Covid 19 Bukan Virus Tapi Exosome

ilustrasi

Oleh : Abdul Munib

Pace Yaklep : Bisa jadi dokter Kaufman lebih masuk akal. Karena dalam swab itu ada setidaknya tujuh materi : dahak, sel paru-paru, sel imun, bakteri, jamur, materi genetik bebas (MGB) dan exosome. Masing-masing dari dorang tujuh itu de punya DNA atau RNA. Jadi
kalau tidak dimurnikan dulu virusnya, - dengan difiltrasi dan disentrifugasi, agar virus terisolasi dulu, berarti kam sebenarnya sedang tes yang mana dari tujuh material dalam wadah inang itu.

Begini saja ada seorang peneliti ilmiah ahli bakteri ekoli yang menyebabkan disentri. Dalam satu ember itu campur kotoran tujuh manusia. Ketika dites ada bakteri, itu dari kotorannya siapa dari nama tujuh orang itu. Tidak bisa dipukul rata semua sakit disentri. Seharusnya dipisah dulu supaya hasilnya jelas. Kaufman kira-kira metode berfikirnya begini. Makanya di Tanzania atas perintah Presidennya, domba, kambing dan pepaya positif Kofit Sanga Las. Antara alat tes yang kaliabo atau materinya yang sembarang. Begitu Bong. Dokter Kaufman dia juga kuliah bayar pakai uang, bukan daun sirih. Dia berani berargumentasi dengan Ilmuwan WHO.

Bung Cebong : Ko deng ko pu Kaufman dan Presiden Tanzania, memang aneh. Jadi yang mati banyak di media itu sakit apa kalau bukan Kopit-19.

Pace Yaklep : Orang mati ya mati saja. Apa ada orang yang hidup terus di dunia ini. Kaufman hanya mengajak kita berargumentasi. Kalau antara barang ini dan SARS-Cov2 ada 75 persen persamaan urutan genetiknya, lalu disimpulkan barang ini pasti mutasi genetika dari korona. Lalu bagaimana dengan urutan genetik manusia dan Ikan Zebra yang 80 persen sama. Apa bisa langsung dikatakan manusia adalah IkZeb-20 begitu ? Kamu mau nenek moyang Darwin ka, ikan zebra ka terserah sa tidak. Nenek moyang saya Adam saja.

Dul Kampet : Berarti yang bikin mati banyak itu barang apa ?

Pace Yaklep : Bisa apa saja. Ada akibat pasti ada sebab. Itu kaidah kausalitas sumber ilmu pengetahuan. Ada kau, karena ada ko pu bapak deng mama. Siapa dia, itu yang tidak boleh keluar dari kaidah rasional yang sudah ada. Kebenaran ilmiah tidak bisa diklaim milik sebuah lembaga, termasuk WHO. Dia ada tapi wabah ada, berarti dia gagal sebagai organisasi kesehatan. Suruh rubah saja jadi organisasi intellejen. Kalau rakyat dunia sehat, berarti WHO berhasil.

Wan Bodrex :Jadi menurutmu kita semua sudah dapat tipu begitu. Atau seandainya kita semua dapat tipu, trus kita bagemana Klep ?

Pace Yaklep : Kam semua jang serang saya. Baca sendiri argumen Kaufman sudah :
Pernahkah kamu bertanya-tanya, kenapa kok jumlah kasus dan pasien Covid-19 yang meninggal dunia terus bertambah? Kenapa hasil tes polymerase chain reaction (PCR) tak akurat ya. Menurut pakar biologi molekuler asal Amerika Serikat, Dr. Andrew Kaufman, hal itu semua disebabkan prosedur cacat menentukan Covid-19 yang dilakukan ilmuwan selama ini. Ya pantas saja korban Covid-19 terus bertambah, prosedur penentuan Covid-19 sejak awal cacat prosedur.

Beberapa dari kamu, mungkin saja belum ada yang pernah menndengar nama Andrew Kaufman. Untuk informasi Kaufman merupakan ahli pada bidang Biologi, Kedokteran, Onkologi sekaligus Psikiatri, dan jebolan Medical University of South Carolina serta Massachusetts Institute of Technology, kampus kelas dunia.

Kaufman membongkar prosedur cacat menentukan virus Covid-19 dalam sebuah wawancara yang ditayangkan platform Londonreal.tv.

Kaufman mengatakan dia telah meneliti dan menganalisis semua dokumen yang diklaim sebagai bukti adanya Covid-19, termasuk dokumen pengujian ilmuwan yang menentukan ada spesies baru, yang belakangan dinamakan Covid-19.

Dalam investigasinya tersebut, Kaufman menemukan ada beberapa temuan yang mengejutkan lho. Pertama, virus corona bukanlah penyebab penyakit baru-baru ini yang meneror warga dunia. Kedua, tak ada bukti Covid-19 meningkatkan kematian, sebab hasil analisis penelitian penentuan Covid-19 ternyata cacat prosedur yang fatal.

Prosedur yang cacat dalam penentuan Covid-19 yakni ilmuwan yang meneliti Covid-19 tidak memurnikan virus dari inangnya. Jadi peneliti cuma mengambil urutan genetik, bisa DNA atau RNA dari inang, bukan dari virusnya. Pantas saja jadi kacau balau, menurut Kaufman. Inang itu ibarat tong sampah, yang berisi banyak ragam objek.

Dia mengatakan dalam kasus pengambilan sampel material genetik pasien Covid-19, ilmuwan mengambil sampel dari swab oral dan swab tenggorokan yang sampai menuju paru-paru. Tahu enggak, menurut Kaufman, sampel yang diambil itu berisi ragam objek lho, belum murni virus. Sampel itu berisi mulai dari dahak, sel paru-paru, sel imun, bakteri, jamur, materi genetik bebas dan exosome. Semua materia genetik itu punya DNA dan RNA.

Menurutnya, prosedur yang seharusnya dilakukan ilmuwan yaitu setelah mengambil sampel cairan dari paru-paru pasien, langkah berikutnya memurnikan virusnya dulu dengan difiltrasi, disentrifugasi untuk mengisolasi virus. Bukan asal main comot RNA dari sampel materi genetik yang belum dimurnikan.

Ternyata bukan Covid-19 tapi exosome
Kaufman mengaku telah menguji pemurnian dari sampel orang yang terkena Covid-19 dan hasilnya mengejutkan lho. Ternyata yang selama ini diduga Covid-19 bukanlah virus, melainkan exosome.

Buat kamu yang belum tahu, exosome dan virus punya kemiripan karakteristiknya sampai ukurannya. Ndaru Anugerah dalam website-nya menuliskan, menurut penjelasan Kaufman, exosome tidak membayakan tubuh tapi sebaliknya justri memberi manfaat bagi kesehatan manusia dengan memfasilitasi penyembuhan. Ndaru menuliskan, exosome dieksresikan sel-sel tubuh saat melawan racun dan materi biologi lainnya.

“Exosome akan mengeluarkan racun dari sel-sel yang sakit dan memberi perintah kepada tubuh untuk membentuk sistem kekebalan guna menyerang penyebab penyakit,” ungkap Kaufman.

Semua kondisi yang melemahkan sistem tubuh, akan memicu tubuh mengeluarkan exosome. Nah jadi ketahuan kan, ilmuwan selama ini mengira mereka bukan mematikan virus tapi, menurut Kaufman, mereka mematikan exosome tubuh yang dibutuhkan. Efeknya jelas, sistem imun pasien makin anjlok. Jadi nggak aneh kalau sedikit-sedikit sekarang banyak kasus Covid-19.

Kaufman mengatakan, dampak dari prosedural penentuan virus yang cacat itu membuat hasil tes PCR jadi tak akurat.

Kaufman membongkar keanehan lain dari penetuan virus Covid-19. yang dilakukan ilmuwan sejauh ini adalah menentukan urutan genetik dari sampel cairan yang diambil dari paru-paru. Dari sampel itu, urutan genetiknya 75 persen sama dengan urutan genetik virus SARS atau virus corona. Kaufman mengkritik, lalu dengan dasar tersebut, ilmuwan berkesimpulan sampel itu adalah virus corona baru yang belakangan dinamai Covid-19.

Sementara dalam urutan genetik manusia dengan urutan genetik ikan zebra itu 80 persen sama lho. Tapi kenapa spesies ikan itu dengan manusia dibedakan?

“Hanya berdasarkan urutan genetik yang kurang lebih 80 persen sama dengan SARS untuk mengatakanbahwa itu adalah virus corona, itu adalah sains yang sangat lemah. Tanpa memurnikan sampel cairan paru-paru Anda benar-benar tidak tahu itu RNA siapa,” jelas Kaufman.

Sumber : Status Facebook Abdul Munib

Friday, May 22, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: