Cerdas Bersama Jokowi, Sebuah Otokritik

ilustrasi

Oleh :: Rudi S. Kamri

Beberapa hari lalu Ketua Badan Pemenangan Nasional BoSan, Djoko Santoso mengadakan konferensi pers, seolah-olah dia membocorkan isi pidato PS bahwa pasangan BoSan akan mundur dari kontestasi Pilpres. Dari awal saya sudah memberikan "warning" kepada beberapa orang teman bahwa ucapan Djoko Santoso itu hanya strategi 'caper' untuk menarik perhatian agar orang-orang penasaran menyaksikan pidato PS. Tapi ternyata sebagian pendukung Jokowi tidak peduli dengan peringatan saya, mereka tetap saja asyiiik mengulas dan membully rencana mundurnya BoSan.

Dan ternyata terbukti, tidak ada satupun kalimat dari PS yang akan mundur dalam pidato penuh emosional dan kebohongan tersebut.

Ini membuktikan bahwa para pendukung Jokowi terlalu sering mudah bereaksi dengan pancingan mereka. Beberapa orang pendukung Jokowi sering terperangkap dalam jebakan strategi Timses BoSan.

Kemudian setelah pidato, saya juga memberikan himbauan agar kita jangan mengulas, mencerca atau membully PS dalam bentuk apapun. Karena semua isi pidato tersebut memang telah dirancang dengan cerdas untuk memberikan umpan pancingan emosi kepada rakyat Indonesia. Pidato ala "Trump Style" tersebut dibuat oleh Tim Eep Saipullah Fatah dkk dengan cermat. Dimana kebenaran atas materi pidato sengaja ditinggalkan, yang diutamakan hanya tebar propaganda dan pancingan emosi.

Lagi-lagi banyak teman-teman pendukung Jokowi kembali terperangkap jebakan Betmen. Mereka asyik mengulas dan membahas isi pidato PS. Diantaranya pendapatan tukang parkir vs dokter dan topik lainnya. Para pendukung Jokowi tidak menyadari bahwa mereka telah menjadi agen distribusi HOAX yang sengaja diciptakan oleh kubu sebelah. Lagi-lagi Timses BoSan sukses besar menciptakan jebakan buat pendukung Jokowi.

Dalam teori komunikasi psikososial, apabila suatu ujaran apapun bentuknya selalu diviralkan terus menerus, secara tidak sadar akan menancap kuat dalam alam bawah sadar publik. Dan ada kemungkinan ujaran tersebut akan dianggap sebagai suatu kebenaran.

Entahlah dengan cara apa lagi saya harus memberikan pengertian kepada para pendukung Jokowi agar cermat dan cerdas serta mau meningkatkan "awareness" dalam menyikapi sebuah jebakan. Jujur terkadang saya "hopeless".

Menurut saya, akan jauh lebih bermanfaat apabila kita memviralkan nilai-nilai kebaikan yang dipancarkan oleh aura positif Jokowi, daripada kita memviralkan energi negatif milik tetangga sebelah. Energi positif yang kita pancarkan terus menerus akan mudah ditangkap oleh orang-orang yang mempunyai frekuensi yang sama.

Sekali-kali kita boleh memviralkan fakta sejarah pesaing Jokowi dengan tujuan memberikan gambaran yang sebenarnya akan rekam jejak yang bersangkutan. Bagi mereka hal ini pasti akan dianggap sebagai "negative campaign". Tidak apa, sah saja, asal kita tidak melakukan "black campaign" dengan menyebarkan fitnah, hoax atau ujaran kebencian.

Sekali lagi marilah kita cerdas mendukung Jokowi. Jangan kita terlena menari-nari di atas rampak gendang yang mereka mainkan. Akan jauh lebih baik kita yang memainkan irama rancak kita sendiri dan biarkan mereka yang tertatih-tatih ikut menari.

Dalam kampanye saya meyakini adagium *"PERTAHANAN TERBAIK ADALAH MENYERANG".* Jangan sebaliknya kita sibuk bertahan dengan merespons ujaran mereka dengan segala cacian, tapi kita lupa untuk menyerang. Sampai kita tidak sadar, pihak lawan telah berhasil menyusup ke jantung pertahanan kita.

Masih ada waktu untuk memperbaiki diri. Mudah-mudahan kita punya kesempatan untuk menjadi lebih baik, agar kita tidak menyesal di kemudian hari.

*Salam SATU Indonesia*
15012019

*#2019JokowiPresidenRI*
*#2019CoblosJokowi*
*#IndonesiaJuaraBersamaJokowi*

Sumber : Status Facebook Rudi S Kamri

Wednesday, January 16, 2019 - 12:15
Kategori Rubrik: