Corona, Wong Cilik dan Buah Simalakama

ilustrasi

Oleh : Wahyu Sutono

Seperti inilah nasib wong cilik yang hidupnya bergantung pada kerja harian. Bila tak kerja sehari, itu artinya tak makanlah ia untuk keesokan harinya. Jadi bisa dibayangkan bila tak kerja selama 2 minggu, berarti ia beserta anak istrinya akan dihadapkan pada kesulitan yang paling mendasar, yakni makan.

Karenanya, jangankan untuk satu negara, untuk satu kota saja bila diberlakukan kebijakan lockdown, maka otomatis ada jutaan anak manusia yang kelaparan dan sengsara. Terlebih bila penanganan pandemik Covid-19 tak tuntas hanya dalam waktu 2 minggu, maka perpanjangan waktu akan membuatnya menjadi kesengsaraan yang berujung maut.

Karenanya, siapa pun pemimpinnya baik pusat maupun daerah tentu akan dihadapkan dengan kebijakan yang sangat sulit, sebab bagai buah si malakama. Dimakan ibu mati, tak dimakan bapak mati. Kebijakan pemerintah agar bekerja di rumah, belajar di rumah, dan ibadah di rumah membawa konsekuensi seperti yang dialami Ginanjar yang menggantungkan hidupnya dari mengais rupiah sebagai supir Ojol.

Kebijakan pemerintah DKI Jakarta yang berlaku mulai Senin adalah langkah positif dalam rangka menekan penyebaran Covid-19 di Jakarta yang penderitanya semakin banyak. Betapa pun pahitnya, ini merupakan kebijakan yang terbaik ketimbang lockdown. Sebaliknya bila pemerintah hanya menimbang para pekerja harian yang jumlahnya cukup besar, jelas risiko bertambahnya warga yang terpapar akan semakin besar dan meluas.

"Yang penting bahwa saat ini adalah kebijakan tersebut berlaku dan dijalankan secara konsisten dan dikontrol secara ketat, serta tidak ada lagi kebijakan blunder seperti saat pembatasan transportasi dan pasar murah yang berakibat berkerumunnya banyak orang, yang tentu berpotensi saling menjangkiti virus. Begitu pun saat memberikan pengarahan pada walikota, camat, dan lurah dalam satu ruangan tentu bukan contoh yang baik."

Akhirnya semua pigak hanya bisa berdoa agar kiranya perang melawan Covid-19 bisa segera dimenangkan, sambil berharap warga masyarakat seperti halnya Ginanjar mendapat jalan keluar yang terbaik. Tentu akan lebih baik lagi bila pemerintah provinsi dapat memberi kompensi sekedarnya, yang penting dapat menyambung hidup sambil tetap bisa ikut mendukung kebijakan pemerintah.

Doa kami untuk kesehatan bangsa ini

Sumber : Status Facebook Wahyu Sutono

Monday, March 23, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: