Ridloni Marzuq

Seorang apoteker bertanya kepadaku tentang hukum orang yang mendapati imam sedang rukuk, sementara dia belum membaca Al-Fatihah, apakah dianggap tertinggal rakaat atau tidak?

Saya katakan: "Mayoritas ulama mengatakan tidak perlu menambah satu rakaat. Sementara pendapat lain mengatakan dia tertinggal satu rakaat. Pilih saja pendapat yang ingin Anda ikuti.

Dia bilang: "Saya tahu itu. Saya ingin penjelasan lebih jauh alasan yang mengatakan tidak perlu menambah satu rakaat. (Bukankah Al-Fatihah adalah rukun shalat? Seharusnya kalau tidak baca Al-Fatihah berarti ketinggalan satu rakaat)."

Saya katakan lagi: "Apa pentingnya itu bagi Anda? Kenapa Anda mencari-cari apa yang bukan bidang Anda, sementara Anda tinggalkan yang menjadi bidang garapan Anda?"

"Maksudnya?"

"Anda adalah apoteker. Semua obat yang di apotek Anda ini buatan orang Yahudi, orang Kristen, orang Komunis. Jika Anda tinggalkan bidang Amda ini, bidang farmasi, lalu Anda sibuk dengan perkara sia-sia seperti ini, apakah Anda kira itu akan mengangkat derajat Anda di sisi Allah dan di sisi manusia? Sayang sekali, orang seperti Anda inilah yang berperan membuat umat ini jatuh dan tidak bisa menjalani hidup."

"Saya kan ingin mencari hukum agama. Bukan sibuk dengan perkara yang sia-sia."

"Hukum agama seperti yang dijelaskan oleh para ulama telah saya sebutkan tadi. Ambil salah satu pendapat terserah Anda. Cukup di situ. Semua bidang yang membuat Anda berpaling dari masalah obat-obatan, sejatinya itu adalah kesia-siaan bagi Anda. Anda berdosa dan akan diminta pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Apa pentingnya Anda membuat tulisan tentang "Hukum orang yang shalat berjamah tanpa membaca Al-Fatihah"?! Tulisan seperti itu adalah kebodohan. Apa nilainya tulisan seperti itu, selain justru membuat pikiran orang semakin kacau."

*** Kisah Lain ***

Suatu kali saya melihat seorang apoteker yang sibuk membahas hukum shalat Tahiyatul Masjid saat khatib sedang khutbah. Dia tertarik sekali membandingkan antara satu mazhab dengan mazhab lainya.

Saya katakan kepadanya: "Kenapa Anda tidak membela Islam dari bidang Anda, lalu Anda biarkan masalah ini menjadi garapan para ulama? Sesungguhnya Islam ini tumbang dalam bidang farmasi.

Andai saja musuh Islam mau meracuni umat ini dengan suatu obat (dan mereka katakan obat itu menyehatkan kita), tidak akan ada yang bisa mencegahnya. Dan kalian tidak akan ada yang mampu melawannya.

Bukankah lebih baik bagi Anda dan orang-orang seperti Anda untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi agama ini di bidang Anda? Bidang itu kosong tidak ada yang menggarap. Daripada Anda harus sibuk-sibuk membandingkan antara Imam Syafi'i dan Imam Malik!"

=====

Qultu (Komentara saya) : "Ini adalah tulisan Syekh Muhammad Al-Ghazali yang saya terjemahkan dari beberapa artikel beliau. Dengan beberapa ringkasan dan penyesuaian bahasa. Kisah apoteker dalam tulisan ini hanyalah satu contoh, tapi berlaku untuk semua bidang keilmuan. Para apoteker tidak perlu baper ya.. 

Untuk berkontribusi bagi agama tidaklah harus jadi ulama. Tidak harus berbicara tentang agama. Apalagi yang ndakik-ndakik. Biarkan itu jadi garapan ulama.

Cukup kita menjadi orang hebat di bidang kita masing-masing, dan kita masih menjaga jati diri kita sebagai Muslim, itu justru sangat membantu agama ini, yang saat ini babak belur di banyak bidang kehidupan." Wallahua'lam.

Sumber : Status Facebook Jauhar Ridloni Marzuq

Wednesday, July 15, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: