Contact Tracing Covid-19 Menggunakan Aplikasi Mobile

Oleh: Raizzo Izin

 

Diluar issue kecurigaan tentang ketidakterbukaan pemerintah China terkait data kasus positif CoVid-19 di China yg real, dunia mengakui keberhasilan pemerintah Komunis China dalam mengendalikan pandemi CoViD-19 di China. 

Setidaknya ada 12 langkah tegas yg diambil oleh pemerintah Komunis China untuk mengendalikan coronavirus. Kedua belas tindakan ini bisa bekerja dengan baik di China tetapi kemungkinan besar sulit untuk diterapkan di negara lain. 

 

Salah satu langkah yg diambil oleh Pemerintah Komunis China adalah menggunakan smartphone apps untuk melakukan contact tracing. China menggunakan teknologi yang bertujuan untuk melacak setiap kasus COVID-19 di China.

Langkah ini kemudian diikuti oleh Korea Selatan, Singapore, Hong Kong and Taiwan. Salah satu monitoring apps yg leading di China adalah Alipay Health Code, buatan China Electronics Technology Group Corporation. Produk Alipay ini yg kemudian dipakai sbg aplikasi untuk melakukan mobile contact tracing.

Aplikasi Alipay bekerja dengan cara melakukan logging geolocation masing² pengguna mobile phone secara private dan kemudian membandingkan geolocation tersebut dengan data yg dirilis otoritas kesehatan mereka. 

Jika lokasi pengguna berada dekat dengan salah satu orang yg sdh ditandai sbg ODP atau PDP atau secara historis pernah berada di kerumunan yg terpapar CoViD-19, maka aplikasi tersebut akan memberikan warning dengan menyalakan kode merah di aplikasinya. Jika warna merah menyala maka secara mandatori pemilik/pengguna HP tsb akan diperintahkan memeriksakan dirinya ke RS agar dikarantina. Hanya pengguna gadget yg aplikasi contact tracingnya menyalakan kode warna hijau lah yg diijinkan menggunakan fasilitas publik. Aplikasi ini telah berhasil melacak posisi lokasi puluhan ribu orang yg dicurigai telah terpapar virus CoVid-19.

Pusat tanggap darurat di China yang melacak virus di seluruh negeri menggunakan layar monitor yang besar untuk memonitor setiap cluster pergerakan orang di China. Para petugas yg berwenang melacak di mana saja kasus menyebar. Mereka mengontrol pergerakan transmisi virus dengan memonitor secara digital.

Strategi ini dinilai sebagai intervensi kesehatan masyarakat yang sangat efektif, murah, dan sangat mendasar dibandingkan sekedar social distancing dan physical distancing yang diperluas, yang dirasa lebih memberatkan dan tidak berfungsi jika tidak ada budaya yang mendukung. Namun langkah semacam ini oleh sebagian orang dianggap sebagai bentuk otoriterisme digital, dimana terjadi pelanggaran privasi. Langkah seperti ini dianggap sulit diterapkan di negara² liberal. Namun sebagian pengembang aplikasi berpendapat bahwa aplikasi semacam ini bisa dikembangkan dengan bentuk "anonymous contact tracing". Jadi identitas pengguna HP tidak bisa diketahui oleh orang lain, termasuk oleh petugas yg berwenang. Petugas dan pengguna HP yg lain hanya bisa mengetahui lokasi pemilik HP lainnya dan akan menerima notifikasi jika di dekatnya ada orang yg diidentifikasi pernah terpapar virus CoViD-19. Notifikasi tsb memberi warning kepada pihak lain agar menjaga jarak dengan lokasi target orang yg diduga telah terpapar virus, dan bagi petugas agar bisa lebih mudah melakukan tindakan terhadap orang² yg telah terinfeksi tsb.

Singapura telah mengembangkan aplikasi sejenis, namanya TraceTogether. Cara kerja TraceTogether agak berbeda dengan cara kerja Alipay. Cara kerja TraceTogether basisnya adalah proximity (jarak jangkauan) deteksi bluetooth equivalent dengan jarak physical distancing yang ditetapkan oleh otoritas kesehatan.

Jika aplikasi seperti ini telah berhasil dikembangkan di China, Singapura, Korsel, Hongkong dan Taiwan, bagaimana dengan di Indonesia ?

Seharusnya Indonesia jg bisa mengembangkannya. Kita punya unicorn lokal yg core bisnisnya pada intinya juga melakukan pelacakan geolocation orang. Perusahaan itu adalah Gojek, yang bisnis utamanya adalah transportasi online.

Kita lihat skrinsyut yg saya lampirkan (aplikasi Gojek dan GrabBike). Dalam skrinsyut tsb kita bisa lihat di sekitar lokasi kita ada beberapa pengemudi gojek yg sedang standby. Dengan algoritma yg sama yg dipakai untuk mendeteksi keberadaan para pengemudi, bisa pula dimanfaatkan oleh pemerintah untuk bekerjasama dengan Gojek guna mengembangkan aplikasi Contact Tracing. Dengan algoritma milik Gojek, pengguna aplikasi juga bisa melakukan tracing, secara histori pernah pergi kemana saja, naik apa, ketemu siapa, berapa lama, dsb. Dengan data histori ini dengan mudah bisa ditrace apakah yang bersangkutan pernah berhubungan / berinteraksi dengan orang lain yg telah terpapar virus.

Kenapa pemerintah perlu bekerjasama dengan Gojek ? Karena Gojek telah memiliki database yg cukup besar dan telah memiliki pengalamam cukup panjang dalam menjalankan core bisnis pelacakan (tracing) pergerakan orang (pelanggannya). Apalagi salah satu ownernya sekarang menjadi bagian dari pemerintah.

Pemerintah juga bisa mengembangkan aplikasi contact tracing sendiri dengan menyewa API-nya Google Maps. Kenapa perlu kerjasama dengan Google Maps ? Karena saat ini Google Maps adalah aplikasi Digital Maps yg paling reliable. Bahkan Gojek, Grab, Uber, juga menyewa API-nya Google Maps untuk mensupport aplikasinya.

Dengan google maps, kita sebenarnya juga bisa melacak history perjalanan kita tidak hanya beberapa hari ke belakang. Bahkan beberapa bulan hingga beberapa tahun ke belakang, yg kita sendiri sudah lupa perjalanan kita dari menit ke menit. Semua data histori pergerakan masing2 pengguna Google Maps tersimpan di servernya Google. Kita pernah pergi kemana saja, naik apa, berapa lama di perjalanan, berapa lama di titik tujuan, di tempat tujuan berinteraksi dengan siapa saja, dsb, semua histori data perjalanan kita dari menit ke menit tersebut dapat ditrace, seperti skrinsyut yg saya lampirkan.

Jadi kenapa pemerintah tidak mencoba mencontoh China, Korea Selatan, Singapura, Taiwan, Hongkong, dengan mengembangkan sendiri aplikasi contact tracing untuk memonitor penyebaran CoViD-19 di Indonesia ? Jika pemerintah kawatir melanggar privacy warga negaranya, toh bisa dikembangkan aplikasi "anonymous contact tracing", sehingga pemerintah tidak sampai perlu melakukan intersepsi data private masing² pengguna gadget. Yang penting pemerintah bisa memonitor pergerakan penyebaran virus CoViD-19 di Indonesia, sehingga akan lebih mudah dalam mengendalikan penyebarannya.

 

(Sumber: Facebook Raizzo Izin)

Monday, April 6, 2020 - 12:30
Kategori Rubrik: