Covid 19 Ditengah Dikotomi Sains & Agama

ilustrasi
Oleh : Erta Priadi Wirawijaya
Dulu di madrasah, guru saya selalu mengatakan bahwa jangan memisahkan ilmu agama dan ilmu "umum" atau sains sebagai ilmu akhirat dan ilmu dunia sehingga ya harus dipelajari kedua-duanya, meskipun kenyataannya sering tidak dijalankan secara konsekuen: ada yang prioritas belajarnya lebih condong ke ilmu agama dan sebaliknya, ada yang prioritasnya lebih pada sains.
Sehingga diakui atau tidak, seringkali kita menjumpai pertentangan dan perdebatan atas nama agama dan sains ini.
Dan fakta sejarah agama manapun juga senada : selalu ada riwayat pertentangan yang seolah abadi antara agama dan sains.
Saya kira memang kita tidak boleh berpura-pura pertentangan itu tidak ada. Galileo dan gereja, atau Ibnu Rusyd dan Imam al-Ghazali, adalah salah satu bukti sejarah bagaimana pertentangan itu pernah begitu sengit.
Paling tidak ada 3 perbedaan karakter antara agama dan sains yang menyebabkan dikotomi itu tidak perlu dipungkiri memang ada.
Perbedaan pertama: Agama harus berawal dari Keyakinan. Iman, berarti meyakini sesuatu, tanpa reserve. Setitik keraguan saja, akan membuat Sang Beriman akan sangat cemas bahwa ia telah melakukan dosa besar sehingga berisiko tak akan lolos skrining masuk surga.
Sains sebaliknya, harus berawal dari skeptisisme dan hipotesis. Sains selalu meragukan sesuatu, sampai akhirnya bisa membuktikan yang namanya sesuatu itu memang sesuatu. Berbeda dengan agama, dogma adalah sesuatu yang tabu bagi sains.
Memang bukan mustahil menyatukan dua perbedaan ini, tetapi mencari titik temu dua hal tersebut sering sesulit dan sekompromistis menghitung bintang di langit : tidak jelas jumlah pastinya, tapi semua sepakat: pasti banyak. Dan semua puas.
Perbedaan kedua: kebenaran sains, adalah kebenaran empiris. Artinya, suatu kebenaran akan disepakati menjadi kebenaran bila dapat dibuktikan secara sistematis, reliabel (artinya dengan cara yang sama setiap orang siapapun dia akan menyaksikan fenomena yang sama juga), dan tertangkap oleh indra.
Saya sementara tidak menggunakan definisi operasional sesungguhnya dari sains yaitu sesuatu yang harus logico-empirico-verifikatif. Ini karena dua definisi terakhir, empirico-verifikatif, lebih mudah dilakukan, sementara definisi pertama, logico, jauh lebih susah.
Semua orang di era medsos ini merasa telah berpikir logis meskipun sebenarnya tidak, dan berbantah-bantahan tentang hal ini di medsos tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Kalau anda merasa benar dan ada yang ngeyel dan anda nilai logikanya salah, sebaiknya jangan membantah. Cukup hanya tertawa, dan umumnya perdebatan selesai.
Karena yang harus kita tanamkan dalam mindset: penghargaan tertinggi kepada pelawak hanyalah dengan menertawakannya.
Masalahnya, ternyata masih banyak fakta yang belum mampu secara empiris diungkap oleh sains, sehingga keyakinan agama lebih sering memberikan jawaban yang memuaskan bagi pemeluknya untuk pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab oleh sains itu.
Begitu pula, kebenaran empirik sains ternyata berubah-ubah bila ternyata ada fakta baru yang ditemukan, sehingga seringkali kebenaran sains hari ini mungkin bakal jadi lelucon di masa depan.
Bagaimana agama dapat memberikan jawaban memuaskan bagi pemeluknya, adalah karena kebenaran agama, berbeda dengan kebenaran sains, sifatnya (harus) absolut. Bukan empiris sebagaimana halnya sains. Karena begitu diupayakan membuktikan kebenaran agama itu secara empiris, maka kebenaran itu akan menjadi saintifik.
Secara personal absolutisme kebenaran agama ini tentu akan menenangkan hati tiap individu yang religius, meskipun di sisi lain jawaban atas kebenaran tersebut sangat mungkin berbeda-beda karena bersifat dogmatis dari sudut pandang keyakinan masing-masing. Tak jarang perbedaan ini menyebabkan pengalaman traumatis antar pemeluk agama, meskipun sains sering juga dihadapkan pada berbagai perbedaan dari para pendukungnya.
Sehingga hal ini menyebabkan perbedaan ketiga dari agama vs sains: Agama pada akhirnya seringkali jadi curiga pada sains, sementara sains seringkali jadi alergi terhadap agama.
Hal ini juga terjadi di saat pandemi covid-19 ini, ketika pandemi ini dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda, ada yang melihatnya dari sudut pandang agama , ada yang melihatnya dari sudut pandang sains, yang pada gilirannya menjadi salah satu penyebab terjadinya polarisasi di tengah publik.
Meskipun sebagaimana grafik distribusi normal di populasi, titik ekstrim dari kedua kutub itu selalu minoritas di kiri dan kanan, sementara spektrum yang mayoritas adalah yang akomodatif.
Dan karenanya, mengakomodasikan dogma agama dan hipotesis sains mungkin lebih membangun resiliensi pada suatu krisis yang menyebabkan benturan antara agama dan sains tersebut. Di satu sisi percaya bahwa sains menawarkan upaya empiris cara menghadapi pandemi yang logico-empirico-verifikatif, , sementara di sisi lain juga percaya bahwa hasil akhirnya tetap ada di tangan Tuhan.
Ini keyakinan sekaligus hipotesis saya.
Sumber : Status Facebook Erta Priadi Wirawidjaja
Saturday, February 20, 2021 - 11:45
Kategori Rubrik: