Cerita Tentang Anjing Saya

ilustrasi

Oleh : Fuad Jamil

Soal anjing ini sedang jadi debat panas baik di aras nasional maupun lokal. Di tingkat nasional sedang ramai tentang emak2 bawa anjing ke Mesjid sedangkan di lokal Solo dan sekitarnya muncul polemik kelayakan konsumsi daging jamu alias iwak asu. Terus terang saya bukan ahli asu dari sudut pandang manapun sehingga saya hanya mau cerita tentang pengalaman sendiri ketika pelihara anjing.

Ini cerita tahun 90-an awal, tinggal di pegunungan yang dikelilingi hutan dengan rumah yang saling berjauhan membuat saya dan keluarga merasa rentan diserang hewan liar atau manusia jahat. Diputuskanlah memelihara anjing sebagai tenaga bantu jaga atau paling tidak ya jadi pemberi peringatan dini dengan gonggongannya. Jangan bayangkan anjing penjaga serem macam pitbull, doberman, herder, dan sebangsanya yang pasti mahal baik mahar maupun biaya perawatannya. Anjing kami hanya anjing kampung biasa berkelamin betina yang diberi nama PATIH.

Si Patih ini tidak dilatih aneh-aneh, hanya dibiasakan tidak masuk rumah dan dikenalkan pada para tetangga, nah kalau soal jaga teritori itu sudah jadi nalurinya. Keberadaan Si Patih ternyata sangat berguna, garangan dan kucing hutan yang sering terkam ayam bisa dihalau, semangat kejar tikus di sawah/ladang, menggonggong jika ada orang tidak dikenal mendekat. Kalau mau ngajak main atau minta makan Si Patih akan joget-joget kemudian berdiri dengan 2 kaki belakang sambil badannya digoyang-goyang, entah siapa yang mengajarinya. Tingkahnya tersebut jadi atraksi tersendiri bagi orang kampung yang minim hiburan. Pendek kata Si Patih juga jadi kesayangan warga.

Ada hal mencengangkan dari kelakuan Si Patih, kalau menemukan anak atau telur burung di ladang dia akan membawakannya ke kami tanpa merusak atau melukainya. Sekali waktu pernah juga membawakan kunci rumah yang jatuh tercecer ketika kami jalan-jalan keluar desa. Soal mengambilkan barang jatuh ini kadang merepotkan, sering baju yang dijemur jatuh dan Si Patih akan sigap mengambilnya, ya terpaksalah itu baju dicuci ulang alias disucikan karena kena najir liurnya.

Tiba musim anjing kawin, Si Patih ini diapeli banyak jantan layaknya kembang desa saja. Senang ada banyak anjing ikut jaga rumah tetapi juga bikin bising, lha jantan-jantan berkelahi demi bisa jadi pejantannya Si Patih. Biarpun kegiatan percintaan anjing-anjing ini bikin berisik ya dibiarkan saja, hitung-hitung memberi mereka hak reproduksi dan rekreasi toh itu juga hanya berlangsung sebulan dalam setahun. Si Patih akhirnya bunting terus melahirkan tetapi untung tidak dapat diraih malang tidak dapat ditolak, terjadi wabah rabies alias anjing gila. Si Patih tidak kena rabies tetapi ada anjing jantan besar terkena rabies dan menyerang Si Patih yang baru saja melahirkan. Di Patih dan anak-anaknya mati dihajar anjing jantan gila ini. Warga kampung gempar dan geram, dicarilah anjing gila ini kemudian dibunuh demi mencegah penularan wabah.

Damailah Patih di alam keabadianmu, kamu dan sebangsamu selalu jadi sahabat manusia.

Sumber : Status Facebook Fuad Jamil

Friday, July 5, 2019 - 09:30
Kategori Rubrik: