Collateral Damage

ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Pernah nonton serial "In Treatment" di HBO? Episode ke-2 musim pertama, kalau gak salah, berkisah tentang anggota pasukan khusus Amerika Serikat. Dia tidak pergi medan tempur melainkan duduk di belakang meja, di hadapan monitor, mengarahkan drone ke kawasan tempur, ke target yang dibidik, dan menghamburkan peluru atau bom.

Satu kali dia diperintahkan menjatuhkan bom ke sebuah bangunan. Informasi tepercaya dari satuan intel memastikan bahwa di bangunan tersebut bercokol puluhan mujahidin. Tanpa ragu si operator drone mengarahkan pesawatnya ke sana melalui monitor. Ketika sudah berada dalam jarak picu, dia menjatuhkan serenceng bom.

Esok hari tersiar kabar, 16 anak madrasah tewas di dalam bangunan tersebut.

Di tempat praktiknya, psikiater bertanya lembut: "apakah Anda datang ke sini untuk mendamaikan perasaan bersalah karena telah menewaskan 16 anak tak berdosa?"

Si prajurit tersenyum tipis. "Tidak, saya tidak merasa bersalah sama sekali. Tugas saya adalah menjatuhkan bom. Perintah datang dari atasan. Dia yang seharusnya memastikan bahwa bangunan yang akan dihabisi memang menyimpan laskar mujahid. Saya tidak punya hak untuk memverifikasi perintah. Ini dunia militer. Perintah adalah perintah, harus dilaksanakan.

Ketika ternyata yang tewas adalah 16 anak kecil, itu bukan salah saya. Buat saya, apa yang namanya kesalahan adalah kalau bom yang saya jatuhkan meleset dari sasaran.

Ternyata tidak. Bom tepat jatuh dan menghancurkan bangunan yang dituju. Saya tidak bersalah. Tuga sudah saya jalankan dengan sempurna.

Betul. Ternyata yang tewas adalah 16 anak tak berdosa. Itu bukan salah saya."

"Salah siapa?"

"Entahlah. Mungkin atasan saya. Mungkin komandan intel. Saya tidak tahu. Tapi di sini, di hadapan Anda, saya nyatakan tegas: itu bukan salah saya."

"Bailah. Tapi, adakah sedikit rasa sesal di sanubari Anda?"

"Tidak. Minggu depan bahkan saya akan berkunjung ke kawasan itu, menengok dengan jelas 16 anak yang tewas oleh bom yang saya jatuhkan."

Buat komandan perang, kecelakaan model begitu disebut collateral damage, kematian-cedera-kerusakantambahan yang terjadi akibat operasi militer.

Teknologi drone diciptakan untuk meminimasi collateral damage. Pertimbangannya, tembakan atau pengeboman diletupkan dari jarak terukur. Tapi kisah di atas menghujam lambung: bahkan dari jarak terdekat pun kadangkala kerusakan tambahan tak bisa dielak.

Tak semua orang sanggup bersikap cerdas dan tegas seperti prajurit dalam kisah tersebut. Di tingkat sang komandan, misalnya, bagaimana dia berdamai dengan perasaannya ketika tahu bahwa sekian belas manusia lugu meregang nyawa karena keputusan dan perintah yang dia terbitkan?

Seorang teman bercerita bahwa Israel melindungi dirinya dengan syaraf digital. Obyek apa pun yang berada dalam radius pantau diteliti oleh sistem komputer. Ketika 2 orang ibu tertangkap kamera mendayung sampan di sungai dan memasuki radius pantau, syaraf digital menginderai mereka.

Artificial intelligence berbasis big data mengolah informasi atas gerak dan ekspresi wajah 2 ibu tersebut. Ketika kesimpulan yang dihasilkan berkata bahwa dua orang itu adalah penyusup, sistem langsung menghambur tembakan. Tak ada upaya manusia terlibat di sana.

Keesokan hari dunia mewartakan kisah tentang dua ibu pedagang dari Palestina yang tewas diberondong tembakan Israel. Betulkah mereka adalah pedagang yang sedang mencari nafkah. Tak tahu. Tak ada yang tahu.

Dua manusia mati. Israel tak ambil pusing dengan kabar yang meletup. Israel pun tak tertarik untuk memeriksa apakah sistem pertahanan mereka, jangan-jangan, sudah salah tembak. Itu keputusan sistem otomasi. Mereka percaya padanya.

Jangan heran kalau Israel bertengger di 5 teratas dari negara yang nyaman untuk didiami.

Dengan pertimbangan itu, saya paham kenapa polisi tidak bersikap frontal kepada kerumunan di hari kepulangan mantan Tukang Obat di Soekarno-Hatta dua pekan kemarin. Mereka adalah para penjemput. Mereka berhak menjemput. Tidak bisa dibubarkan.

Kalau melihat fanatisme sebagian dari mereka beberapa malam lalu ketika mengumandangkan pujian di depan big banner mantan tukang obat, mereka kayaknya siap mati. Dengan kata lain, mereka siap jadi tumbal, jadi collateral damage.

Dan seperti galibnya collateral damage di Timur Tengah yang sanggup menyalakan api dalam hitungan hari, mereka rela untuk dikapitalisasi demi tegaknya Islam di Indonesia. Itu berbahaya.

Pilihan tersisa adalah memelorotkan celana si mantan Tukang Obat di rumahnya sendiri lalu diarak bugil. Peluang ke arah itu tersedia pekan lalu ketika perayaan Maulid Nabi diselenggarakan di lingkungan rumahnya. Pemprov DKI harus membubarkan mereka. Membangkang, seret panitia penyelenggara dan mantan Tukang Obat ke penjara. Siapa pun yang menghalangi bisa dianggap pembangkang, bukan collateral damage.

Kesempatan kedua muncul dalam akad nikah dan resepsi perkawinan puteri si mantan Tukang Obat. Gilanya, Gubernur cuma mengenakan denda 50juta. Padahal di banyak kesempatan lain, satpol PP membubarkan semua acara yang berpotensi membangun kerumunan. Begonya lagi, BNPB malah memfasilitasi acara dengan pembagian masker secara massal.

Baiklah, Kapolda Jabar dan DKI Jakarta sudah diganti. Bagaimana dengan Gubernur DKI dan Gubernur Jabar?

Tidak ada alasan lain, mereka harus dinon-aktifkan. Semua sudah terbukti. Puluhan ribu orang berkumpul di acara berturut pekan lalu. Tak ada yang tahu siapa penyandang Covid di antara mereka. Tak juga ada yang bisa memastikan ke tubuh siapa virus tersebut hinggap sekarang. Dari sekian belas, mereka berpotensi menjadi ratusan dan ribuan lalu puluhan ribu dalam hitungan hari.

Minggu, 4 Maret 2018, Sergei dan Yulia Skrippal roboh di depan sebuah taman di kota Salisbury, Inggris. Mereka ternyata dipaparkan Novichok, agen syaraf kelas militer buatan Rusia. Sergei dan Yulia dibawa ke rumah sakit. Agen polisi yang memeriksa rumah mereka ikut terpapar.

Pemerintah kota bertindak cepat. Tracing segera dilakukan. Semua bangunan yang dikunjungi Sergei dan Yulia pada hari itu langsung ditutup. Barang-barang yang mereka sentuh dimusnahkan. Rakyat Salisbury mengamuk karena kegiatan ekonomi kota melorot 95%. Pemerintah Salisbury tak peduli.

Walhasil, dari ketegasan pemerintah dan jajaran kesehatan, hanya 1 orang wafat akibat gas syaraf maha maut itu. Dalam waktu 4 bulan kemudian kota Salisbury dinyatakan aman untuk didiami dan dikunjungi.

Meski jauh lebih mematikan, daya replikasi Novichok tidak sehebat Covid-19. Tapi pemerintah Salisbury bertindak tanpa hati. Acuan mereka adalah angka dan perhitungan statistikal, sabodo amat dengan lengkingan rakyat yang menderita karena kota mendadak sepi. Dengan cara itu mereka behasil keluar dari ancaman maut.

Semenjak dipegang Luhut Panjaitan, angka kasus-baru harian melorot sedikit demi sedikit. Beberapa pekan lalu sempat turun ke kawasan 2000an. Tiba-tiba naik lagi karena aksi demo.

Belakangan kembali turun ke kawasan 3000an. Mantan Tukang Obat mendarat di Jakarta, 3-4 hari kemudian kasus-baru harian melesat ke kisaran 5000an, tertinggi sejak Covid-19 masuk ke Indonesia.

Beberapa hari berikutnya turun lagi. Kemarin, melesat ke kawasan 4000an pada 3-4 hari pasca perayaan Maulid Nabi dan acara kawinan di Petamburan.

Tak ada dari kita bisa memastikan bahwa angka terakhir dipicu 2 peristiwa tersebut. Tapi ingat, tak ada juga dari kita yang bisa menyangkalnya.

Perserakan 10ribu pengunjung acara tak bisa dipetakan. Mereka datang dari ribuan tempat, pulangnya berkemungkinan singgah ke ribuan tempat sebelum kembali ke rumah masing-masing.

Tidak ada alasan di saku siapa pun untuk tidak menonaktifkan Gubernur DKI sekarang. Dia memang bukan pembunuh massal. Tapi dia bertanggungjawab karena membiarkan kemungkinan perebakan penyakit yang dipicu Covid-19. Dia, bersama si mantan Tukang Obat, dengan demikian, adalah musuh kemanusiaan.

Non-aktifkan. Penjarakan. Tak ada alasan untuk tidak melakukannya.

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Friday, November 20, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: