Cerita Saat Work From Home

ilustrasi

Oleh : Vika Klaretha Dyahsasanti

Ada banyak cerita lucu tentang hari-hari semadi ini. Saya anggap semadi, sebab dalam rebahan dan persembunyian ini, kita semua menjadi mendaras doa agar wabah ini segera berlalu. Membayangkan ini saya jadi terharu, wabah membuat doa-doa kita tak lagi egois hanya terfokus diri sendiri. Kali ini seluruh dunia mendaras harapan yang sama. Selalu ada secercah berkat dari bencana apapun, termasuk wabah tanggung renteng ini.

Wabah ini bisa kita bilang wabah tanggung renteng. Kesembronoan kecil akan berimbas pada banyaknya orang yang terdampak. Demikian sebaliknya, hal sederhana yang kita kira semula hanya malas-malasan ternyata kini merupakan tindakan heroik. Kapan lagi kita menjadi Avengers hanya dengan rebahan....

Dalam salah satu hari-hari persembunyian ini saya pernah sedikit beradu mulut dengan teman saat bertemu di warung. "Gila... sama korona aja takut. Pake sembunyi segala..."

Mulut gemes-pedes-judes-jendes saya segera beraksi. "Hoii... tentara kurang berani apa. Dalam perang mereka juga pake sembunyi-sembunyian biar nggak ketahuan musuh. Nggak konyol langsung ke medan pertempuran dengan berdiri tegak, gagah perkasa, nggak peduli desingan mesiu. Bisa kalah dalam lima menit. Abis negara lu... "

Dia cengar-cengir berkata sorry." Aku bukan tentara, wajar aku penakut. " tambah saya. Melanjutkan perjalanan kembali ke bunker. Perjalanan singkat ke luar rumah kini terasa menyeramkan, bagai ke padang Kurusetra.

Dalam grup-grup percakapan, teman-teman banyak menceritakan kisahnya yang lucu-lucu. Secara umum mereka saya bagi dua kelompok, pengeluh dan penyabar. Kelompok pengeluh pada dasarnya tidak terima keadaan. Gabut karena harus si rumah mulu. Ada yang mengeluh karena harus masak berkali-kali akibat nafsu makan anaknya yang mendadak buas. Adalagi yang mengeluh karena capek mentertibkan anaknya agar rajin belajar, minimal mengerjakan tugas-tugas sekolahnya.

"Ya ampun, Kak Seto sabar amat yak, membimbing anak-anak home schooling..."

"Iya... Kak Seto sampai jarang potong rambut gegara ngurusin anak-anak home schooling yang makan mulu," timpal yang lain.

Teman saya yang lain mengobrol pribadi dengan saya tentang jodoh. Ia ingin segera menikah lagi. Agar hidup tak lagi garing dan sepi. Dan saya, dengan sok tahu meladeni bahkan menghujaninya dengan tips-tips mencari jodoh, kencan yang berhasil, menarik perhatian.... Dalam hati saya tertawa, "Lha jodoh saya aja seret, masa dia percaya bualan saya..." Begitu gejolak batin saya. Sembari membayangkan, jangan-jangan ada banyak advisor dan konsultan yang juga seperti saya. Asal nyablak dan sok tahu.

Dari grup penyabar, berserah pada keadaan juga banyak cerita lucu. Seorang ibu diminta anaknya membuat pancake. Sebagai emak dengan ilmu masak pas-pasan, ia sama sekali buta cara membuat pancake. Tapi ia punya kejeniusan luar biasa. Ia teringat resep bakwan. Beda terbesar bakwan dan pancake hanya dari rasa dan bentuk. Bakwan asin dan tidak gepeng. Ia pun segera membuat pancake dari adonan bakwan, minus bumbu bawang putih, merica dan kaldu bubuk. Menambahkan vanila yang banyak agar wangi, dan menambahkan sedikit baking soda. Mendadarnya dalam kuali anti lengket.

Hasilnya tidak begitu mengecewakan katanya, meski juga tidak bisa dibilang indah. Kejeniusannya kemudian berlanjut dengan membuat topping untuk bakwan gepengnya itu. Ia mengoles selai stroberi, menyiramnya dengan susu kental manis banyak-banyak, dan terakhir menaburi keju parut.

"Jadi rasanya bikin enek, machtig. Anak-anak sesudah memakannya langsung blenger. Males makan apapun," katnya. Dan selesailah tugas masaknya hari itu. "Itu tips biar nggak masak berulang kali. Masaklah masakan yang blenger..."

Saya tertawa mendengarnya apapun itu. Saya sendiri sesang girang karena berhasil menggunakan aplikasi meeting secara daring. Dari situ ada ajakan untuk berkaraoke. Saya tentu saja ikut. Berbahagia dan bermaksud memamerkan hasil menyanyi saya. Tapi sedetik kemudian frustasi melihat video Smule teman saya yang merdu. Sedang suara saya terasa sengau dan parau.

Aplikasi meeting daring itu membawa saya beryoga bareng tadi pagi. Saya hanya bergerak asal-asalan, lupa gerakan-gerakannya. Saya sudah cukup lama tidak yoga karena sering malas berangkat ke lokasinya yang jauh. Saya kemudian menyadari, masa-masa semadi sebenarnya cukup menyenangkan. Yoga bisa dilakukan dengan mudah, tanpa perlu melawan rasa malas di pagi hari untuk pergi ke lokasi.

Apapun kisah semadi di rumah ini, saya sangat mengapresiasi. Kita semua telah berhasil menjadi superhero yang menyelamatkan bumi, hanya dengan cara sederhana yang begitu mudah.

Teringat obrolan saya sama temen saya yang pedes-judes tapi bukan jendes. Kami mengobrolkan betapa terkadang Semesta memberi hadiah yang terduga. "Biasanya kita capek kerja, tidak sempat menikmati hari, mendadak bisa minum teh di pagi hari sembari menatap pagi... '

Bagi kaum nocturnal seperti saya, tidak harus tergesa-gesa bangun di pagi hari itu berkat sekali." Udara, meski diselimuti virus, terasa lebih segar. Sinar matahari tak terlalu terik. Ada banyak hewan yang dulu tak kita lihat kembali ada," katanya lagi. Saya pun teringat melihat siput, laba-laba kecil dan kodok dalam masa-masa semadi ini.

Puncaknya saat teman saya berkata," Sadar nggak? Ternyata kebutuhan kita itu bisa kita buat sederhana dan sedikit sekali. Hanya makan dan istirahat. Selama ini kita tertipu oleh hingar bingar dunia modern. Sibuk bersosialita lah, nonton lah, travelling lah. Kini kita di rumah, dan ternyata kita bahagia saja.... "

Saya mengangguk, membenarkan. Sepanjang kita bisa membahagiakan diri, di rumah pun tetap menyenangkan." Nah itu, kita memenuhi pikiran kita untuk ketakutan, kecemasan dan keinginan tak bertepi. Itu yang membuat gusar di rumah. "

Saya sekali lagi menyetujuinya. Saya memaklumi mereka yang terpaksa berada dinluar rumah untuk hal penting seperti mencari makan atau tugas.

" Bahagia itu diciptakan. Dimulai dengan menerima diri sendiri dulu. Menerima apapun yang terjadi. Mau mengeluh? Bego itu namanya. Semua orang susah, bencana ini membuat sedunia susah. Dan banyak yang bisa menerima. Masa kita tidak....."

Teman saya si pedes-judes tapi bukan jendes pun mengakhiri obrolan kami.

#vkd

Sumber : Status Facebook Vika Klaretha Dyahsasanti

Wednesday, April 1, 2020 - 11:30
Kategori Rubrik: