Chamber Disinfeksi

ilustrasi

Oleh : Alim

Agak ramai di medsos dan whatsapp soal chamber ini. Saya ingin ikut meramaikan sambil nyambung dengan tulisan saya sebelumnya.

Begini.
Di tulisan saya sebelumnya saya tulis bahwa banyak kelompok masyarakat yang tidak melakukan physical distancing dengan baik. Pasar-pasar masih ramai, terminal bis juga ramai dan lain sebagainya. Dalam kondisi seperti ini, tubuh (baju) orang bisa menjadi vektor pembawa virus setelah masuk di kerumunan. Dengan demikian, selain disinfeksi area, disinfeksi orang, baik semprot pakai chamber atau tanpa chamber, menjadi rasional untuk dilakukan, sebagaimana disinfeksi tangan.

***

Bagi yang kontra dengan chamber, ada 2 hal yang dipersoalkan: (1) Zat yang digunakan berbahaya khususnya UV dan zat lain yang dipandang sebagai karsinogenik (pemicu kanker), (2) Manfaatnya belum belum terbukti.

Soal zat/agen disnfektan saya jelaskan begini.
Pertama soal UV. Sudah saya tulis kemarin, saya menilai UV tidak rasional digunakan untuk disinfeksi tubuh karena umumnya alat yang dipasarkan UVnya terlalu kecil dan durasi waktunya terlalu singkat. Kalau mau pakai UV, perlu "dosis" yang besar dan waktu yang lama. 30 detik lewat di bawahnya irasional bisa menghancurkan mikroba.

Saya baca repost dr. Lelitasari Danukusumo, dari dr. Eko Priyanto yang mengutip dr. Jimmy Chan, expert dari Hongkong. Kebetulan dr. Jimmy ini teman lama saya juga, bahwa UV dalam dosis besar itu berbahaya. Ya itu benar, tapi mungkin dr. Jimmy tidak diberitahu bahwa yang dipakai di chamber2 yang ada di Indonesia itu UV ala kadarnya.. jadi ngefek aja nggak. Tapi intinya sama, saya tidak sepakat penggunaan UV untuk chamber disinfeksi, irasional digunakan. Lagian sudah ditinggalkan untuk disinfeksi ruang operasi.

Kedua, ada WA tersebar bahwa zat2 yang digunakan untuk disinfeksi itu tidak aman, khususnya karsinogenik. Salah satu yang disebut di postingan itu Chlorine.

Tanggapan saya, chlorine itu sehari-hari sudah kita gunakan. Misalnya, untuk mengolah air minum dan terminum oleh kita, mengamankan kolam renang dan kita pakai berendam, dsb. Jadi kenapa tiba2 ditakuti hanya karena digunakan untuk semprot badan atau baju kita? (Selain bikin baju jadi polkadot ya, hehe). Standar pengelolaan air dalam International Emergency Team (EMT) oleh WHO pun menggunakan chlorine, lho.. (yo ra, Donny H Mutiasa?)
Sebetulnya tinggal diatur dosisnya saja untuk mendapatkan efektifitas dan keamanan.

Ditambah lagi, disinfektan kan juga banyak pilihan yang relatif aman. Sabun atau deterjen atau cuka, misalnya. Saya dapat ini dari Balai Besar Teknologi Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) DIY, dr. Nur Subagyo.

Kemudian yang dipersoalkan adalah soal efektifitas.
Menurut saya begini:

Idealnya, perlakuan apapun termasuk medis menggunakan Evidance Based Study yang membuktikan bahwa suatu teknik itu memiliki bukti bermanfaat. Namun hal ini tidak mudah dilakukan untuk masalah baru yang berjalan cepat seperti wabah virus baru, karena penelitian masih sedikit dilakukan. Kalau diteliti sampai detil dulu baru diaplikasikan, keburu virusnya menyebar luas. Maka yang bisa dipilih adalah yang memiliki landasan lain dan di"qiyas"kan, atau tindakan yang rasional untuk dilakukan.

Misalnya, apakah obat chloroquin itu bisa dipakai untuk mengatasi strain virus corona yg ada di Indonesia, di mana sudah dicurigai kuat berbeda dengan strain yang di China atau Eropa? Ya jelas belum ada penelitiannya... Tapi toh Chloroquin tetap dipakai karena cukup rasional dan hasil "qiyas" dari pengobatan di China.

Misalnya juga, apakah APD berbentuk kotak yang dipakai untuk membatasi dokter dengan pasien di poli atau dokter anestesi dengan pasien yang dibius itu efektif mencegah penularan? Belum ada bukti risetnya wong baru dirancang seminggu ini, tapi ini tetap dilakukan atas dasar rasionalitas, kan? (Ada di foto)

Untuk teknik semprot atau Chamber disinfeksi.
Pada teknik dekontaminasi, semprot sudah menjadi standar pada kasus biologi atau Hazardous Material (Hazmat). Banyak negara juga melakukan semprot pada kasus Covid ini tidak saja lingkungan, tapi juga semprot pada petugas medis di rumah sakit, termasuk baju APDnya.

Teknik ini sehari-hari sudah dipakai untuk ruang operasi yang selain semprot cairan disinfektan juga pakai ozone. Dan ini sudah ada hasil uji labnya sehingga dipercaya penuh. Nah inilah salah satu diantara beberapa contoh yang dipakai sebagai landasan berpikir dan melakukan semprot disinfeksi tubuh, baik pakai chamber atau tidak.

Jadi, kalau saya, semprot disinfektan dan ozone rasional untuk dilakukan, tentu dengan pilihan cara dan dosis yang rasional juga. Tapi saya perlu kritik juga desain yang banyak beredar: kurang merata semprotnya, single agent sehingga butuh dosis besar, tidak dijelaskan zat yang digunakan.

Saya mengkritik ya harus "sembodo", maka desain saya: semprotan harus merata, prosedur penggunaan harus jelas dan mudah, double agent agar masing2 agent berdosis relatif kecil tapi tetap efektif karena double (sering disebut sebagai multi-modal approach), pilih zat yang aman dan mudah didapat.

Bila kita butuh landasan buktinya, ya mari kita pakai sambil uji saja.

Demikian sekilas pandangan saya...

Sumber : Status Facebook Alim

Sunday, March 29, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: