Cerdas Berkampanye Untuk 1ndonesia

Oleh: Guntur Wahyu Nugroho

Pada hari ini Minggu, 23 September 2018 kampanye untuk pemilu calon DPR, DPD, DPRD dan Presiden-Wakil Presiden secara resmi dimulai. Kampanye akan diakhiri pada 13 April 2019. Ada rentang waktu kurang lebih 6,5 bulan bagi para calon dan tim pemenangan masing-masing untuk merebut simpati dan memenangkan hati para calon pemilih. Tersedia ruang yang sangat memadai serta waktu yang relatif panjang bagi para kontestan pemilu untuk mengenal dan dikenal masyarakat baik dalam hal karakter, gagasan, komitmen, program kerja maupun ide-ide perubahan yang diusung.

Tentu sangat banyak yang berharap kampanye akan benar-benar menjadi sarana pembelajaran politik yang berkualitas bagi rakyat. Kita tidak boleh lagi menolerir cara-cara kotor, penyebaran fitnah, hoax, ujaran kebencian, politisasi dan komodifikasi agama sebagaimana yang terjadi pada pilgub DKI Jakarta tahun lalu. Kita perlu berdemokrasi secara etis dan sehat. Kampanye dama1 bermakna kampanye dengan mengedepankan keadaban kita sebagai sesama anak bangsa.

Gerakan 2019GantiPresiden sudah kehilangan legitimasi dan gaungnya sebab selain kampanye hitam, ujaran kebencian dan kultivasi isu SARA, praktis gerakan semacam itu yang akan memanaskan suhu politik yang akan menyulut konflik di tingkat akar rumput. Lagi pula apabila gerakan semacam itu dipaksakan dapat mendelegitimasi pemilu dan mengancam kewibawaan dan keselamatan negara, kalau tidak mau dituduh makar.

Kampanye menjadi momentum yang paling tepat untuk merayakan demokrasi dan pergantian kekuasaan secara teratur dan dama1. Pemilu ini juga merupakan peristiwa bergengsi di mata dunia Internasional yang mana Indonesia sebagai negara kepulauan dan maritim yang sangat majemuk dapat melalui semua tahap pemilu secara dama1, transparan dan bermartabat.

Secara khusus terkait dengan pilpres yang hanya terdiri dari 2 paslon, hendaknya sikap kenegarawanan yang selalu dimunculkan dengan memilih untuk adu gagasan, program dan ide-ide perubahan serta kritik yang substansial sehingga pemahaman masyarakat semakin diperkaya serta praktek-praktek demokrasi makin jauh meninggalkan model prosedural dan makin mendekat ke model demokrasi yang substansial dan berbobot.

Jangan beri ruang pada kampanye hitam, ujaran kebencian dan kultivasi isu SARA karena hal-hal itulah yang menjadi hambatan besar bagi negara dan rakyat kita untuk maju.

1ndonesia ber-SATU !

 

Sumber : facebook Guntur Wahyu N

Tuesday, September 25, 2018 - 10:15
Kategori Rubrik: