Cerita Soal Doktor Psikolog DS

ilustrasi

Oleh : Linda Latumahina

Tertarik dg kehebohan di medsos tentang 'doktor psikologi' berinisial DS, yg diduga telah melakukan pelecehan seksual terhadap klien2nya.

Bakal nulis agak panjang karena gemes..

1. Apa yg membuatku tertarik? Well, aku pernah nonton video2 di channel YT nya. Kan nama channelnya aja 'kuliah psikologi'. Kukira bakal dapat ilmu baru di sana. Setelah nonton beberapa video jadi agak bosan karena inti pembahasannya itu2 aja. Tapi harus kuakui judul2 videonya menarik buat orang awam.

2. Biarpun mengaku berpengalaman menerapi orang selama belasan tahun, belakangan ketahuan kalo DS ternyata bukan psikolog. Dia hanya punya sertifikat hipnoterapi. Belakangan dia emang ambil kuliah S1 dan S3 psikologi (ngakunya) dan lulus hampir bersamaan akhir 2017. Tapi tetap saja dia bukan psikolog. Toh dia berani buka klinik, menerima klien untuk 'psikoterapi', dan bikin 'training magnet keajaiban' di berbagai kota dg harga tiket ratusan ribu per orang.

3. Kalo liat video trainingnya, isinya kok mirip2 ibadah pemulihan di gereja/retreat. Orang2 pelukan sambil nangis2. DS memandu mereka untuk memeluk dan mengelus2 orang yg dipasangkan dg mereka, sambil bilang "kamu hebat.. Kamu berharga.. Kamu dicintai.." Dst. Ada juga yg bilang kalo trainingnya mirip muhasabah, atau mirip ESQ.

4. Ada yg merasa lega setelah ikut training. Ada yg B aja. Anehnya, ada yg merasa sakit kepala dan mual berhari2. Bisa jadi, sakit kepala dan mual adalah efek samping hipnosis.

5. Yg serem adalah modusnya dalam dugaan melakukan pelecehan seksual. Calon klien disuruh memesan kamar di apartemen/hotel dg dalih perlu tempat untuk melakukan terapi secara personal. Cara DS menerapi adalah dg memainkan peran sebagai seorang ayah. Jadi si klien dielus2, dipeluk, sambil berkata2 seperti ayah pada anaknya. Ujung2nya ada yg disuruh tiduran, lalu dilecehkan lebih jauh.

6. Kalo ada yg nanya: "kenapa juga tuh cewek2 mau dateng sendirian ke kamar?" Ya perlu diingat juga, mereka kan sedang mengalami masalah psikologis dan niatnya ingin mencari kelegaan. Dijanjikan akan mendapat terapi yg memulihkan jiwa, oleh orang yg (dikira) adalah psikolog profesional, ya mungkin percaya2 aja.

7. Trus kalo ada yg nanya:"kenapa tuh cewek2 gak lari atau teriak?" katanya sih, ada yg merasa lemas dan kaku, gak bisa gerak. Kurang jelas juga apakah mereka dihipnotis atau apa. Sebagian ada juga kok yg lari. Ada juga yg gak sepenuhnya sadar kalo sudah dilecehkan, karena elusan2 itu kan dalihnya adalah 'sebagai ayah terhadap anaknya'.

8. Kalo memang benar telah terjadi pelecehan seksual, sayangnya DS bakalan susah dijerat secara hukum. RUU Penghapusan Kekerasan Seksual belum diketok, sementara kalo pake pasal percabulan atau pemerkosaan di KUHP, pembuktiannya bakalan agak susah.

9. Soalnya, belum tentu ada tanda2 kekerasan fisik pada korban. Korban juga pasti gak ada yg pernah melakukan visum. Bukti lain seperti CCTV atau saksi, mungkin susah dicari. Kalo sekedar chat2 yg 'menjurus' dan bikin tidak nyaman, itu tidak bisa dijerat pidana.

10. Repotnya lagi, HIMPSI selaku organisasinya para psikolog juga tidak bisa melakukan apa2, sebab DS bukan psikolog. Sehingga ia tidak terikat kode etik sebagai psikolog.

11. Seandainya RUU Profesi Psikologi sudah disahkan, maka DS bisa terjerat pidana apabila melakukan praktek 'yg menimbulkan kesan seolah2 ia psikolog' (padahal bukan). Sayangnya RUU itu belum diketok.

12. Satu lagi yg bikin gemes, adalah kisah di balik video' DS menerapi Mimi Peri'. Demi konten di YT, DS tega mengeksploitasi kelemahan orang. Mimi Peri sebenarnya gak tau kalo dia bakal diterapi. Dia taunya cuma diajak collab. Ternyata di video itu dia diterapi pake cara DS. Dituntun untuk mengingat masa lalu sampe nangis2, lalu dielus2 oleh DS yg berperan sebagai ayah. Tujuan terapinya supaya Mimi Peri yg (maaf) kebanci2an bisa 'sembuh'. Trus yg begini dijadikan konten YT.

13. Penonton mungkin dibuat mengira bahwa Mimi Peri yg minta diterapi, padahal nggak. Di sini DS udah melanggar banyak hal sebenernya. Dia melakukan terapi tanpa konsensus klien. Dia membuka proses terapi ke publik (dijadiin konten!) padahal itu sesuatu yg private. Dan kasiannya lagi, Mimi Peri sekarang gelisah. Gak bisa lagi bikin konten secara kreatif seperti dulu, karena kalo mau bikin materi yg kebanci2an rasanya berat. Padahal itu sumber penghasilan dia. Kasian kan.

14. Cara DS populer di sosmed adalah dg tebar komen di mana2. Di akun2 gosip dan akun2 selebriti. Komennya pake bawa2 psikologi. Ketika syahrini merid sama reino, dia komen. Ketika gading gisel cerai, dia komen. Dll. Dari situ orang jadi notice. Cara yg bisa ditiru kalo mau dinotice di sosmed, sebenarnya.

15. Terakhir: sejujurnya pencapaian DS menurutku hebat. Dia udah bikin beberapa buku (sekitar 7) yg diterbitin dan dijual oleh Gramedia. Dia udah pernah diundang di Kick Andy, I'm Possible, dll. I mean, as a professional aku juga pengen loh bikin buku yg diterbitin Gramedia, diundang ke acara sekelas Kick Andy, dll. Dia sudah berhasil membangun reputasi. Sayang banget kalo upaya dia selama ini jadi rusak oleh perbuatan2 dia sendiri.

Kesimpulannya:

Peluang untuk menjadi motivator di Indonesia masih terbuka lebar. Orang Indonesia kenyataannya suka banget sama kata2 motivasi dan penghiburan ala2 MT. Dan setelah MT gak populer lagi, terbitlah DS. DS gayanya kan ala2 motivator juga, mirip2 MT. Konten IG nya juga mirip. Dan terbukti dia bisa sukses besar dan menggaet banyak fans. Kalo DS juga jatuh pamornya gara2 kasus ini, ada peluang yg bisa dimanfaatkan loh (bagi yg berminat).. Hehehe..

P.S: Kalo mau baca thread lengkap bisa baca di twitnya @trivnity.

Sumber : Status Facebook Linda Latumahina

Monday, February 17, 2020 - 07:45
Kategori Rubrik: