Cerita Mudik Kere Macak

Oleh: Rudi S Kamri

 

Lebaran adalah momentum yang paling indah bagi saya untuk bisa berkumpul dengan saudara-saudara kandung. Dari 8 putra-putri Bapak-Ibu S.KAMRI saat ini tinggal 7 orang. Dress code wajib buat anak-anak laki-laki adalah celana pendek + kaos oblong. Kalau yang perempuan daster. Itulah pakaian kebesaran kami kalau sedang berkumpul, karena pakaian lain sudah pasti kekecilan. Mengingat tubuh kami sudah tumbuh mekar melebar tak tentu arah.

Agenda utama hari pertama pagi adalah ziarah ke makam Bapal-Ibu dan mbakyu nomor 4 yang telah pulang ke Sang Khalik. Berulang- ulang kami ziarah tapi setiap kali pula hati kami seperti diiris-iris dan mata sontak gerimis deras. Kami secara otomatis tercenung mengingat perjuangan kedua orangtua kami yang bagi kami sangat luar biasa. 

 

Profesi Bapak kami adalah tenaga drafter dari perusahaan kontraktor kecil di Kediri dengan gaji yang super kecil dan Ibu adalah seorang guru SD, membuat kami tidak habis pikir bagaimana mungkin beliau bisa menghidupi dan menyekolahkan kami berdelapan. Ada yang jadi tukang insinyur, dokter, ekonomi dan guru. Sangat tidak bisa kami nalar bagaimana semua bisa terjadi. Kesimpulan kami kalkulator Tuhan itu sangat luar biasa dan tidak mampu terjangkau oleh nalar dan otak kami yang bodoh ini. Dan alhamdulillah berkat modal S1 dari Bapak Ibu sekarang hampir semua kami sudah S2 dan beberapa S3.

Masih jelas teringat di memori kami, dulu kami setiap pagi harus antri sarapan dengan piring seng blirik yang telah diberi nama kami masing-masing oleh Bapak kami. Menu utama adalah nasi sambel + kerupuk uyel. Namun hal yang perlu kami syukuri, ibu kami sangat ahli membuat aneka sambel. Sambal apa saja, sambal jelantah, sambal terasi, sambal bajak bahkan sambal yang dibuat dari kepala ikan cuek yang sengaja dikumpulkan ibu malam sebelumnya. Rasanya lezat tiada tara. Ibu kami adalah Chef terhebat yang pernah kami kenal.

Ritual malam minggu adalah momen yang paling mengesankankhususnya bagi anak laki-laki. Mulai sore kami sudah sibuk gosok celana dan baju dengan setrika ayam + arang dengan dibantu alas daun pisang. Karena kami harus apel pacar-pacar kami, kan !!! Kami dulu sangat "sok nggaya dan sok keren" sampai- sampai ibu menjuluki kami "KERE MACAK" yang artinya orang miskin yang belagu alias bergaya. Dulu kami lumayan tersinggung dengan julukan Ibu kami tersebut lho.

Namun sekarang kami sadar, dulu kami memang sok belagu dan sok keren padahal kenyataannya jauh dari itu, culunnya tingkat dewa. Kami tidak sadar kondisi ekonomi keluarga kami saat itu. Tapi yang namanya remaja 70 - 80an mana bisa kami mengerti. Yang jelas jam 7 malam teng kami semangat 45 mengayuh sepeda onthel kami menuju rumah pacar kami masing-masing. Batas pulangnya adalah bunyi musik Dunia Dalam Berita TVRI jam 9 malam. Itu tanda kami harus pulang dan 'back to reality', kembali ke rumah kami yang dindingnya setengah tembok dan setengah bambu. Itu istana mewah kami, tidak perlu AC karena angin sudah cukup rajin menyusup membelai lewat dinding bambu rumah kami.

Saat ini julukan "Kere Macak" tetap kami gunakan untuk memanggil kami untuk mengajak kumpul pulang kampung. REUNI AKBAR KERE MACAK itu istilah kerennya. Seperti tahun ini, meskipun rumah induk kami sudah sedikit dipoles biar layak huni, tapi kami tetap merasa aura dan semangat Bapak Ibu kami tetap hadir menemani mudik kami di rumah tempat kami berdelapan dilahirkan.

Ini cerita norak ala "kere macak" kami saat mudik. Saya yakin cerita sahabat-sahabat yang lain pasti lebih seru dan dramatikal. 
Tulislah..... biar kami bisa belajar dan bisa menjadi inspirasi bagi kami.

Salam SATU Indonesia,
Rudi S Kamri
08062019

 

(Sumber: facebook Rudi S Kamri)

Sunday, June 9, 2019 - 04:15
Kategori Rubrik: