Corona dan Clikbait Media

ilustrasi

RedaksiIndonesia-Pemberitaan tentang Corona dibelahan dunia manapun sedang menyita perhatian publik. Wajar saja karena memang penyakit baru dan penyebarannya masif. Tak terkecuali di Indonesia yang pada Selasa (10/3) kemarin diumumkan secara resmi ada 27 orang suspect. Ada beragam kekhawatiran publik yang takut tertulari dan resikonya kehilangan nyawa.

Padahal dalam berbagai media, ada banyak penyakit lain yang sebenarnya jauh lebih membahayakan dan tingkat kematiannya tinggi namun karena kurun waktu, masyarakat sudah tidak mempedulikannya. Di Indonesia yang termasuk kategori kematian tinggi ada TBC, Demam berdarah hingga kecelakaan. Padahal untuk Corona ini baru ada 3 kasus saja yang meninggal. Namun masyarakat khawatir karenanya. Pemerintah sendiri sudah mengambil langkah serius terkait penyebaran Corona. Bukan hanya menanggung biaya, isolasi pasien tetapi juga upaya pencegahan dilakukan.

Pemerintah tidak tinggal diam dan tahu betul efek virus yang muncul dari Wuhan China ini menjalar ke sektor lain. Disisi lain, perkembangan teknologi juga menjadikan masyarakat bisa mengakses informasi dari manapun.

Minimnya tingkat literasi dan mudahnya akses informasi menjadikan banyak pihak turut bermain di isu ini. Termasuk didalamnya memainkan judul berita hanya demi rating. Ya sebutannya click bait, hanya untuk mengejar click, demi pundi-pundi ada media yang menurunkan berita dengan judul bombastis meski isinya jauh berbeda dengan judulnya. Mereka tahu betul bila publik sedang gelisah terkait hal ini. Kegelisahan publik bisa terlihat dari panik buying pada barang yang dikira bisa mencegah persebaran Corona meski sebenarnya tidak.

Sebut saja melenyapnya hand sanitizer, mahalnya masker, naiknya harga jahe dan lainnya bisa jadi indikator tentang itu. Seharusnya media mampu meredakan ketegangan, melenturkan pemberitaan dan mendukung upaya-upaya yang dilakukan pemerintah.

Media tahu bahwa penjualan edisi cetak saat ini sudah tidak memungkinkan lagi. Publik sudah mengandalkan online. Sehingga mereka kemudian memainkan berita melalui online. Harapannya semakin banyak klik, maka semakin banyak pundi-pundi yang mengalir. Dalam ilustrasi foto di artikel ini bisa dilihat bahwa judul-judul berita itu akan merangsang publik membacanya. Apalagi "menjual" tokoh yang terkena Corona. Bukan hanya Paus, tapi yang terbaru Menteri Kesehatan Inggris juga harus menjalani isolasi karena dugaan suspect Corona.

Kita sebagai masyarakat berhak menuntut media menyampaikan berita bukan hanya seimbang namun juga yang merangsang nalar logika kita bekerja secara baik. Bukan malah memberi judul berita yang bombastis sehingga terdorong rasa was-was besar yang muncul. Tanpa itu semua, ketenangan publik dan penanganan Corona yang dilakukan pemerintah akan terbuang sia-sia. 

Penanganan Corona di Indonesia harus dilakukan dengan baik bukan hanya oleh pemerintah, masyarakat, pihak yang berkepentingan namun juga media.

Wednesday, March 11, 2020 - 13:45
Kategori Rubrik: