China Negara Otoriter Tapi Mengapa Maju

ilustrasi

Oleh : Buyung Kaneka Waluya

Dari segi susunan kekuasaan..., tidak ada yang berbeda antara China dengan Barat.

Di China dikenal dengan trias politika..., dimana terjadi pemisahan tugas antara Eksekutif..., Legislatif..., dan Yudikatif.

Ketiga unsur kekuasaan ini berkerja berdasarkan UUD..., yang ditentukan berdasarkan Suara Rakyat.

Saat sekarang..., China menerapkan Pemerintah dengan Sistem Parlementer...; dimana Kekuasaan Pemerintah dipegang oleh Perdana Menteri..., dan Kekuasaan Negara dipegang oleh Presiden.

Namun sebagian besar kita akan berkata sambil mencibir..., bahwa China anti demokrasi.

Tentu dengan alasan teori dasar..., dimana demokrasi itu terdiri dari banyak Partai dan dipilih langsung oleh rakyat lewat bilik pemilu.

Sementara di China hanya ada satu partai..., yaitu Partai Komunis.

Tidak ada Pemilu..., ini Negara otoriter Partai.

Kalau kita menggunakan teori Barat tentang demokrasi..., maka kesimpulan bahwa China tidak demokrasi adalah benar.

Tapi..., bukan berarti China tidak menerapkan demokrasi.

Ya tentu..., Demokrasi ala china.

Pertanyaannya adalah...: manakah yang benar....?

Apakah cara China yang benar..., ataukah cara Barat...?

Kekuasaan tertinggi di China..., adalah Kongres Rakyat Nasional (KRN)..., yang merupakan lembaga legislatif.

KRN terdiri dari wakil-wakil yang terpilih dari berbagai propinsi..., daerah otonom..., kota setingkat propinsi..., daerah administrasi khusus..., dan tentara.

KRN melaksanakan legislatif negara..., dan memutuskan masalah penting dalam kehidupan politik negara...; yang meliputi membuat UU dan meng-amandemen UUD..., mensahkan APBN..., dan menetapkan kebijakan strategis jangka pendek..., menengah..., dan panjang...; seperti penentuan daerah otonom..., daerah administrasi berserta aturan pendukung sistem pemerintahannya...., serta mengawasi tugas Pemerintah.

KRN juga bertugas memilih Presiden dan Wakil Presiden..., memutuskan calon perdana menteri dan anggota-anggota lain Dewan Negara..., memilih Ketua Komisi Militer Pusat dan memutuskan calon anggota-anggotanya..., memilih Ketua Pengadilan Rakyat Tertinggi dan Ketua Kejaksaan Rakyat Tertinggi.

Tentu KRN juga berhak memecat pejabat-pejabat tersebut..., bila terbukti tidak bisa melaksanakan tugasnya.

Karena anggota KRN adalah tokoh nasional yang tidak semua ahli..., maka mereka dibantu oleh para professional yang tergabung dalam Komite Nasional Konferensi Konsultatif Politik Rakyat China.

Lembaga ini adalah lembaga di luar pemerintah..., yang dibentuk untuk memberi masukkan terkait dengan pembangunan China dalam berbagai sektor.

Mereka membuat proposal..., baik secara individu maupun kelompok tentang berbagai hal...; seperti bagaimana kebijakan pemerintah tentang suatu pembangunan di daerah tertentu atau bidang tertentu untuk dibahas oleh Kongres Rakyat Nasional.

Anggota lembaga ini terdiri dari unsur anggota partai politik..., berbagai organisasi yang mewakili etnis dan masyarakat khusus..., kalangan non partai dan profesional di bidang khusus.

Mereka dipilih dan diusulkan dari partai politik level nasional dan daerah..., pemerintah..., organisasi sosial..., dan organisasi profesional.

Lembaga ini semacam lembaga penasihat politik di tingkat nasional..., dan beranggotakan sekitar 2000 orang.

Di level daerah juga mempunyai lembaga serupa..., tetapi ruang lingkupnya juga sesuai dengan wilayahnya.

Mereka melaksanakan konferensi nasional tiap lima tahun.

Nah..., yang menarik adalah bagaimana orang bisa duduk di KRN....?

KRN tingkat nasional..., terdiri dari 34 delegasi yang mewakili dari propinsi..., wilayah administrasi khusus..., kota khusus..., daerah otonomi dan komisi militer yang semuanya sekitar 3.000 anggota.

Masing-masing delegasi tersebut mempunyai ketua..., wakil ketua..., dan anggota.

Para anggota delegasi itu dipilih dari proses berjenjang...; dari lurah..., camat..., kabupaten..., dan propinsi.

Mereka adalah elite terbaik China dari kalangan tokoh masyarakat..., ketua asosiasi bisnis dan sosial..., ketua LSM..., Militer..., pejabat..., para professional..., dan kader Partai.

Untuk menjadi anggota delegasi..., tidaklah mudah.

Mereka harus punya kualitas-kualitas tinggi..., baik dari segi moral maupun karakter.

Hal itu adalah hasil tempaan yang lama..., dan penuh jerih payah melalui keterlibatan penuh pengabdian di dalam komunitasnya.

Proses ini bukan sebentar...; puluhan tahun bertekun..., kadang harus bergerak melawan arus..., dan tak jarang berkorban untuk para pengikut.

Dari proses inilah lahir kepemimpinan..., dengan ide-ide dan perbuatan-perbuatan besar..., serta cinta besar yang membawa perubahan.

Ia nampak berkilau ditengah komunitasnya..., sehingga menjadi harapan bagi banyak orang.

Semua proses itu..., dikawal ketat oleh para Kader Partai Komunis yang ada di semua level.

Jadi..., tidak mungkin orang bisa langsung atau instant menjadi elite politik di China..., ada proses panjang yang harus dilaluinya.

Sedikit saja cacat..., maka dia akan tersingkir oleh lingkungannya dan pasti gagal dalam nominasi masuk sebagai anggota delegasi.

Tidak seperti dalam sistem demokrasi liberal..., dimana siapapun bisa menjadi pemimpin di semua level.

Tidak perlu terkejut..., bila barisan pelawak dan artis jadi caleg...; karena restu partai.

Tidak perlu terkejut..., putra-putri pejabat partai pun jadi caleg karena restu partai.

Tidak ada yang aneh..., karena ini sudah lazim dalam sistem demokrasi.

Tokoh tidak lagi dilahirkan..., tapi diciptakan oleh 'marketing mix communication'.

Ditambah bumbu politik uang..., maka jadilah orang itu elite politik...; bisa di partai..., bisa pula di pemerintahan.

Mereka seperti 'mie istant'..., yang semua bumbunya adalah hasil rekayasa biotek..., bukan natural.

Mereka naik terlalu cepat..., sebelum karakter dan kualitas moral mereka ditempa komunitas yang mereka pimpin.

Dicangkokkan dari luar..., mereka tidak berakar dalam komunitas itu.

Seperti produk mie instant...: rasa soto tapi bukan soto..., rasa ayam tanpa ayam..., rasa pedas tanpa cabe.

Makanya jangan kaget..., bila setelah mereka berkuasa tidak ada yang sesuai dengan janjinya..., karena semua palsu dan menipu.

Mengapa Komunis di China bisa solid..., sementara di Negara lain seperti Uni Soviet justru komunisme bangkrut...?

China dari dulu sampai sekarang..., secara sosiologis maupun antropologis tak mungkin menjadi materialis..., seperti yang dialami barat yang otomatis marxisme adalah turunannya.

Masyarakat China..., adalah masyarakat yang selalu percaya akan adanya kekuatan lain di luar dirinya..., yang menguasai alam serta isinya dan ini bersifat gaib.

Ada berbagai kepercayaan di China...; seperti animisme..., dinamisme..., dan agama Hindu..., Buddha..., Kristen..., Islam..., yang dianut oleh sebagian penduduk China.

Teori revolusi Marx..., hanyalah sebagai metode bukan sebagai dogma.

Oleh karena itu..., Marxisme bagi China dipahami dalam kerangka teoritis..., dan penerapannya amat tergantung pada kondisi masyarakat dimana ia tinggal.

Jadi yang penting dari Marxisme adalah penerapan metode Marx dalam berpikir..., bukan menjalankan hasil dari cara berpikir.

China tetaplah China..., yang membumikan budaya dan agama dalam mengelola komunitasnya.

Maka hasilnya selalu betujuan untuk kepentingan bersama..., bukan individu atau golongan.

Jadi untuk apa banyak partai dan banyak bendera..., seperti paham Demokrasi Liberal yang ada di Barat dan USA..., bila kenyataanya hasilnya hanyalah untuk kepentingan pemodal dan Partai..., sementara rakyat banyak terjajah oleh sistem...?

Rahayu

Sumber : Status Facebook Buyung Kaneka Waluya

Saturday, September 12, 2020 - 17:45
Kategori Rubrik: