by

Cerdas VS Dungu

Oleh : Karto Bugel

Paijo adalah pengusaha properti. Tak sedikit para tetangganya yang hanya berpikir bahwa dia adalah pemilik sah dari banyak gedung apartemen dan hotel yang ada di kota tempat mereka tinggal. Tentang bagaimana status kepemilikannya, itu bukan poin penting. Pun dari mana uang sebanyak itu untuk membeli tanah hingga modal pembangunan. Itu bukan wilayah yang mudah dimengerti. Fakta bahwa Paijo yang 10 yahun lalu hanya bermodal 1 gedung dan kini telah memiliki lebih dari 20 apartemen dan hotel adalah cerita sukses yang paling sering menjadi bahan perbincangan warga. Kehebatannya dalam mengelola bisnis hingga berhasil memiliki banyak gedung itu lebih menarik perhatian dibanding dengan bagaimana Paijo mengelola keuangannya.

Faktanya, Paijo berhutang pada bank. Fakta yang lain, dia selalu berpartner dengan teman bisnisnya. Pada banyak properti yang dia bangun, biasanya 70 persen modal berasal dari hutang. Sementara 30 persen sisanya, 55 persen adalah miliknya dan 45 persen yang lain adalah milik partnernya.”Bagaimana caranya agar bank percaya?”Kabar tersiar bahwa Paijo mulai bangkrut terdengar oleh tetangganya. Cerita beredar bahwa salah satu apartemennya telah dibeli oleh partnernya menjadi gunjingan. Kabar yang beredar bahwa apartemen yang 10 tahun yang lalu dibangun dengan modal 10 miliar dan namun dijual hanya dengan 2,5 miliar semakin mempertegas keyakinan itu. Paijo menuju bangkrut.

Anehnya, tak lama kemudian Paijo justru dikabarkan sedang membangun 2 apartemen lagi. Bagaimana mungkin?Apartemen yang dijual Paijo berdiri di atas tanah pihak ke 3 dengan konsesi selama 40 tahun. Modal 10 miliar yang digunakan membangun, 7 miliar berasal dari bank, 1,65 miliar berasal dari kantong Paijo dan sisanya 1,35 miliar adalah milik Yuni partner Paijo. Setelah 10 tahun, Paijo menjual 55% saham miliknya pada Yuni dengan harga 2,44 miliar rupiah. Artinya, setelah mendapat keuntungan dari sewa menyewa apartemen itu selama 10 tahun, Paijo juga meraih keuntungan 790 juta dari jualan sahamnya pada Yuni. Dari keuntungan itu Paijo mengajukan kredit baru dan membangun 2 apartemen baru dengan partner baru yang lain.”Trus bagaimana dengan Yuni?”Yuni masih memiliki hak atas apartemen itu selama 30 tahun. Kewajiban pembayaran hutang pada bank sebesar 7 miliar dikurangi 10 tahun cicilan yang sudah berjalan otomatis menjadi tanggung jawab Yuni sebagai pemilik 100% saham pada object tersebut.

Soal kenapa Yuni mau, itu pasti ada hitung-hitungannya dong? Demikianlah isu Waskita Karya terkait dengan penjualan Jalan Tol Cibitung senilai Rp 2,4 triliun padahal modal pembangunannya konon mencapai 10 triliun lebih. Kenapa isu itu dipercaya, karena yang jualan isu adalah ahlinya ahli. Dia Mardigu Wowiek atau terkenal dengan julukan Bossman. Dan seperti biasa manakala cerita miring berasal dari pemerintahan Jokowi, politisi Partai Demokrat pun pasti menyambarnya. Politisi Demokrat Yan Harahap juga tak mau ketinggalan.”Biayanya konstruksinya Rp10,80 triliun, resmi terjual Rp2,44 triliun?” ujarnya melalui Twitter pribadi @YanHarahap Minggu, 10 Oktober 2021. Dia kemudian menyindir pemerintahan dengan mengatakan keputusan ini sangatlah ‘jenius’.“Sungguh ‘jenius’,” pungkasnya.”Apakah sekelas mereka tak paham cerita itu?”

Tak penting cerita itu benar atau tidak. Paham atau mengerti permasalahan bukanlah esensi tertuju orang seperti itu. Bagi mereka, premis bahwa negara membangun dengan modal hingga 10 triliun dan kemudian dijual 2,44 triliun untuk membayar hutang adalah poin sebagai isu dapat dijual. Jokowi adalah raja hutang ingin mereka tuai sebagai hasil. Dan maka itu menjadi masuk akal untuk segera mereka sebarkan.”Apakah mereka begitu bégo sehingga nilai kebohongan yang sudah pasti hanya akan berumur pendek ini segera terbongkar dan kemudian harus klarifikasi? Apa gak malu?” Walaahh…operasi plastik diberitakan sebagai hasil kerja bakti seluruh pendukung Jokowi “nggebuki” mpok Ratna saja mereka jual to?😉

Pernahkah si buntalan ikan yang konon isunya dianggap sebagai promotor utama gerakan itu pernah menyesal? Malu bukan budaya species itu kan?Dengan mentalitas talib*n seperti yang biasa mereka pamerkan selama ini, siapapun mereka yang kini berada pada sisi barisan tak suka presiden, pasti hanya akan sedang tukar posisi saja dalam peran dengan buntalan itu. Terlihat konyol dan memang nyebelin, tapi itulah fakta kualitas oposisi kita hari ini. Bukan pamer ide dan gagasan sebagai cara merebut simpati rakyat manakala berdiri pada sisi oposisi, hoax dan kebencian justru selalu mereka tampilkan sebagai agenda coba-coba tak bermutu. Ya..,kelas mereka memang hanya sampai pada level tawuran fisik semata. Hanya itu yang mereka tahu tentang makna merebut. Hanya itu pemahaman yang pernah mereka terima ketika sekolah dulu. Merebut simpati disamakan dengan merebut kembali ponsel yang dijambret temannya dan maka berteriak “maling…maling..!!” agar warga mau tergerak menjadi anarkis. Mereka ingin merebut kursi kekuasaan dengan keriuhan dan amuk bukan dengan elegant makna sebuah demokrasi.

Satu hal yang pasti, meski oleh Waskita Karya ruas tol itu dijual pada swasta, setelah masa konsesi itu habis, setelah 30 tahun dari sejak penjualan itu dilakukan, jalan tol itu kembali menjadi milik negara.Apakah itu untung atau rugi, apakah itu sesuai dengan maksud negara memberikan ruas itu pada Waskita Karya, yang jelas tidak seperti apa yang disampaikan oleh Mardigu maupun politisi Demokrat itu. Mereka hanya ingin jualan sensasi, sama persis dengan biasa buntalan ikan itu mendapatkan tenarnya…RAHAYU.

Sumber : Status Facebook Karto Bugel

https://www.cnbcindonesia.com/…/lego-jalan-tol-cibitung…

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed