Cina, Betawi dan Ahok

Oleh: Enha (nurul huda haem)

Barusan ketemu jamaah umroh asal negeri Cina, matanya sipit, aksen cinanya tetap kental, style english-nya seru. Kami berbincang tak terlalu lama, dia cerita ada ratusan juta Muslim di Cina dan secara singkat menceritakan bahwa warisan Islam di Cina sudah sangat tua, artinya Islam dan seluruh bagiannya bukan barang baru bagi masyarakat Cina.

Nah, saya jadi keingetan pilkada Jakarta deh.

 

Penduduk kaum muslim di Jakarta itu sangat tinggi, mayoritas, tak terbantahkan. Saya asli orang betawi, pernah aktif di Bamus zamannya Bang Edi Nalapraya, saat Bang Foke masih di Dinas Pariwisata, persisnya di Lembaga Kebudayaan Betawi, pernah bareng2 ama bang Yahya Andi Saputra bikin Majalah Plampang, majalahnya Bamus yg diterbitkan oleh LKB. Di IAIN Ciputat saya boleh dibilang pendiri KMB (Keluarga Mahasiswa Betawi) bareng2 ama Bang Firdaus Muchtar yang meskipun kaga asli-asli banget tapi saat itu kan punya pacar orang betawi, eh kayanya mantanmu ada di friendlistku Bang Utay.. hahaha 

Kajian kebudayaan betawi membawa saya pada penelusuran asal-usul budaya betawi yang ternyata punya garis kedekatan yg signifikan dengan budaya tionghoa. Pemukiman Tionghoa di muara sungai Ciliwung sudah ada jauh sebelum datangnya bangsa-bangsa Barat ke Nusantara. Orang-orang Tionghoa yang datang ke Betawi umumnya berasal dari propinsi Hokkian bagian selatan (Ban-lam). Budaya Hokkian selatanlah yang sangat besar pengaruhnya, tampak dari istilah-istilah Hokkian selatan yang sampai sekarang masih dikenal di kalangan Tionghoa peranakan dan sebagian telah masuk ke dalam kosa kata bahasa Betawi. Ah, jadi ingat masa2 penelusuran itu dulu, perpustakaan di LKB meski tidak terlampau banyak menyediakan buku, tapi cukuplah sebagai informasi awal mengenai kedekatan hubungan antara budaya Betawi dan Tionghoa.

Lalu, apa hubungannya pertemuanku dengan jamaah umroh asal Cina dan Pilkada Jakarta?

Begini, isu terbesar dalam Pilkada Jakarta itu kan soal Cina-Kafir yang kebetulan menjadi petahana dan nyalon kembali sebagai kandidat gubernur. Sosok incombent yang meskipun terbukti membawa perubahan di Ibukota dengan kepemimpinanya yg tegas, berani dan bersih itu sepertinya tidak bisa dibiarkan. Alasannya ya dua itu tadi; udahan Cina, Kafir lagi 

Entah sejak kapan bullying dengan tagline, "dasar cina luh," mulai marak di tanah Betawi, sejak kecil saya udah sering banget dengerin yang model begini, sampe di kalangan perokok ada pameo, "kalo abis makan kaga ngerokok rasanya kaya ditamparin Cina," padahal yg ngomong blm tentu pernah merasakan tamparan orang Cina. Kalau ada orang betawi bermata sipit (meski bukan keturunan tionghoa) tapi kelakuannya nyebelin sering dikatain "Cina sengke luh." Walhasil banyak hal negatif yang disematkan pada kata-kata Cina.

Pada saat yang sama, geliat keislaman memasuki Nusantara ternyata menyimpan cerita menarik dari keterlibatan etnis tionghoa. Eksistensi Cina-muslim pada awal perkembangan Islam di Jawa tidak hanya ditunjukkan oleh kesaksian-kesaksian para pengelana asing, sumber-sumber Cina, teks lokal Jawa maupun tradisi lisan saja, melainkan juga dibuktikan pelbagai peninggalan purbakala Islam di Jawa. Ini mengisaratkan adanya Pengaruh Cina yang cukup kuat, sehingga menimbulkan dugaan bahwa pada bentangan abad ke-15/16 telah terjalin apa yang disebut Sino-Javanese Muslim Culture. Setidaknya, tulisan ilmiah Prof. Sumanto Al Qurtuby yang merekonstruksi Arus Cina-Islam-Jawa; Bongkar Sejarah Atas Peranan Tionghoa Dalam Penyebaran Agama Islam Di Nusantara Abad XV & XVI sangat menginspirasi saya menulis topik ini. Buku setebal lebih dari 300 halaman ini diterbitkan oleh Penerbit INSPEAL dan INTI.

Sekilas saja, Prof. Sumanto menulis bahwa sejauh ini sejarah masuknya Islam ke Nusantara didominasi oleh dua teori besar. 
Teori pertama tentang menyatakan bahwa Islam dibawa ke Nusantara oleh para pedagang yang berasal dari Arab/Timur Tengah. Teori ini dikenal sebagai teori Arab, dan dipegang oleh Crawfurd, Niemann, de Holander. Kedua adalah teori India. Teori ini menyatakan bahwa Islam yang datang ke Nusantara berasal dari India. Pelopor mazhab ini adalah Pijnapel yang kemudian diteliti lebih lanjut oleh Snouck, Fatimi, Vlekke, Gonda, dan Schrieke.

Terlepas dari dua teori di atas, para sejarahwan umumnya melupakan satu komunitas yang juga memberikan kontribusi cukup besar atas berkembangnya Islam di Nusantara, khususnya Jawa. Mereka adalah komunitas Cina-muslim. Ukiran padas di masjid kuno Mantingan-Jepara, menara masjid pecinaan Banten, konstruksi pintu makam Sunan Giri di Gresik, arsitektur keraton Cirebon beserta taman Sunyaragi, konstruksi masjid Demak --terutama soko tatal penyangga masjid beserta lambang kura-kura, konstruksi masjid Sekayu di Semarang dan sebagainya, semuanya menunjukkan pengaruh budaya Cina yang cukup kuat. Bukti lain dapat ditambah dari dua bangunan masjid yang berdiri megah di Jakarta, yakni masjid Kali Angke yang dihubungkan dengan Gouw Tjay dan Masjid Kebun Jeruk yang didirikan oleh Tamien Dosol Seeng dan Nyonya Cai. Ini mengisyaratkan adanya Pengaruh Cina yang cukup kuat, sehingga menimbulkan dugaan bahwa pada bentangan abad ke-15/16 telah terjalin apa yang disebut Sino-Javanese Muslim Culture.

Selengkapnya, baca aja sendiri buku beliau, saya lanjutkan ke topik tulisan ini mengenai hubungan antara pertemuan saya dengan jamaah umroh asal Cina dengan Pilkada Jakarta.

Ahok, dukungan Muslim Jakarta dan Bullying Nasional

Seperti sudah saya tuliskan di atas, isu besar Pilkada Jakarta adalah soal Cina Kafir, sebut saja begitu, karena lini masa sosial media kita juga diramaikan pada perbincangan hal demikian. Isu ini kemudian menjadi bola salju hingga tragedi "penistaan kitab suci" menemukan momentumnya. Pergerakan yang begitu massif bahkan tidak hanya menjadi perhatian kaum muslim Jakarta, tetapi telah menjadi bola salju yg menarik gelombang besar secara nasional. Lalu secara berturut-turut lahirlah aksi bela Al-Quran (spirit 411), bela Agama (spirit 212) dan terakhir bela Ulama (spirit 112). Momentum ini berhasil menyeret kaum muslim jakarta pada "pertikaian" yang singkat cerita membentuk dua kubu besar; Penentang dan Pendukung Ahok. Sebenarnya ada kubu ketiga yang memilih diam, meski jumlahnya tidak besar, tetapi mungkin akan signifikan untuk diangkat dalam analisa berikut pasca putaran pertama pilkada Jakarta.

Seiring dengan Pilkada dan Isu penistaan agama, tingkat bullying di antara dua kelompok begitu besar, membaca kata dan atau kalimat yang begitu nyinyir dan menohok menjadi pemandangan paling miris sepanjang sejarah interaksi antar manusia di negeri kita, ini bahkan lebih dari sekedar Pilkada rasa Pilpres. Hanya mereka yang bermental baja yang siap perang di sosial media, mereka yang siap dicaci maki, siap dihujat, siap dibully, siap difitnah sana sini dan akhirnya siap dikhianati. Oleh siapa? Tak mengapa mungkin bila sekedar oleh teman yg baru dikenalnya di facebook, tapi -ini gila- ternyata juga saling melakukan antar teman, sahabat bahkan keluarga sedarah.

Dan Pilkada pun digelar, Ahok menang, setidaknya di Putaran Pertama. Hasil Quick Count menampilkan hasil yang nyaris sama;

Litbang Kompas
Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni: 17,37 persen
Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat: 42,87 persen
Anies Baswedan-Sandiaga Uno: 39,76 persen

Cyrus Network
Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni: 17,13 persen
Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat: 42,92 persen
Anies Baswedan-Sandiaga Uno: 39,94 persen

PolMark Indonesia
Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni: 17,96 persen
Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat: 42,27 persen
Anies Baswedan-Sandiaga Uno: 39,77 persen

LSI
Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni: 16,87 persen
Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat: 43,22 persen
Anies Baswedan-Sandiaga Uno: 39,91 persen

SMRC
Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni: 16,69 persen
Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat: 43,19 persen
Anies Baswedan-Sandiaga Uno: 40,12 persen

Gilak!

43% itu bukan angka sedikit! Nyaris separuh dari penduduk Jakarta. Kalau umat Islamnya ada 87% itu berarti lebih dari separuh umat Islam memilih calon gubernur yang Cina dan Kafir!

Lalu apa pengaruhnya demo berjilid-jilid, pertikaian di jagat sosmed yang memilukan hati, klaim auto-murtad dan lain-lain?

Saya melihat sendiri, beberapa pendukung Ahok justru ada dari kalangan santri salaf, bahkan ada beberapa di antaranya yang lulusan timur tengah dan pengurus Ormas Islam. Sikap yg mereka ambil bukan tanpa resiko, justru amat sangat besar, dicaci, dibully, dianggap pengkhianat, zindiq munafik, didoakan cepat mati bahkan ada yg dihalalkan darahnya.

Ngeri 

Tapi angka 43% fakta yang tak dapat dibantah pada putaran pertama. Mari kita baca dengan hati yang tenang, setenang para timses menjalankan ibadah umroh dgn fasilitas first class. Eh 

Masyarakat Betawi sejak dulu dikenal sangat agamis, sebagaimana juga tampak pada bangsa2 rumpun melayu. Statement ini biasanya didasarkan pada warisan budaya dan kebiasaan mereka. Tetapi yg kerap luput dari kajian adalah, adat dan kebiasaan berbasis Islam tidak serta merta menjadi ukuran kualitas keimanan seseorang. Sejak awal, risalah Islam mengajarkan garis panduan yang tegas dalam penilaian iman seseorang, sama sekali tidak berdasarkan tampilan luar, sepenuhnya itu hak prerogatif Allah.

Jadi bahwa orang betawi itu religius iya, tetapi pemikiran keislaman dan kualitas keimanan mereka tidak bisa digeneralisasi, sebagaimana ini juga berlaku bagi semua orang islam dari ragam suku dan golongan, Cina dan Komunis muslim sekalipun. (Soal komunis muslim rasanya perlu tulisan khusus, atau kita minta saja Gus Hamim Enha atau bang Alamsyah M Djafar menulis ulang isu keren yg dulu pernah diangkat Majalah Syir'ah beberapa waktu yg lalu).

Jadi, sebenarnya, menurut hemat saya, mengangkat tema kesukuan pada Pilkada, apalagi di Ibukota yang heteregon itu pekerjaan sia-sia. Seperti Bamus Betawi yg pada saat sebelum Pilkada Jakarta berkoar 100% orang Betawi menghendaki Cagub asal suku Betawi, "Masyarakat inti Ibu Kota Jakarta itu 100 persen kompak akan mendukung putra daerahnya sendiri. Betawi rindu menjadi tuan rumah di kotanya sendiri, dan itu berarti menolak cagub lain termasuk petahana." Kata Ketua Bamus, Nahrowi Ramli, saat itu. Faktanya, jangankan menolak petahana, mengupayakan cagub Betawi aja gagal total. Dari tiga kandidat tak satupun yang berasal dari suku Betawi.

So, bagaimana peluang kemenangan Ahok pada putaran kedua nanti?

Wallahu A'lam, saya bukan tukang ramal. Bagi saya, Pilkada itu pesta rakyat, festival kegembiraan anak bangsa, rayakan saja dengan suka cita dan tanpa amarah. Siapapun yang memenangkan Pilkada nanti saya akan menerima dengan hati terbuka.

Hanya sebagai seorang anak betawi yang berhak menganalisa pilkada di wilayahnya, saya rasa hasil 43% pada putaran pertama tidak akan berkurang, hasil ini benar-benar suara militan pendukung Ahok, bagaimana tidak militan, mereka memberikan suaranya ke Ahok di tengah tekanan dan intimidasi yang amat keras. Tetapi jalannya putaran kedua nanti akan sangat ketat. Porsi 17% limpahan suara Paslon AHY-Sylvi mungkin saja akan pindah ke Paslon Anies-Uno. Tetapi politik kan tidak sesederhana itu. Akan ada pertemuan makan siang atau sekedar ngopi di pinggir jalan yang bisa menggugurkan analisis setajam silet sekalipun.

Saya hanya melihat dari sisi masyarakat betawi kota yang belakangan semakin tercerahkan, mereka tidak tepengaruh oleh provokasi kesesatan iman dalam menentukan pilihan, mereka amat sadar, bahwa pesta rakyat ini sedang memilih pemimpin ibukota yang sudah lelah dijadikan bancakan oleh penjahat anggaran, lima tahun terakhir, orang betawi kota (baik asli peranakan betawi maupun campuran) merasakan perubahan gila-gilaan baik dari sektor transportasi, perbaikan jalan hingga birokrasi yang tak lagi antri panjang, dan dengan kesadaran baru ini saya rasa bukan tidak mungkin Petahana akan mendapat limpahan suara baru dari limpahan dua kadidat lain.

Maka, ada baiknya timses petahana, sebagai strategi di putaran kedua nanti tidak lagi terpancing dengan isu agama dan kesukuan -karena hal itu terbukti cuma bualan- tetapi fokus pada program "betawi rebound" di mana pantulan nilai budaya betawi ternyata merupakan aset bangsa yang sangat dibanggakan. Betawi Rebound adalah ikhtiyar memantulkan kearifan local (local wisdom) yang menjadi penyangga utama pembangunan Ibukota.

Betawi's Rebound Values

1. Open Communication (Komunikasi Terbuka alias nyablak atawa ceplas-ceplos); bahasa Betawi sangat dipengaruhi kosakata dari masyarakat penutur bahasa Betawi yang majemuk, antara lain Sunda, Jawa, Cina, dan sebagainya. Hal ini memperlihatkan bahasa Betawi sebagai bahasa yang terbuka terhadap pengaruh luar, hal ini juga mencerminkan watak masyarakat Betawi yang terbuka terhadap keberadaan etnis atau suku bangsa yang bermacam-macam itu.

2. To the point (Lugas, apa adanya, kaga ada yang ditutupin); orang Betawi terkenal sebagai orang yang berbicara apa adanya atau lugas. Namun demikian, mereka tidak bermaksud menyakiti lawan bicaranya. Kelugasan ini menunjukkan juga sikap orang Betawi yang jujur dan tidak menyukai kemunafikan atau sikap yang berlainan antara yang diucapkan dengan apa yang sebenarnya dipikirkan oleh si penutur. Kelugasan ini terkadang sulit dipahami oleh masyarakat budaya lain, seperti Sunda atau Jawa, karena kedua masyarakat suku bangsa ini terkenal sangat memperhatikan bagaimana, dengan siapa, dan dalam situasi apa bahasa dipergunakan. Kelugasan orang Betawi ini sering juga ditanggapi secara steoritif “orang yang kasar”.

3. Egalitarian (kaga sengke); bahasa Betawi tidak mengenal strata/tingkatan bahasa seperti bahasa Jawa, misalnya, yang mengenal tingkatan bahasa Kromo dan bahasa Ngoko. Sifat bahasa ini memang merupakan sifat bahasa Melayu pada umumnya, dan yang menjadi salah satu alasan mengapa bahasa Melayu menjadi lingua franca masyarakat-masyarakat etnis di nusantara, sebelum bahasa dan bangsa Indonesia terbentuk. Karakter bahasa Betawi yang egalitarian ini pula lah yang menyebabkan bahasa dialek Jakarta yang sangat dipengaruhi oleh bahasa Betawi menjadi lingua franca masyarakat Jakarta dan Indonesia pada umumnya.

4. Kosmopolit (ampir semua orang Indonesia seneng pake logat Betawi); ini menunjukkan bahasa bahasa betawi itu kosmopolitan, karena merupakan bahasa di wilayah Ibu kota negara dan kota pelabuhan internasional. Keberadaan Jakarta sepanjang sejarahnya, sebagai kota pelabuhan menjadikan bahasa Betawi bersifat kosmopolit.

5. Humoris; bahasa Betawi disampaikan dengan unsur humor, melalui ungkapan dan pantun jenaka. Hal ini juga merupakan gambaran karakter masyarakat Betawi yang hangat dan ramah. Pada bagian ini saya rasa timses petahana ke depan boleh menggaet komika yg bertebaran di ibukota untuk berbondong2 bicara soal betawi rebound. Standup comedy saya rasa merupakan program kampanye paling inspiratif, keren dan seru; mengedukasi lewat canda. Lagian bukankah pentas politik di negeri kita sudah lama kehilangan selera humornya?

Selamat untuk petahana yang sudah menang di putaran pertama.

 

(Sumber: Status Facebook  Enha)

Sunday, February 19, 2017 - 23:45
Kategori Rubrik: