Covid, Ulama Wafat dan Ketakutan Kapan Gilirannya

ilustrasi
Oleh : Ainur Rofiq Al Amin
Saya diminta untuk omong-omong kepada para santri yang sudah tiba di pondok. Karena saya tidak biasa ngomong panjang, maka saya menyampaikan poin di bawah ini.
Era pandemi ini kalau aktif di medsos akan membaca penyebaran berita wafat yang tundo rambat (sambung menyambung); entah familinya, entah tokoh atau ulamanya ataupun teman dan tetangganya. Lalu kemungkinan besar akan dikaitkan dengan covid. Selanjutnya muncul sedih dan takut.
Kita ikut sedih atas kesedihan orang-orang yang update status tentang kesedihan itu. Terlebih lagi kesedihan kita juga tertuju kepada keluarga yang ditinggalkan. Mereka pasti perih, pedih ganda.
Lalu saya memberi wawasan kepada para santri.
1. Saya katakan, tidak semua ulama yang wafat karena covid. Tentu ada yang kena covid, namun ada orang yang tidak meyakini ulama itu kena covid.
2. Bila ulama atau mereka yang wafat kena covid, artinya mereka syahid (baca pernyataan PBNU dan MUI). Maka sangat mungkin sejak sebelum ada pandemi mereka punya cita-cita mulia ingin syahid.Tentu bukan mati syahid ala ISIS dkk.
3. Menunjukkan para ulama dalam menghadapi kematian biasa saja (saya berbaik sangka mereka telah berikhtiar protokol kesehatan). Hal itu juga bukti lain bahwa mereka adalah generasi pejuang yang dahulu dikenal siap perang melawan penjajah, biasa bertaruh nyawa.
4. Hal yang problematis dan punya efek psikologis saat tersebar berita meninggal di era covid (baik ulama maupun bukan ulama) adalah banyak kesedihan dan malah ketakutan berlebih. Saya dapat kisah dari seorang kepala Rumah Sakit bahwa ada seorang dokter yang takut sehingga protektif secara over, tapi malah meninggal duluan yang katanya kena covid.
5. Ketakutan yang berlebih selain menurunkan imun, bahkan mungkin iman, sehingga merasa selalu tidak aman, juga bisa terbetik ucapan, "Kapan giliranku kena covid" atau "Kapan giliranku meninggal karena covid".
6. Saya kira pikiran-pikiran di atas tidak bermanfaat dan malah berujung negatif. Lebih baik berpikiran, "Aku dahulu sudah kena covid karena pernah demam atau batuk dan sejenisnya, maka saat ini saya akan biasa saja sesuai protokol tanpa ada beban pikiran tambahan".
7. Adapun bayang-bayang giliran meninggal, hemat saya tidak usah "dipikir". Karena yang namanya manusia pasti akan meninggal. Entah lantaran kena apa, dan kapan waktunya. Bagi kita yang penting lelakon hidup yang baik dikerjakan sesuai kemampuan.
8. Bagi para santri apalagi yang berlatih pencak tetap tidak boleh jumawa. Kalian sehat tapi saat mendekat orang sepuh yang rapuh dan komorbid tetap pegang protokol kesehatan.
9. Mari kita doakan yang wafat (entah kena covid atau tidak), yang sakit, dan yang sehat dengan lahumul Fatihah..
10. Mari berdoa:
بسم الله الذي لا يضر مع اسمه شيء في الأرض ولا في السماء وهو السميع العليم
[يَااَللهُ الْأَعْظَمُ الْجَلِيْلُ الْاَكْبَرُ وَمُحِيْطٌ عَلى الْمَخْلُوقِ بِالْاَجْهَارِ (وَاكْفِنَا شَرَّ كُلِّ شَرٍّ3) بِحَوْلِكَ وَقُدْرَتِكَ الْاَكْبَرِ بِحَقِّ بِسْمِ اللهِ الْعَظِيْمِ الْاَكْبَرِلَاحَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ 10] (وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ مُحِيْطٌ 3)
***
Sore mendung dan hujan para santri pendekar tetap latihan.
Sumber : Status Facebook Ainur Rofiq Al Amin
Thursday, January 14, 2021 - 08:00
Kategori Rubrik: