Ceramah atau Menulis

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwt, Lc.MA

Buat saya yang terbiasa ceramah dan juga terbiasa menulis, sebenarnya dua-duanya punya keistimewaan sendiri-sendiri.
Kadang saya lebih suka menulis, sebab dengan menulis, apa yang saya sampaikan itu jadi runut, tertib, rapi, terstruktur, sekalian jgua ada teksnya yang juga bisa dibaca orang setelah itu.

Walaupun dalam beberapa kasus, saya merasa lebih dapat energi dalam menyampaikan sesuatu lewat ceramah verbal saja. Lagian ceramah itu lebih simpel, tidak perlu berlama-lama mengetik. Dua jam sesi ceramah tidak bikin lelah. Beda dengan menulis, dapat 20 halaman, rasanya kok langsung ingin isitirahat.

Tapi dalam kenyataannya, masing-masing punya jalur beda-beda. Apa yang saya tulis itu beda dengan apa yang saya ceramahkan. Narasinya tidak sama.

Maksudnya begini, kalau saya ceramah dengan membaca teks yang saya tulis sendiri, maka saya jadi kehilangan ruh ceramah itu. Rasanya jadi kaku dan lucu.

Sebaliknya, rekaman ceramah saya kalau dituliskan teksnya (istilahnya verbatim), juga tidak enak dibaca secara bahasa tulisan.

Jadi ceramah ya ceramah, menulis ya menulis. Masing-masing punya frekuensi sendiri-sendiri.

Kemarin seorang ibu pengurus jamaah pengajian laporan ke saya, bahwa ketimbang dengerin ceramah atau nonton youtube saya, Beliau lebih senang membaca tulisan saya. Katanya biar bisa dicorat-coret, ditandai dan dituliskan ringkasannya. Sedangkan kalau dengarkan ceramah keburu jenuh dan bosen mendengarkannya.

Jadi memang beda-beda juga. Ada orang yang males baca, lebih senang mendengar atau menonton. Sebaliknya, banyak juga yang sukanya baca dan males nonton.

Bagi saya, novel yang tebal itu males banget bacanya, mending nonton filmnya saja. Tapi kalau maslah keilmuan, saya lebh suka baca bukunya ketimbang nonton orangnya.

Doktor Said Ramadhan Al-Buthy misalnya, saya suka sekali membaca bukunya, tapi kalau nonton Youtubenya kok cepet ngantuk ya. Dr. WAhbah Az-Zuhaili, Dr. Qurasih Shihabdan banyak lagi. Membaca tulisan mereka rasanya lebih seru.

Tapi tergantung siapa yang diceramah juga sih. Misalnya KH. Zaenuddin MT almarhum, saya pasti lebih suka dengerin pidatonya atau nonton Youtubenya. Tulisannya? Wah belum tahu tuh kalau beliau menulis buku. Ada nggak ya?

Lain lagi dengan Dr. Yusuf Al-Qaradawi, Syeikh Ali Jum'ah atau KH Prof. Dr. Ali Mustafa Ya'qub almarhum. Bukunya asyik dibaca, tapi ceramahnya juga enak didengarkan.

Masing-masing punya kelebihan. Kita syukuri saja. Meski ada juga yang punya ilmu, tapi ceramah tidak, menulis apalagi juga tidak. Nah itu yang mayoritas kayaknya.

Sumber : Status facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Thursday, April 23, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: