Cuitan SBY, Gejala Post -power Syndrome?

Oleh : Kang Adjat R Sudradjat

Ketua umum Partai Demokrat, juga mantan Presiden RI keenam, SBY, tampaknya tak kuasa lagi menahan emosinya manakala muncul pernyataan pihak penguasa yang dianggapnya telah “mengkambinghitamkan” kerja pemerintahannya selama 10 tahun. Melalui akun Twitter @SBYudhoyono, SBY mencuit bahwa berbagai masalah yang sekarang muncul dikatakan warisan atau akibat kesalahan pemerintahan SBY.

Meskipun tidak dikatakan secara eksplisit nama penguasa yang dimaksudnya, akan tetapi publik kadung menebaknya dengan mudah. Pihak penguasa saat ini adalah Presiden Jokowi bersama jajarannya, tentu saja.

Hanya saja publik bertanya-tanya, sejauh mana pula penguasa telah mengkambinghitamkannya. Lalu jika tidak merasa, kenapa musti angkat bicara, bukankah SBY sendiri bilang, biarlah masyarakat yang menilainya ?

Akan tetapi melihat kondisi seperti ini, semua cuitan SBY itu tadi sepertinya memang tak layak untuk ditanggapi . Kita harus memaklumi. Mantan penguasa RI selama dua periode ini bisa jadi sedang kena post-power syndrome kalau menurut istilah psikologi.

Sekedar mengingatkan, post-power symdrome adalah suatu gejala yang terjadi dimana si penderita tenggelam dan hidup di dalam bayang-bayang kehebatan, keberhasilan masa lalunya sehingga cenderung sulit menerima keadaan yang terjadi sekarang. Seperti yang terjadi pada kebanyakan orang pada usia mendekati pensiun. Selalu ingin mengungkapkan betapa begitu bangga akan masa lalunya yang dilaluinya dengan jerih payah yang luar biasa.

Adapun penyebabnya adalah:

i.Kehilangan harga diri; hilangnya jabatan menyebabkan hilangnya perasaan atas pengakuan diri.

ii. Kehilangan fungsi eksekutif; fungsi yang memberikan kebanggaan diri.

iii. Kehilangan perasaan sebagai orang yang memiliki arti dalam kelompok tertentu.

iv. Kehilangan orientasi kerja.

v. Kehilangan sumber penghasilan terkait dengan jabatan terdahulu.

 

Tokh kalau pun diminta oleh SBY untuk menilai kinerjanya memimpin negara ini selama sepuluh tahun, apa boleh buat, dengan sangat terpaksa, dan suka maupun tidak, kita pun pasti akan mengatakan dengan yang sebenarnya. Sekalian untuk melawan lupa. Satu di antaranya yang paling berkesan di hati rakyat Indonesia selama dipimpin oleh SBY adalah slogan yang selalu muncul di layar televisi saat itu. “Katakan tidak pada korupsi” yang ketika itu diucapkan SBY sendiri, Anas Urbaningrum, maupun Angelina Sondakh, dan Ibas kalau tak salah, di dalam kenyataannya ternyata malah sebaliknya. Dua nama terahir malah masuk bui karena melakukan korupsi. Dan tidak hanya dua orang itu tadi, sederet nama kader PD ketka SBY berkuasa telah dijebloskan ke dalam penjara dalam kasus yang sama – mengemplang duit negara.

Lalu program BLT sebagai pengganti subsidi BBM yang konon dibagikan pada rakyat miskin, akibatnya tak kalah pula menimbulkan banyak masalah. Malah dampaknya yang hingga sekarang masih terasa adalah mental mereka (rakyat yang dinamakan miskin itu) semakin keropos saja. Telapak tangannya selalu ditadahkan, maunya diberi saja. Bahkan dalam kegiatan gotong-royong untuk kepentingan umum saja – termasuk kepentingan rakyat miskin sendiri, mereka enggan melakukannya kalau tanpa ada imbalan.

Tapi sudahlah. Tak perlu semuanya dibeberkan. Selain menyakitkan, juga tak baik untuk membuka aib di hadapan publik. Dan cuitan SBY itu kalau diterjemahkan maksudnya bisa jadi adalah pesan untuk dicatat oleh penguasa. Jangan asal bicara, apalagi sampai menyalahkan penguasa sebelumnya. Lebih tepatnya, bahwa segala program dan kebijakan SBY selama jadi penguasa kemungknian besar bukan untuk dibicarakan, tetapi cukup sudah dijadikan sebagai cermin saja.

Sebagaimana pesan Bung Karno: Jangan melupakan sejarah. Bahwa yang kita kerjakan saat ini harus dengan bercermin pada masa lalu. Maksudnya kesalahan yang terjadi di masa lalu harus diperbaiki, dan yang sudah dianggap baik haruslah lebih baik.

Begitu kira-kira.

 Bagaimanapun kita harus tetap menghormati penguasa terdahulu. Anggap saja SBY sebagai seorang tua yang sudah memasuki usia senja. Selain pantas dihormati, sudah selayaknya dimaklumi. Karena orang tua seusianya seringkali lupa pada hal yang telah terjadi. Mungkin karena gejala post-power syndrome itu tadi. Tapi semoga saja tidak. Mudah-mudahan SBY selalu sehat-sehat saja. ***

Sumber : Kompasiana

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *