Claudia Emmanuella Santoso dan "Goodbye"

Oleh: Sahat Siagian

 

Dari seluruh penampilan gadis Cirebon di Voice of Germany ini, Goodbye ciptaan Alice Merton adalah yang terbaik. Kebetulan ada versi studionya. Saya berharap di situ tertampilkan keajaiban Claudia.

Ternyata tidak. Claudia biasa-biasa saja. Banyak penyanyi Indonesia lebih baik daripada dia. Satu yang tak dipunya para penyanyi lain tapi dimiliki Claudia: nyalinya menembus Jerman, keberaniannya menumpas inferioritas. Dalam soal ini saya menaruh Claudia setara dengan para pemberani dari Filipina.

 

Lagu Goodbye, buat saya, adalah komposisi orang cerdas. Progresi melodinya, meski sederhana, tapi brilliantly mengangkat keterngangaan si Aku atas keteledoran yang dibuat.

How did I say goodbye adalah jangkar dari syair Goodbye. Di tengah keterhempasan atas keputusan sendiri si aku terpana: gimana sih aku berucap selamat tinggal waktu itu?

Aku tak percaya harus mengalami semua kekosongan ini. Dalam kilas-balik yang dibuat, si Aku tak menemukan satu pun yang buruk dari masa lalunya bersama Dia. Lalu kenapa kami sekarang terpisah? Apa yang membuatku mengucapkan salam pisah? Lebih jauh lagi, gimana sih aku mengucapkannya dulu?

Kekuatan syair lagu ini tidak terletak pada baris-baris poetik. Pilihan katanya biasa saja. Tapi sebaris kalimat di bagian ujung sudah cukup menampar kita: how did I say goodbye?

Itu tak dipahami Claudia. Di beberapa bagian, yang harusnya menciptakan titik ekstrim, suaranya kurang pipih. Saya gagal menemukan keterlesakan sebagaimana seharusnya teralami di titik akhir.

Musiknya bagus. Si penata paham betul tipis-tebal komposisi. Permainan piano yang cenderung monoton justru memberi ruang kepada lirik untuk berhamburan.

Piano memberi kesempatan kepada Claudia untuk merintih-lirih: I miss you, did I ever tell you? Sayang, Claudia tak memanfaatkannya. 

Juga di baris "When I think about the things we used to do". Dengan kalimat, yang hampir semua kata terdiri atas satu suku kata, tersedia ruang buat bercerdasria dengan menarik-ulur temponya sedikit dan tipis agar baris tersebut menghunjam ulu jantung. Itu tak dimanfaatkan. Claudia cenderung metronomic.

Tapi sudahlah. Selamat, Claudia. Gelar di Voice of Germany semoga jadi modal besar bagimu untuk menaklukkan dunia. Aku memuja nyalimu.

Harusnya Goodbye mencampakkan saya di ujung ketika mengenang seseorang yang kepada siapa saya telah mengucap salam-pisah sekian bulan lalu.

Saya sangat menghayati baris "How did I say goodbye?".

Sungguh. Menghunjam. Mencipta sunyi.

 

(Sumber: Facebook Sahat Siagian)

Sunday, November 17, 2019 - 11:00
Kategori Rubrik: