Covid 19 Itu Politik

ilustrasi

Oleh : Erizeli Bandaro

Ada teman saya kepala Daerah sempat ngeluh kepada saya. “ PSBB itu SOP nya menghabisi anggaran. 80% anggaran habis hanya untuk team dari tingkat Dinas, Polri, TNI , Bupati, Camat, lurah. dan LSM. Hanya 20% yang bisa dirasakan lagsung oleh rakyat. Untuk tingkat 2 saja, sebulan bisa habis sedikitnya Rp. 40 miliar. Dari 80% anggaran itu tujuannya adalah untuk sosialisasi, supervisi, pengendalian program, dan evaluasi. “ katanya.
“ Hasilnya apa ?
“ Engga jelas. “
“ Kenapa ? Kata saya berkerut kening.
“ Kamu tahulah. Yang namanya program skala besar itu bukan pekerjaan sebentar dan mudah. Mengubah masyarakat disiplin sesuai SOP kesehatan dalam hitungan hari itu engga mudah. Apalagi dalam sistem demokrasi. Orang berhak marah dan protes. Walau hukum jelas atas pelanggaran. Apa ada yang masuk penjara gara gara melanggar PSBB? Katanya.
“ Jadi …”
“ Ya PSBB itu pekerjaan Utopia yang tak mungkin dapat terealisir. Engga ada negara yang sukses. Bahkan negara maju seperti Eropa dan AS, gagal kok. Jadi saya bisa katakan bahwa PSBB atau lockdown itu lebih kepada politik, bukan lagi bicara kesehatan atau ketakutan terhadap COVID-19. “ Katanya.

Saya membayangkan ratusan triliun uang habis dan hanya 20% mengalir ke rakyat. Derita dan nestapa rakyat yang kehilangan pekerjaan dan kehilangan pendapatan, tak bisa dibayar dalam bentuk apapun. Xi Jinping waktu datang ke Wuhan dan mendengar cerita dari penduduk yang ditemuinya.

Dia sempat berlinang airmata seraya berkata “ Kita akan segera menang menghadapi perang melawan Pandemi” Seminggu kemudian pemerintah pusat China memutuskan menghentikan Lockdown Wuhan. Bulan februari 2020 China memutuskan menghentikan PSBB bagi seluruh kota China. Kemenangan yang dimaksud oleh Xijingping adalah melepas belenggu rakyat dan focus kepada ekonomi.

Teman saya di China punya alasan apik “ Pejabat yang sehat akalnya pada akhirnya sadar bahwa politik itu harus menyehatkan akal rakyat, dan itu adalah ekonomi. Soal penyakit akan selalu ada dan hidup memang beresiko. Setidaknya pandemi ini pelajaran bagi kita semua untuk disiplin menjaga kesehatan dan berbagi. Tetapi memanfaatkan pandemi karena alasan politik itu kejahatan HAM terburuk sepanjang zaman.”

Mengapa Abas lakukan PSBB ini minggu depan ? Dia korban statistik dan sosial media. Karena hanya orang bodoh yang bisa kena wabah statistik dan sosial media. Yang pasti kwartal 3 ini Indonesia pasti terjun ke jurang resesi. Sedikitnya 15 juta orang kehilangan pekerjaan. Ada agenda besar dibalik ini semua. Politik memang kejam.”

Sumber : Status Facebook Erizeli Bandaro

Wednesday, September 16, 2020 - 08:30
Kategori Rubrik: