Covid-19, Pandemi?

Oleh: Agni B Sugiyatmo

 

Sebagai seorang petugas kesehatan, yang mungkin bukan di garda depan covid, tetapi melayani berbagai pasien yang kemudian saya ODP atau PDP kan sesuai anjuran dari gugus tugas COVID. 

Selama dinyatakan area transmisi lokal, setiap pasien yang datang ke RS dengan keluhan demam atau riwayat demam langsung kita ODP kan terutama kalau pasien tersebut menunjukkan hitung limfosit absolut yang rendah atau rasio netrofil terhadap limfosit yang tinggi. Pasien kita data, kita edukasi untuk karantina mandiri dan kita laporkan ke dinas kesehatan untuk pengambilan sampel.

 

Begitu pula pasien yang menunjukkan gejala batuk dan sesak, di awali demam atau pun tidak, kita anggap ODP dan dilakukan pemeriksaan limfosit absolut, netrofil dan rontgen thorax. Dari hasil rontgen thorax, ada atau tidak ada infiltrat, pasien tetap kita anggap PDP sampai terbukti bukan.. Begitu terus, hingga detik ini. 

Dan hingga detik inipun tidak terjadi lonjakan pasien di IGD, di poli maupun di ranap. Bahlan cenderung sepi, dan pasien yang datang adalah mereka yg sdh tidak tahan dengan kondisi sakitnya, dan memang sebgian berakhir di ICU atau HCU. Beberapa pasien tidak bisa di selamatkan, dan mereka pun meninggal bukan karena COVID. Walau begitu setiap pasien kita cek limfositnya, netrofilnya dan kita rontgen.. Kalau ada curiga sedikit saja maka akan kita ODP atau PDP kan..

Dari sekian banyak yang saya ODP dan PDP kan baru beberapa gelintir yang rapid positif, dan hanya beberapa gelintir lagi diantara itu yang swab positif. Apakah karena RS saya bukan rujukan Covid? Satu memang menolak, tapi kewaspadaan covid tetap berjalan. Sedangkan satu lagi rujukan covid. Dua duanya tidak ada banyak kasus terkonfirmasi covid.

Dan aku lihat di wisma atlet, dengan daya tampung 24 rb orang, yang terisi berapakah..? Di awal mungkin 800 an.. Dan sekarang..? Mungkin hanya 400 an. Koreksi saat ini ada 737 konfirmasi positif dan total d rawat di sana sebanyak 839 orang. Bagaimana di pulau Galang? Dengan kemampuan bed 326 orang pasien, yang terkonfirmasi hanya 34 orang saja.

Kalau melihat situasi sekarang, bisakah dikatakan Indonesia ikut terdampak kesehatan pandemi covid?

Mari kita lihat definisi PANDEMI

Kalau menurut MEDICAL DEFINITION:
"An epidemic (a sudden outbreak) that becomes very widespread and affects a whole region, a continent, or the world due to a susceptible population. By definition, a true pandemic causes a high degree of mortality (death)"

Ada dua hal yang harus dipenuhi untuk dinyatakan pandemi:
1. Kejadian tiba tiba meluas, dalam waktu singkat kasusnya menyebar dengan cepat.
2. Menyebabkan mortalitas yang tinggi.

Sekarang sudah masuk bulan ketiga sejak kasus COVID terdeteksi pertama kali di Indonesia, pada awal Maret 2020. Dan kalau kita lihat grafik nya, kasus yang terkonfirmasi SARS COV2 persejuta penduduk di banding US dan Italia serta Spanyol masih sangat rendah. Begitupun angka kematiannya.

Dan lihatlah, data dari WORLDOMETER, kasus baru dari hari ke hari semakin menurun. Begitupula kematian yang terkait COVID. Sepertinya kita sudah melewati puncak "PANDEMI" di Indonesia.

Beberapa teman FB menginbox hasil rapidnya dan hasil beberapa teman lainnya. Dan alhamdulillah, banyak yang IgG nya positif dan IgM negatif.. Artinya apa.. Artinya mereka sudah sembuh donk.. Sudah ada kekebalan. Apalagi kalau hampir tanpa gejala, bisa di pastikan hasil swab PCR nya sekarang negatif, dan mereka dapat infeksi itu lebih sebulan yang lalu.

Virus dan kuman itu memang selalu ada dalam hidup manusia.. Apalagi sekarang manusia menginvasi berbagai hutan dan mendomestikasi berbagai hewan. Pastilah ada saja zoonosis yang lompat ke manusia. Pastilah yg lompat tidak saja SARS COV2 melainkan virus virus yang lain.

Indonesia amat sangat beruntung tinggal d daerah katulistiwa.. Karena limpahan UVA nya bisa merusak RNA virus ini, berikut segala kuman dan bakteri patogen lainnya. 

Yang berbahaya itu rumah rumah padat dan rapat yang tidak mendapatkan aliran udara segar dan sinar matahari langsung. Juga di dalam perkantoran, dalam sekolah, dalam RS yang hanya mengandalkan penerangan attifisial dan sistem udara tertutup ber AC.

So...

Pertanyaan utama saya kepada pembuat kebijakan negeri

1. Kapan anak anak bisa sekolah lagi? 
2. Kapan bisnis bisa di mulai lagi?
3. Kapan PSBB di cabut?

Mungkin bisa di lakukan hal hal berikut:
1. Anak anak sekolah awalnya bergantian masuk, menggunakan masker dan menjaga jarak d sekolah. Lebih banyak aktifitas d luar ruangan.
2. Melakukan berbagai penyesuaian di ruang ruang kantor, seperti menggunakan masker dan menyediakan sebanyak banyaknya tempat cuci tangan, melakukan desinfeksi UV rutin sesudah jam kantor. Membuka ventilasi bila memungkinkan. Masuk bergantian.
3. Kendaraan umum menggunakan masker, cuci tangan, dan disinfeksi dengan UV seperti yang dilakukan Cina sekarang, dan tentu dengan menjaga jarak.

Dan ke depan kita pasti akan menghadapi berbagai pandemi dan epidemi lainnya.. Ahli virologi bahkan mulai memperhitungkan SARS COV 3. 

Sekarang semua berlomba untuk menciptakan PAN vaksinasi utk semua jenis corona. Dan kalaupun vaksinasi itu kelak kita pakai, tentunya akan ada saja virus lain yang melompat ke manusia.

Mudah mudahan kasus pandemi ini akan memberi kita banyak pelajaran berharga. Tentang pentingnya imunisasi. Tentang pentingnya mencuci tangan. Tentang pentingnya menggunakan masker di muka umum. Tentang dampaknya yang begitu besar terhadap ekonomi makro dan mikro. Tentang banyak lagi.. Kalau kita mau petik pelajaran sih.. Semoga gak amnesia 

Anyway..

PSBB Bekasi ramai euy..
Bekasi hidup, jalanan macet.

Sebagian besar masker, sebagian kecil tidak..
Jaga jarak enggak juga sih.. Apalagi di pasar.. 

dan tetap tidak ada peningkatan kasus sakit apapun di rumah sakit.

 

(Sumber: Facebook Agni B Sugiyatmo)

Sunday, May 3, 2020 - 18:15
Kategori Rubrik: