Child Abuse

ilustrasi

Oleh : Nana Padmosaputro

“Eeeeeh...!!! Anaknya nggak salah bu..! Jangan main gampar aja...! Cari tahu dulu duduk perkaranya apa!”

Kubentak seorang ibu muda di supermarket Diamond, di kawasan Kelapa Gading yang menggampar anak lelakinya, kurus, kecil, kuduga kelas 2 SD.

Aku tadi melihat, anak bungsunya (umuran 3 tahun dan duduk di keranjang belanja) lah yang kakinya menyenggol tumpukan barang di dekat kasir sehingga barang itu tumpah semua ke lantai. Tapi anak sulungnya yang dia gampar sampai badannya terhuyung.

Anak itu menangis, tapi dia menolak ketika kupeluk.

Anak itu pasti bingung : dia dibela oleh orang yang tak dia kenal, tapi dia juga takut mendekat ke ibunya yang emosional.

Ibu muda itu sempat membentak aku “Jangan ikut campur ya!”

Dan kujawab : “Oh saya akan ikut campur kalau urusannya adalah anak-anak yang diabused, meskipun itu diabused oleh maminya sendiri...!!! Apalagi dia tidak bersalah...!” Jeritku lebih keras dari suaranya.

“Ini soal kemanusiaan..! Kalau nggak siap mental dan emosional untuk didik anak dengan baik, nggak usah punya anak!!!”

Biarin aja seluruh orang di supermarket itu dengar. Biar dia malu sekalian.

Dia diam. Segera membayar di kasir dan pergi. Anaknya sudah terdiam, dan melirikku ketika dia ngintilin ibunya pergi.

Sekurangnya, aku sudah ‘berantem’ dengan 2 orang ibu yang abusive. Kali kedua, di supermarket bahan bangunan, Mitra10 di Cibubur.

Ibu yang ini, lebih sadis. Anaknya ditampar bertubi-tubi karena memainkan tirai blindfold. Tirai itu sama sekali nggak rusak. Cuma dimainkan karena rasa ingin tahu yang alamiah, dari si anak kecil, dekil, dan berkulit hitam itu. Tapi ibunya ngamuk kayak kesetanan.

Lucunya, kegalakannya yang seperti raja hutan itu mimpes ketika aku bentak “Heh...! Jangan kayak algojo!!! Anakmu salah apa...!!!”

Dia kaget, terbelalak, anaknya juga kaget, sampai terdiam dari tangisnya. Kuhampiri mereka, tapi ibu itu bergegas menjauh, sambil menggandeng anaknya pergi.

Sekali, aku datangi sepasang remaja. Cowonya menampar cewenya di lahan parkir Cibubur Junction lalu meninggalkan si cewe yang jatuh terduduk di paving block. Aku hampiri mereka... dan si cewe ditampar lagi ketika cewe itu berusaha memohon-mohon entah bicara apa. Aku cuma bisa mendengar isak tangis cewe itu memanggil-manggil nama cowonya.

Ketika si cowo melihatku mendekati mereka, si cowo menarik dengan kasar si cewek, mengajaknya bergegas pergi.

Baguslah. Dia menggandeng cewenya pergi. At least digandeng. Bukan digampar. Maka tidak kukejar.

*****

Ada banyak praktek kekerasan dalam pola
parenting di negeri ini (termasuk juga di dalam
relationship). Dan sebagian masyarakat menganggapnya biasa.

“Ah lebay. Baru digampar aja sudah mewek. Anak gue dulu sampai gue sabet pakai kayu dan dijedotin ke tembok... sekarang jadi jendral kok.” Mungkin begitu, pembelaan anda, ortu pelaku kekerasan.

“Iya pak. Anakmu sekarang jadi jendral. Tapi jendral yang kayak apa dulu? Jendral dengan luka batin yang besar... yang dia coba alihkan dengan melakukan kekerasan ke istri dan anak, serta anak buah. Jendral yang menularkan luka batin itu ke semakin banyak orang... karena pola didik anda yang keliru...!”

Pernahkah kalian berpikir : bahwa tidak ada cara negatif yang akan menghasilkan hal positif, meskipun niatnya baik.

Pernahkah kalian berpikir : kedudukan, titel, jabatan dan banyaknya uang yang berhasil diperoleh oleh anakmu di usia dewasa, BUKANLAH ukuran kesuksesan yang utuh, karena jiwanya terluka dan dia tidak bahagia..?

Pernahkah kalian berpikir : bahwa jutaan orang membawa luka batin itu di sepanjang hidupnya, sampai ke liang kuburnya?

Besok ya...kita bahas CHILD ABUSED dan segala efeknya, di Radio Pelita Kasih 96,3FM.

Sumber : Status Facebook Nana Padmosaputro

Friday, October 23, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: