Cobalah Jadi Jokowi Sehari Saja

ilustrasi

Oleh : Alexander Sakura

Pemerintah Jokowi periode ke 2 yang belum genap berumur 1 tahun ini masih dalam kondisi solid. Power Jokowi masih efektif, termasuk dalam hal kontrol terhadap Polri dan TNI.

Issue gonjang ganjing menggulingkan pemerintah, narasi delegitimasi hingga upaya penggembosan menjauhkan pemerintah dengan rakyatnya justru membikin resah masyarakat.

Di masa pandemi yang semakin menguras ekonomi, energi dan kesabaran kita menjadi modal penting yang dimanfaatkan oleh orang atau golongan yang sedari awal tidak pernah sepakat dengan manajemen bernegara ala Jokowi

Mereka yang bikin onar berencana makar maupun yang ikut-ikutan itu tidak punya tujuan konkrit. Tidak ada alasan subjektif maupun kondisi objektif yang saat ini mendorong orang untuk menggulingkan kekuasaan. Narasi yang dibangun kompak satu arah yaitu apapun yang dilakukan Pemerintah tidak ada benarnya meski seujung kuku sekalipun.

Kalau memang ada yang kemudian berniat menggulingkan kekuasaan itu "masih bagus" daripada bikin sekedar rusuh. Celakanya lagi mereka otak keonaran itu pun tidak punya niat mengambil kekuasaan. Inilah yang jauh lebih jahat. Cuma mau ngambil keuntungan di sela kesibukan Pemerintah mengatasi Pandemi Corona. Jadi sasarannya bukan pemerintah, tapi justru membelokkan logika pikiran warga kelas netizen.

Urusan vaksin bercampur gaduh dengan RUU Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja. Kebijakan New Normal tak kalah berisiknya dengan Joko Candra. Deklarasi KAMI mencuri panggung politik yang sedang panas-panasnya mencecar defisit anggaran APBN. Atau sengkarut Jiwasraya dan demo buruh menuntut Jokowi turun memang belum bisa dikatakan sebagai upaya kudeta. Namun kita sudah merasakan "kerusakan" pola pikir yang terjadi di masyarakat.

Yang paling gress tentang media Tempo yang mendadak berani masuk ke wilayah narasi nasionalisme. Lambang negara menjadi target perbincangan sensitif saat direkayasa secara kreatif. Tempo yakin pemerintah tidak akan berani mencabut ijin media, karena itulah jebakan betmen polemik kebebasan pers.

Kalaupun Tempo kemudian dibubarkan justru menguntungkan pihak manajemen. Tempo yang sudah setengah kolaps tidak perlu memberi pesangon ribuan karyawannya, tinggal menyuruh mereka demo ke Istana minta pesangonnya pada pemerintah.

Akhirnya didapatlah kesimpulan, bahwa Gerakan turunkan Jokowi menjadi tidaklah efektif ketika mereka para otak maupun pelaku tidak ada niat memegang kekuasaan saat sukses menurunkan Rezim. Tujuannya hanya untuk membuat kerusakan di beberapa kelas sosial. Mereka yang sesungguhnya sadar bahwa cara efektif melengserkan Pemerintahan adalah dengan :

1. Menguasai Parlemen

2. Satukan Parpol Parpol dlm satu semangat suksesi

3. Pengaruhi TNI/Polri untuk argumentasi politik.

Jika ke 3 kiat di atas tidak mampu dilakukan, gerakan massa sebanyak apapun akan mudah dipatahkan dengan pendekatan karakter politik Jokowi dalam meluluhkan bara api. Bukan dengan guyuran air yang hanya memadamkan sesaat, tetapi dengan menjauhkan kobaran dari angin agar tak merembet dan api padam sendiri kehabisan energi.

Jokowi yang sudah dikepung dari segala penjuru bahkan dari lingkaran dalam sendiri. Namun kepungan yang memaksa dia tidak bisa kemana mana itulah yang membuat dia fokus bertahan. Silahkan protes atau bikin rusuh apapun sepanjang tidak kudeta karena itu biasa dalam takaran demokrasi. Persoalan krisis bangsa tidak bisa diatasi dengan mendadak ganti kekuasaan.

Pertanyaan selanjutnya, siapa yang akan membela Jokowi secara argumentatif. Kemana para relawan yang dulu bersatu berdarah darah memperjuangkan suksesi 2 periode.

Jangan-jangan mereka sudah capek membela atau Jokowi sudah tidak butuh dibela?

Sumber : Status Facebook Alexander Sakura

 

Wednesday, September 16, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: