Covid 19 Isu yang Terlalu di Blow Up

ilustrasi

Oleh : Melanie Buitenzorgy

Saya bukan ahli virus. Tapi bahwa Covid19 itu fatal dan mematikan, itu realita dan common sense. Bukan sesuatu isu yang di-blow up untuk kepentingan apalah-apalah.

Ia sangat berbahaya karena penularannya sangat mudah, yang tertular bisa menjadi carrier tanpa gejala, bisa merenggut nyawa korban dalam hitungan minggu dan ia menyerang system pernafasan dengan cepat, obat dan vaksin belum ditemukan.

HIV, kanker, TBC juga mematikan, tapi butuh waktu cukup panjang hingga tahunan bagi penyakit2 ini hingga merenggut nyawa korban. Tingkat penularannya juga tidak semasif Covid19.

Efek yang paling berbahaya dari Covid19 adalah karena ia dapat membuat SANGAT BANYAK orang kritis dan meregang nyawa dalam waktu yang BERBARENGAN, dalam jumlah yang sangat jauh melebihi kapasitas rumah sakit.. Sifat khas wabah ini yang tidak dimiliki penyakit-penyakit yang saya sebut di atas.

Ingat keywordnya: SANGAT BANYAK dan BARENGAN.

Hal yang menjadi pembeda negara kita dengan US dan Eropa, dimana Covid19 merajalela dengan tingkat korban puluhan kali lipat adalah high temperature dan sinar matahari tropis. Apakah faktor ini berefek positif menahan laju penularan, belum terbukti secara ilmiah dan meyakinkan.

Satu lagi yang mungkin membantu adalah coverage vaksin BCG Indonesia yang mencapai 92%, mulai tahun 1972 diberikan pada bayi baru lahir. Vaksin BCG yang ditujukan sebagai vaksin penyakit TBC diduga dapat membantu imunitas thd Covid19. Namun masalahnya kelompok yang rentan Covid19 justru mereka yang lebih senior, alias lahir sebelum 1972. Imunitas pasca vaksin BCG juga terbatas, tidak lantas seumur hidup kita jadi kebal TBC.

Sementara, untuk faktor2 lain nyaris tidak ada yang menguntungkan: populasi padat, income per capita rendah, system kesehatan lebih lemah, sanitasi dan akses air bersih terbatas, higienitas rendah, disiplin masyarakat rendah, literasi rendah, birokrasi yang tidak efisien, mental korup pejabat, besarnya sektor informal, besarnya area kumuh/slump/ghetto di area perkotaan, etc etc. You name it lah. Dan satu lagi: masyarakat yang terpolarisasi.

Optimis boleh, tapi mari kita realistis.

Kalau ada ahli dan influencer yang masih keukeuh masalah Covid19 terlalu dibesar-besarkan, saya rasa ada masalah dengan common-sense mereka. No hard feeling.

Satu hal yang saya sangat perlu kritisi dari Bapak Presiden Joko Widodo adalah, beliau kurang memberikan sinyal sense of crisis pada masyarakat. Ketika nyaris semua pemimpin negara2 lain bolak-balik bicara pada rakyat pakai stabilo "We are NOT in good situation", beliau malah bicara "Pandemi ini pasti selesai akhir tahun, dan tahun depan pariwisata booming".

Di masa penuh ketidakpastian seperti ini, pemimpin tertinggi harusnya bicara hal-hal yang terukur. Dan ini adalah kunci public trust.

Sumber : Status facebook Melanie Buitenzorgy

Sunday, April 19, 2020 - 11:00
Kategori Rubrik: