Cerita Para Megalomania

ilustrasi
Oleh : Andi Setiono Mangoenprasodjo
 
Setahun ke depan tampaknya, pelan2 saya akan semakin menghilang dari dunia sosial media privat saya. Karena alasan pekerjaan dan kesenangan, saya akan mengelola sebuah pekerjaan "kampanye" yang sungguh tak mungkin akan saya ceritakan. Lebih karena alasan malu bila gagal, juga barangkali gak terlalu penting juga dikabarkan. Dan karena itu di Jakarta, mungkin saya gak terlalu pede dengan kualitas tulisan saya bila dibanding itu ditulis di Jogja. Ah, ngeles aja sih! Gak ada lagi waktu luang...
Dalam persiapan itu, tentu saya harus banyak sekali belajar ulang. Sebetapa pun dokumentator-nya saya, tetap saja banyak hal luput dalam amatan saya. Saya cukup kaget juga, bahwa sebetapa pun saya cukup mengakrabi sebuah data. Ternyata saya juga tak terlalu banyak tahu secara lebih mendetail. Apalagi, jika hal itu dikaitkan dengan materi2 khusus yang menjadi "fokus dan minat" yang saya dalami.
Hal ini bisa terjadi, karena pekerjaan baru saya menuntut perubahan cara berpikir saya. Bila fokus kerja sebelumnya, atau minimal format dokumentasi saya adalah ensiklopedi. Lalu harus berubah menjadi sosial-media. Maka saya harus merubah dari format berplatform alfabetis menjadi time-line. Dari urutan berdasar lema menjadi kronologis kala peristiwa. Dari pekerjaan inilah saya menemukan fakta yang luar biasa absurd. Minimal saya telah menemukan dua hal dan menurut saya cukup menjelaskan siapa mereka atau dirinya!
Ini berkaitan dengan pemilihan2 waktu atau moment penting. Dimana mereka apalah artinya menduplikasi atau menyamakan dirinya dengan sesutua. Apa dan siapa mereka?
Pertama: Front Pembela Islam (FPI). Organisasi massa paling "populer" di Indonesia saat ini. Ia dikenal sebagai simbol organisasi intoleran yang suka atau tidak suka, paling menarik banyak pendukung. Di akar rumput ia mempesona karena menawarkan perlindungan, sedang di tingkat elit ia paling enak dijadikan kuda tunggang. Puncak prestasi mereka menjadi motor Gerakan 212, yang pada 2 Desember 2016 berhasil membuat Ahok dipenjara dan gagal kembali menjabat Gubernur.
Bagian yang mengagetkan saya adalah hari didirikannya dipilih pada 17 Agustus 1998. Hari yang sama dengan kemerdekaan RI, tahun yang sama saat tumbangnya Suharto. Sejauh yang publik tahu, ia hanya penjelmaan atau dijelmakan dari Pasukan Pamswakarsa bentukan Suharto. Walau gagal menghadang pelengseran Suharto, tapi umurnya cukup panjang hingga hari ini. Walau kemudian Imam Besar-nya terlibat chat ilegal yang dianggap mengandung porgrafi. Lalu tersingkir sebagai "orang buangan" di Arab Saudi. Tapi tetap saja "pasukan nasi bungkus-nya" tetap punya suara.
Walau terdengar lucu dan naif, belakangan saya dengar korlap-nya siap mengangkat pedang melawan Virus Corona, tentu apabila Gubernur DKI Jakarta memintanya. Gak tahu pedang apa yang digunakannya....
Kedua, perilaku yang sama ditiru oleh SBY ketika mendirikan Partai Demokrat. Hari yang dipilihnya adalah tanggal 9 September, sama dengan hari lahirnya. Jadi setiap kali memperingati hari lahir partai maka bersamaan dengan hari ulang tahun juragannya. Padahal pada awalnya, ia mengaku bukan "pendiri langsung", hanya seorang yang ditunjuk untuk menjadi pemimpin partai. Ia memilih sekelompok orang sebagai pendiri dan penasehat, sebelum semua itu kemudian dirangkapnya. Tentu ditujukan agar "tampak demokratis", dalam bahasa verbal gaul: saya kan nggak bisa nolak kalau terus didorong2. Bahasa paling ngehek setiap kali seorang pejabat ingin naik ke jabatan publik!
Suatu ketika, saya pernah mengejek Jerinx sebagai "megalomania". Ketika ia memprotes, dan saya sadar itu keliru lalu saya ganti dan minta maaf. Tapi untuk keduanya di atas saya tanpa ragu mereka inilah yang lebih tepat disebut megalomania. Dengan ciri pokok satu gejala gangguan jiwa yang ditandai dengan fantasi hebat atau perilaku gaya hebat tetapi realitanya tidak benar. Orang dengan megalomania juga merasa ingin dipuja dan mengalami gangguan empati. Dalam prakteknya mereka, selamanya menggunakan playing-victims sebagai metode utama kerjanya. Sesuatu yang tampaknya akan terus dipakai untuk "naik kelas atau jaga kelas".
Sekali lagi, saya tak pernah menduga bahwa "halusinasi atau utopi" kedua mereka memang luar biasa. Terencana hingga ke setiap detail-nya. Tak menyangka ketika kita memperingati hari kelahiran negara ini, sekaligus merayakan kelahiran FPI. Untunglah tidak semua orang adalah anggota Demokrat, yang tak lebih partai keluarga itu. Kecelakaan2 sejarah seperti yang bangsa ini harus terus lewati, hingga nasib buruk mengintai hari2 buruk kita hari ini. Bila hari ini, kita terus menerus terseok2 kembali menjadi satu seperti dulu. Kedua sosok inilah yang selalu pantas dikambinghitamkan.
Keduanya sudah akrab sejak lama, dan tampaknya akan tetap seperti itu dalam jangka yang masih lama. Selama lara megalomania-nya tetap mendera....
 
Sumber : Status Facebook Andi Setiono Mangoenprasodjo
Sunday, September 20, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: