Citra Dan Track Record

Ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Di lantai bursa saham, citra perusahaan sangat berpengaruh pada harga saham. Sebuah perusahaan bisa dapat banyak modal karena harga sahamnya naik pesat gara-gara menghire konsultan hebat dengan biaya mahal. Di lantai produksi tidak terjadi apa-apa, proses produksi berjalan seperti biasa. Ya itulah perdagangan saham. Kita boleh nggak suka itu, tapi itu fakta. Penjualan saham terbuka yang awalnya untuk memupuk modal akhirnya jadi permainan yang lebih menarik daripada jualan produk aslinya. Bisa lebih menguntungkan.

Membeli soto di restoran mewah dengan menu bahasa Inggris, bisa harganya berlipat-lipat dengan rasa soto yang jungkir balik. Itu hal biasa. Kalau ingin makan soto enak, cari warung biasa yang khusus jualan soto, harga pas sesuai rasa. Itu lebih riil. Ada ruang dimana citra begitu penting dan hanya citra yang diperdagangkan.

Memilih pemimpin berbeda dengan membeli saham. Ada memang pencitraan di sana. Itu sah saja. Asal tidak menipu massa. Asal tidak menyajikan data yang salah.

Bagi saya track record lebih penting dari citra. Track record tidak menipu, tidak bisa dipoles. Permainan kata-kata atau narasi untuk pencitraan bisa diciptakan dengan cepat. Tetapi track record akan memberi petunjuk. Kalau tiba-tiba seseorang menjadi santri atau tiba-tiba peduli sama nasib rakyat, track recordnya bisa membuktikan.

Kalau mau obyektif banyak petunjuk untuk menilai seorang calon pemimpin. Di Era digital mudah menyusuri lagi track record seseorang. Jika dilakukan dengan kejujuran dan pikiran jernih, berdasarkan track record, orang bisa ketahuan visinya kemana, keberpihakannya ke siapa, kemanusiaanya seperti apa.

Dalam hal memilih pemimpin lebih baik menggunakan filsosofi beli soto enak, bukan filosofi membeli saham.

Sumber : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko

Tuesday, January 1, 2019 - 17:15
Kategori Rubrik: