Cita-Cita Peradaban Mulia

Oleh: Yahya Cholil Staquf

 

“...Anda tahu, kita telah mewarisi berabad-abad sejarah yang bermasalah. Ketika orang membicarakan Islamofobia, misalnya, mereka sering menganggapnya sebagai sekedar tanggapan terhadap radikalisme dan ekstremisme Islamis dewasa ini. Saya bilang tidak. Akarnya lebih dalam dari itu. Selama lima abad Imperium Utsmani terlibat perang terus-menerus melawan negara-negara Eropa tetangganya, dari Balkan, Austria, Hungaria dan Polandia, ke Italia dan Spanyol. Mana mungkin orang berharap hal itu tidak akan membekas pada corak-pikir orang Eropa, selama sekian banyak generasi berganti?

Dinamika yang sama juga berlaku terhadap dunia Islam, terutama di Timur Tengah dan Afrika Utara. Setelah berabad-abad permusuhan terhadap kuffaar, dapat dimengerti bahwa gagasan permusuhan terhadap non-Muslim menjadi mapan dalam ortodoksi Islam klasik –yang masih, hingga hari ini, dianggap sebagai acuan tuntunan agama yang paling otoritatif bagi sebagian besar Muslim di seluruh dunia.

 

 

Mengingat sejarah ini, mestinya kita tidak perlu heran dengan kenyataan bahwa dewasa ini kita mengadapi ancaman yang dahsyat terhadap peradaban moderen. Kita hidup di dunia yang sangat beragam, dengan begitu banyak macam perbedaan: etnik, budaya, agama; kepentingan-kepentingan ekonomi dan politik; dan sebagainya. Kita sungguh perlu membangun suatu pijakan bersama untuk menampung dan mengelola segala unsur-unsur perbedaan ini, dalam suatu cara yang mencegah konflik dan kekerasan.

Di sebuah lembaga kajian di Washington, Kamis siang yang lalu, seseorang bertanya kepada saya:

'Kalian (Nahdlatul Ulama) adalah mayoritas diantara umat Islam di negara mayoritas Muslim terbesar di dunia. Mengapa kalian tidak mau negara Islam?'

Begini ceritanya:

Ada sebuah gedung bersejarah tak jauh dari sini --cuma 10-12 menit-- di Jalan Pejambon dekat Gambir. Dulu dinamai Gedung Chuo Sangi In --bahasa Jepang. Sekarang disebut Gedung Pancasila.

Di gedung itu ada satu ruangan yang --jika Anda memasukinya lebih dari 70 tahun yang lalu dan melihat sekeliling ruangan-- Anda akan menyaksikan dinamika seluruh jagad tergambar disitu. Ruangan itu dipenuhi orang-orang yang menganut segala macam ideologi dan pandangan tentang masa depan peradaban umat manusia. Dari liberalisme Barat sampai integralisme Jawa. Dari Islamisme sampai komunisme. Maka, orang-orang di ruangan itu --para Bapak Pendiri Indonesia-- butuh menemukan cara untuk mengelola perbedaan-perbedaan diantara mereka agar tidak terjadi konflik dan kekerasan. Itulah sebabnya --ketika mereka menyusun konsep landasan bagi Bangsa dan Negara Indonesia-- visi yang mereka bangun tidak terbatas hanya tentang kemerdekaan Indonesia, yaitu hak kami untuk merdeka dari penjajahan dan penindasan.

Mereka mengajukan visi yang agung tentang masa depan kemanusiaan dan peradaban secara keseluruhan. Suatu visi yang ditujukan untuk mendorong stabilitas, keamanan dan harmoni internasional, yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Ini semua adalah ciri-ciri kemuliaan. Karena cita-cita para Bapak Pendiri Bangsa ini adalah untuk mencapai 'Peradaban yang Mulia".

Sejak Proklamasi Kemerdekaan tahun 1945, cita-cita agung ini telah menjadi satu faktor paling kuat yang mempersatukan Indonesia beserta segenap bangsanya. Sejak kemerdekaan, kami telah menghadapi berbagai kesulitan yang tak terhitung jumlahnya, tapi kami bertahan karena kami punya sesuatu yang agung sebagai alasan untuk tetap bersatu dalam kebersamaan. Yaitu cita-cita akan peradaban mulia ini.

Mengingat keadaan dunia dewasa ini, mengapa kita --yang datang dari sekian banyak bangsa, budaya dan etnis yang berbeda-beda ini-- tidak melakukan hal yang sama? Ditengah begitu banyak perbedaan diantara kita, mengapa kita tidak menjemba cita-cita akan suatu peradaban mulia, dan akhlak mulia, sebagai sesuatu yang bisa mempersatukan kita semua atas dasar kemanusiaan?

Saya yakin ini tidak sulit. Kemuliaan adalah konsep sederhana, yang setiap orang baik-baik pasti memahami. Hanya manusia-manusia jahat dan keji yang gagal paham terhadap makna kemuliaan manusia.

Kemuliaan itu erat kaitannya dengan kemerdekaan, martabat, kasih-sayang, dan keadilan. Kita semua tahu ini!

Maka, ketika kita bicara tentang ekonomi, misalnya, mengapa kita tidak berpikir tentang 'perekonomian yang mulia'? Ketika kita mendiskusikan politik, kenapa kita tidak berpikir tentang 'politik yang mulia'? Dan seterusnya...."

Gala Dinner, Asia Liberty Forum 2018, Oriental Mandarin Hotel, Jakarta, 11 Februari 2018

 

(Sumber: Facebook Yahya Cholil Tsaquf)

Thursday, February 15, 2018 - 18:00
Kategori Rubrik: