Ceramah Di Depan Pendeta

Ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat

Awalnya dulu ketika pertama kali diminta ceramah di depan para pemuka agama lain, saya bingung. Mau ceramah apa di depan pendeta, biksu dan pastor.

Tapi hari ini justru menarik ketika saya diminta ceramah, dimana audience tidak semua muslim. Sebagiannya non muslim, bahkan ada pendeta yang juga diminta ceramah.

Inilah hakikat dakwah yang original banget, sebab dahulu Nabi SAW dan para shahabat binaan Neliau, kerap kali harus berdakwah di depan para pemuka agama lain. Trio Abu Lahab, Abu Jahal dan Abu Sufyan adalah contoh tokoh agama musuh Allah, namun kerap kali Nabi SAW berdialog dengan mereka. Dua tetap kafir, satu masuk Islam. Abu Sufyan meski butuh belasan tahun didakwahi, akhirnya dapat hidayah juga.

Kaisar Romawi Heraklius, Raja Mesir Muqauqis dan Raja Habasyah An-Najasyi dan lainnya, adalah contoh sosok pemuka barisan non muslim yang sempat berkomunikasi jarak jauh lewat surat menyurat dengan Nabi SAW. Heraklius dan Muqauqis tidak pernah masuk Islam, sementara Najasyi masuk Islam, bahkan kisah shalat jenazah pertama kali menyolatkan dia.

Heraklius sendiri sempat diskusi panjang lebar dengan Abu Sufyan membahas kenabian Muhammad SAW. Dan dia sampai kepada kesimpulan, bahwa jangan-jangan Muhammad itu memang benar seorang utusan Allah. Namun harus diakui bahwa sejarah tidak pernah membuktikan bahwa Heraklius baca syahadat.

Tokoh kafir didakwahi tapi tidak mau masuk Islam tidak apa-apa. Namanya juga dakwah, kadang sukses kadang tanpa hasil. Toh tidak ada paksaan dalam memeluk Islam Namun setidaknya mereka tahu banyak informasi kebaikan Islam dari sumber asli, tidak bias, tidak teristorsi.

Justru di titik inilah kita mengalami masalah serius, yaitu banyak sekali non muslim yang benci Islam justru lantaran dapat info bias. Bahkan bukan hanya non muslim, kalangan muslim sendiri pun banyak yang dapat pandangan miring tentang syariah Islam.

Asal dengar kata syariah, yang terbayang di benak langsung pedang belumur darah habis menebas putus leher orang kafir, atau terbayang cambuk 100 kali bagi pezina dan teringat ada pergelanagan tangan putus gara-gara nyolong.

Sehitam itu gambaran syariah di mata orang awam yang terdistorsi dalam menerima signal ilmu keislaman.

Padahal fakultas saya waktu masih S1 dulu bernama FAKULTAS SYARIAH.

Ya, syariah gitu loh. Ternyata bersyariah itu indah, gak dikit-dikit bacok, gak dikit-dikit rajam, gak dikit-dikit perang juga sih. Wudhu' kan syariah, tayammum juga syariah, malah yang asik nih, akad nikah dan jima' juga syariah. So syariah itu asik punya bro.

Kenapa kok syariah ditakuti, boleh jadi karena yang menyampaikannya sosok yang rada bikin serem. Atau nggak juga ya.

Gak tahu lah.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

Friday, April 20, 2018 - 20:00
Kategori Rubrik: