Corona's Tik Tok

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

(Itu Hasil Karya dan Kerja-mu, Dok !)

Sehabis buka sekitar jam 7 malam kurang sedikit, ada 'tontonan' di televisi yang sempat bikin saya mbrêbês mili. Bukan nangis sedih. Tapi haru dan bangga . . .

Sempat beredar di medsos, ada foto seorang Dokter atau Perawat Wanita, tangannya memegang selembar kertas atau karton bertuliskan, 'Indonesia Terserah !'.

Para relawan garda depan hadapi pandemi Covid19 itu pada menyerah ? Putus asa ?

Saya kira tidak. Bukan kelas mereka untuk lakukan itu. 'Sumpah profesi' mereka tetap pegang teguh. Mereka hanya jengkel atau mungkin bahkan marah !

Betapa tidak, ditengah jutaan warga lain rela 'menyepi diri', ribuan Relawan berjibaku mati-matian, Pemerintah peras pundi2 uangnya, untuk penyangga sosial bagi para terdampak krisis ekonomi, ada yang berlaku tak tepat. Tak elok bahkan kurang ajar . . .

Ratusan rela orang berkerumun, berdesakan, berhimpitan, cuma untuk nonton dan ikuti 'countdown' penutupan sebuah gerai restoran cepat saji penjual ayam goreng.

Tak patuhi aturan jaga jarak. Tak ada satu pun aparat pemda atau keamanan yang bubarkan. Padahal 'acara' berlangsung di pinggir jalan protokol dan kawasan yang sohor . . .

Tak selang berapa lama tersebar foto2 tumpukan calon penumpang di Bandara Soetta. Sama. Tak acuh aturan social physical distancing. Malah ada foto dalam pesawat penuh penumpang yang pakai masker. Duduk berdempetan . . .

Belum lagi kemungkinan munculnya klaster2 baru akibat kesombongan dan kebodohan sekelompok orang.

Tak heran jika para Dokter, Perawat, dan Para Sukarelawan, jadi sedih campur baur dengan marah. 'Sampai kapan usai . . . ?'

Setiap hari selain melihat paparan jumlah tambahan kasus positif Corona, ada data yang lebih menarik minat saya. Data pasien yang dirawat.

Ini hasil 'pengurangan' kasus positip dengan pasien sembuh dan meninggal. Sedang selisih pasien wafat dan sembuh makin besar. Pasien sembuh tiga hari berturut-turut rerata 200 orang.

Sayang temuan baru belum juga ada tanda2 menurun. Tiga hari berturut-turut 300-an, 500-an, bahkan 600-an. Jadi yang dirawatpun jadi kian hari kian ikut membengkak juga jumlahn
-nya. Data tadi sore 11.445 orang.

Jumlah relawan total sekitar 29 ribuan. Belum jelas Dokter berapa, Perawat berapa, operator laboratorium berapa, dan lain-lain. Ndak tau masih ideal kah perbandingan jumlah pasien dengan relawan.

Yang pasti kenaikan jumlah temuan baru lebih banyak dari kenaikan jumlah relawan baru . . .

Harapan kita semua, harusnya tugas 'kontrol' laju kenaikan kasus ada di tangan kita, warga yang diluaran. Dengan tertib jaga jarak, diam di rumah, dan lain-lain. Pemerintah yang kontrol tingkah laku kita.

Sedang tugas kontrol kenaikan 'kesembuhan' ada di tangan dokter dan para relawan. Selain juga, peran serta aktif si pasien yang terpapar virus. Kedua pihak ini harus tetap kuat dan semangat. Dan ini sudah mereka buktikan. Yang sembuh makin hari makin banyak.

Sayangnya kita yang 'diluar', sebagian ada yang acuh tak acuh, meremehkan, bahkan ndak etis alias kurang ajar. Hingga tiap hari makin bikin naik menanjak angka temuan . . .

Kalau para Relawan beneran 'ngambul', marah merajuk, lalu para pasien ditinggal pulang, bagaimana ?

Tontonan di televisi yang bikin saya mbrêbês mili itu ada 2 tayangan video. Satu perlihatkan seorang 'mantan' pasien Corona yang berhasil sembuh. Dari Gunung Kidul, Jogyakarta.

Pulang ke rumah sengaja berjalan kaki. Sampai depan rumah, dia sujud mencium jalan tanah. Yang mengharukan, di sepanjang jalan berdiri tetangga menyambutnya. Bak pahlawan baru pulang dari medan perang.

Atau memang perang, atau pertempuran melawan rasa putus asa, rasa takut, berbekal semangat dalam pasrah, pertahankan nyawa-nya dengan gigih. Dan berhasil . . .

Di tayangan kedua, tampak 8 atau 9 orang, juga mantan pasien Covid19. Dari Batam. Berbaris ke belakang. Begitu terdengar suara musik, mereka serempak lakukan 'tarian' Tik Tok.

Sambil berjalan keluar ruang. Masih dengan balutan baju pasien warna biru. Seakan secara simbolik keluar pulang kembali ke rumah, ke keluarga.

Lucu gayanya. Menari dan melangkah patah2. Di sepanjang koridor nampak beberapa orang mengabadikan momen itu dengan tustel atau kamera hp. Sungguh meriah. Sungguh mengharukan . . .

Sesungguhnya mereka memang patut senang dan bahagia. Sesungguhnya mereka telah menang melawan diri sendiri. Bukankah diri pribadi musuh yang paling tangguh ?

Dokter, Perawat, Para Relawan semua, mungkin ada diantara kami ada banyak yang membuat para Sampeyan sedih dan marah.

Tapi percayalah, lebih banyak dari kami yang peduli. Sayangi nyawa kami juga nyawa orang lain.

Andai para sampeyan juga nonton tayangan itu, tentu akan ikut merasa bahagia seperti kami.

Bahkan pasti lebih bahagia dari kami yang diluar, bukankah para sampeyan yang selama ini mendampingi dan merawat mereka ?

So, para Sampeyan Relawan, tetap semangat, tetap semangat.

Jangan bersedih apalagi marah. Dan yang penting, jangan tinggalkan kami . . .

Tabek . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Friday, May 15, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: