Cerita dibalik Ledakan Gudang Petasan, Miris

Ilustrasi

RedaksiIndonesia-Ledakan pabrik petasan di Kosambi, Kabupaten Tangerang, merenggut 47 nyawa dan melukai puluhan orang. Peristiwa mengerikan itu menyisakan trauma dan tanda tanya besar. 

Ledakan yang disusul kebakaran terjadi pada Kamis 26 Oktober 2017 sekitar pukul 09.00 WIB. Suara ledakan menggelegar bagai bom dan membuat orang panik berlarian menyelamatkan diri.

Agus, seorang saksi mata menceritakan kejadian yang membuat dirinya syok. Sopir truk ini hanya berada sekitar 10 meter dari gerbang pabrik maut tersebut.
 

Description: https://newrevive.detik.com/delivery/lg.php?bannerid=0&campaignid=0&zoneid=642&loc=https%3A%2F%2Fnews.detik.com%2Fberita%2F3702098%2Fmengerikan-cerita-saksi-di-balik-ledakan-pabrik-petasan-kosambi&cb=ddd2912c09

Saat itu, Agus sedang bersantai bersama sejumlah anggota Brimob di dekat lokasi. "Itu ledakannya keras sekali kayak bom. Saking kerasnya ledakan, saya sama beberapa Brimob sampai tiarap," kata Agus.

Api berkobar dan asap hitam mengepul di gudang petasan tersebut. Terjadi beberapa ledakan susulan, namun lebih kecil.
Tak lama kemudian, pegawai di dalam gudang tersebut berlarian menyelamatkan diri. Beberapa berlari dalam kondisi tubuh terbakar. Suasana begitu mencekam. "Orang pada teriak. Terus keluar ibu-ibu udah habis pakaiannya. Dia ditolong sama Brimob. Saya shock melihatnya," ujar Agus.

Ledakan keras itu juga membuat panik siswa siswi SMPN 1 Kosambi yang jarak antara sekolah dan pabrik sekitar 10 meter. Bangunan sekolah dan pabrik hanya dipisahkan jalan yang tak begitu lebar.

"Kaget, lihat asap oranye. Anak-anak kabur karena ledakan," cerita saksi mata, Rio Dwi, siswa SMPN 1 Kosambi.

Rio mengatakan ledakan yang muncul bersuara sangat besar. Ketika itu, siswa di kelas lain pun ikut keluar dari kelas tanpa instruksi dari guru.

Kesaksian lainnya juga disampaikan Bharatu Brimob Polda Kalbar, Armansyah. Saat terdengar ledakan, anggota Brimob tersebut langsung bersigap membantu korban yang masih terjebak di dalam pabrik.

"Awalnya sih kita selesai apel pagi rencana mau patroli. Jadi pas patroli menunggu yang mau ngawal, kita menaruh barang di atas. Pas naruh barang di atas, lihat jendela, di tengah meledak," ujar Armansyah.

Armansyah bersama rekannya berniat menjebol salah satu dinding pabrik. Namun hal itu tak jadi karena ada mesin ganset di balik temboknya. "Lalu turun kami semua kan, kami bantu evakuasi selamatkan diri dari gudang ini, kami bantu. Pas tempat meledak, dinding itu saya mau jebol. Ada yang teriak, 'Di situ gudang genset.' Jadi kami beberapa orang yang jebol dinding kembali ke depan," kata Armansyah.

Armansyah bersama rekannya berpindah ke bagian depan pabrik. Pada saat bersamaan, terlihat api di balik dinding yang hendak dijebol. "Karena diteriakin ada genset, tidak lama kembali keluar api kecil itu, kemudian ada ledakan, karena di situ tempat karbit," ucapnya.

Untuk menolong korban yang terjebak, personel Brimob menjebol tembok bagian belakang. Ada 10 personel Brimob yang menjebol tembok. "Pertama tembok belakang, lalu jebol maju lagi. Ada sepuluh orang (yang jebol)," imbuhnya.

Tembok dijebol menggunakan besi dan palu martil dari warga sekitar. Saat tembok bisa dijebol, korban laki-laki dan perempuan langsung berhamburan keluar. "Pakai besi bulat dan palu martil dari warga. Ada yang keluar perempuan dan laki-laki. Yang keluar di sini ibu-ibu. Kebanyakan korban terjebak karena api di tengah-tengah," paparnya.

Kisah lain diutarakan Kepala Desa Belimbing, Maskota. Dia mendengar suara teriakan dan gedor-gedor pintu saat ada ledakan di pabrik petasan Kosambi. Maskota menyebut para pekerja terkunci di dalam pabrik.

"Kalau lihat, mungkin mereka sudah terbiasa. Kalau pekerja tidak dikunci mungkin banyak yang selamat, Pak. Mereka itu ada kejadian banyak teriak, gedor-gedor pintu," kata Maskota.

Maskota menerangkan, akibat pintu terkunci dari dalam, banyak pekerja yang kesulitan keluar. Karena itu, para pekerja tidak bisa menyelamatkan diri dari ledakan di pabrik petasan tersebut. "Menurut informasi, karena pintu gerbang tertutup dan terkunci, terkunci dari dalam, jadi mereka tidak bisa selamatkan diri," terangnya.

Maskota juga menjelaskan ledakan di pabrik petasan itu terasa hingga ke rumahnya. Rumah kepala desa itu berada sekitar 3 kilometer dari lokasi kejadian.

Kini, peristiwa ledakan yang menjadi sorotan dunia itu masih diselidiki polisi. Polisi meminta keterangan kepada pihak manajemen pabrik petasan yang meledak di Kosambi, Kota Tangerang. Manajer operasional pabrik tersebut dibawa ke Polda Metro Jaya untuk dimintai keterangan lebih mendalam.

"Sementara ini manajer operasionalnya sudah dibawa ke Polda Metro Jaya," Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis kepada detikcom, Kamis 26 Oktober 2017.

Selain itu, Indra Liyono (40), pemilik pabrik petasan yang meledak di kawasan Pergudangan 99 Kosambi, Kota Tangerang, dimintai keterangan oleh polisi. Saat ini Indra masih diperiksa intensif di Polsek Teluk Naga.

"Pemiliknya sudah ada, sekarang masih diperiksa penyidik Polres di Polsek Teluk Naga," terang Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Harry Kurniawan.

Sampai saat ini terdata sudah ada 47 korban tewas akibat peristiwa tersebut. Sementara 46 korban luka dirawat di RSUD Tangerang, RSIA BUN dan RS Mitra Keluarga. Tim Forensik masih bekerja keras mengidentifikasi jasad 47 korban.

Sementara itu, Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Hanif Dhakiri segera mengecek apakah ada pelanggaran yang dilakukan perusahaan pemilik pabrik itu terkait ketenagakerjaan, termasuk dugaan mempekerjakan anak di bawah umur. "Saya sudah lihat beritanya dan memerintahkan jajaran saya untuk menangani," kata Hanif. 

Sumber : Detik

Friday, October 27, 2017 - 13:15
Kategori Rubrik: