Cendekiawan, Intelektual dan Pernyataannya

ilustrasi

Oleh : Supriyanto Martosuwito

Sebagai orang yang tidak pernah merasai bangku kuliah, saya salut kepada mereka yang punya gelar berderet deret, S1, S2, bahkan S3. Meraih doktor, MA, MBA, Ph.D. Profesor. Sungguh tidak mudah memperolehnya.

Seorang sahabat sekantor, yang sempat menempuh S-2, terseok seok dan akhirnya berhenti di tengah jalan - kuliah tidak selesai - karena beban tugas hariannya di ruang redaksi dan perusahaan. Lagipula, dia terus terang, ada kelemahan dalam bahasa Inggris - sedangkan kuliahnya dwibahasa.

Akan tetapi saya juga merasa bahwa seharusnya mereka yang sudah menyandang gelar berderet deret itu menunjukkan kapasitas intelektualnya yang sepadan. Sesuai. Orang Jawa bilang "sumbut". "Worthy" atau "Worth it" - istilah kerennya. Pokoknya "cucok" lah

Pada kenyataannya, tidak demikian. Banyak 'public figure', orang bergelar S2-S3 ketika membuat analisa dan pernyataan malah ngawur - lebih ngawur dari anak SMA dan di bawahnya.

Saya mengamati dan menengarai kita mengalami surplus gelar, di banyak bidang. Bukan hanya gelar akademik seperti rektor, guru besar, pakar dan pengamat ini-itu, melainkan juga gelar kehormatan dari profesi mulia lain. Misalnya ulama, ustadz, buya, pendeta, anggota dewan, bahkan bupati dan gubernur. Tokoh masyarakat. Tapi sebagiannya tidak nyambung dan sepadan antara jabatan, gelar yang disandang dengan pernyataan yang disampaikannya ke publik.

Jika politisi seperti SBY dan Fadli Zon, Hidayat Nur Wahid, suka membolak balikan fakta dan logika - maka secara alamiah (nature) memang itulah darah daging politisi. Suka memanipulasi logika dan fakta.

Akan tetapi sekelas Busyro Muqodas yang kita kenal sebagai cendekiawan, mantan Wakil Ketua KPK, Ketua Bidang Hukum PP Muhamadiyah, juga melakukannya itulah yang memprihatinkan.

Dia menyalahkan aparat dalam demo anarkis yang menolak UU Cipta kerja. "Aparat kepolisian justru bertindak represif dengan menahan orang tanpa dasar hukum, juga menganiaya relawan medis hingga jurnalis yang tengah bertugas, " katanya.

"Ini kan kebrutalan-kebrutalan politik yang kalau tidak dikontrol oleh masyarakat sipil, termasuk pers, sama saja melakukan sikap pembiaran," jelas pengacara Bambang Tri Cendana ini.

Entah mengapa terhadap orang yang membuat pernyataan seperti itu, saya mengusut pada pendidikannya. Dia Sarjana hukum, lho. dia wakil ketua KPK, lho. Atau dia S-2, lho, dia S-3, Dia Ph.D., lho - untuk tokoh lainnya.

CONTOH yang lebih ekstrim datang dari mantan bintang film kondang 1980-90an, politisi PAN - yang sekarang entah sibuk jadi apa. Isteri rocker alim. Mendadak dia menyebut pemerintahan sekarang "sama dengan VOC dan benci Ulama".

Dia juga menyebut Omnibus Law "pesanan non Islam dan orang kiri". Bahkn "mendorong muslim jadi murtad"

Saya bukan orang pemerintah dan akademisi dan analis politik. Akan tetapi menyebut "pemerintah sekarang sama dengan VOC dan benci ulama" jelas ngawur blas. Total. Dia mengabaikan wapresnya tokoh ulama dan ketua MUI ? Sebelum ini yang jadi wapres Ketua Dewan Masjid Indonesia? Bagaimana dia bisa nyeplos "pemerintah benci ulama? "

Padahal dia menyandang gelar S-3, yang didapat dengan membaca dan menganalisa. Dia lulus S-1, jurusan hukum perdata dari Univ. Trisakti. Meraih S2 di Universitas Katolik Atma Jaya dan MBA di Universitas Gadjah Mada. Kemudian meraih gelar doktor di bidang lingkungan dari IPB. Kurang apalagi?

Tapi - simaklah - pernyataan cuma sekelas anggota ormas militan anarkis yang bermodal seragam yang hari hari ngaji dan ikut ceramah di Petamburan, Tanah Abang.

Dia lahir dari keluarga terhormat dan sejak belia sudah meraih popularitas. Karena kecantikannya. Pernah gabung di grup "Swara Mahardhika" yang diasuh Guruh Sukarnoputra.

Saya ingat almarhum penyair WS Rendra menyebutnya, "Wanita pemilik mata terindah". Dia bersuamikan rocker yang santun, sabar dan konon penurut dan melahirkan dua putri cantik yang menuruni watak bapaknya, yang kalm.

Akan tetapi - orang orang yang dekat dengannya - khususnya orang film era 1980-'90an - mengenalnya sebagai pribadi yang temperamental. Mudah meledak. Mulutnya tajam (dan kini jari jarinya! pen).

Kalau sedang mengamuk sangat memalukan. Tak ragu menjerit jerit di depan orang banyak. Saya sendiri pernah memergokinya, saat meliput suting sinetron produksinya. Oh, ya, dia juga pernah menjadi produser.

Kawan saya, Akhlis Suryapati, yang menulis untuk majalah "Film" pernah dilabrak dan didamprat olehnya saat namanya masuk nominasi FFI, karena membandingkan dengan Christine Hakim, Niniek El Karim dan Tuti Indra Malaon (alm). Semua aktris kawakan dan intelektual, kata Akhlis. Dan pengecualian untuk dia.

"Saya 'kan juga intelektual?! Saya ini mahasiswa fakultas hukum! " jeritnya saat itu - di Pusat Perfilman Kuningan. Akhlis mengisahkan kembali ke saya dan kawan kawan saat didamprat, sambil tertawa tawa.

Di lokasi suting film kelakuannya "mbossy" dan semena mena. Dan terhadap artis seperti ini crew film punya cara khas membalasnya. Dari belakang. Diam diam.

Saya pernah dapat cerita bahwa ada crew P.U. (pembantu umum) film sengaja mengencingi baskom air yang dipakai untuk mencuci muka dan menghapus 'make up'-nya, usai suting.

Ada cerita lain, PU yang meludahi minuman yang dipesan sembari mengaduk ngaduk sebelum membawanya dengan nampan ke depannya dengan mimik santun.

Kawan saya yang fotografer, yang semula kagum, jadi sebal - karena setiap difoto untuk iklan minta tambahan ini-itu - kepada client. Permintaan yang membebani dan mendadak di lokasi. Bukan sebelumnya.

Dia pernah jadi olok olok karena marah kepada keluarga Adhie MS - lantaran masih mencemburui suaminya yang dulu pernah berkisah kasih dengan penyanyi pop berwayah ayu dan anggun - orbitan Rinto Harahap itu.

Dia juga mencemburui Diva Pop Vina Panduwinata yang di panggung menggelendot pada suaminya saat konser bareng.

Dia juga pernah kirim twitt norak menyerang politisi Chicco Hakim yang membela Ahok. Saat itu dia bela lawannya.

Dulu dia sangat cantik - hingga terpilih sebagai salahsatu bintang Lux - dan masih cantik hingga sekarang di usianya yang sudah 58. Tapi sepertinya tak yakin dengan pesona kecantikannya. Dan tidak semakin bijak.

Dia pernah bergabung di PDIP tapi dipecat Megawati gara gara selingkuh dengan PKS di Pilkada Banten. Lalu masuk PPP, dan kemudian pindah lagi ke PAN. Dia mengaku bukan "politisi kutu loncat" melainkan bergabung "kerena dirayu rayu". Selain gagal nyalon di Banten, di Bengkulu, dia juga gagal nyaleg di Bandung.

Akan tetapi yang fatal darinya dia adalah seorang intelektual dengan gelar yang menempel di depan dan belakang namanya. Dr. Hj. , S.H., M.Hum., M.B.A.

Jadi - dia belajar apa, dapat ilmu apa, selama menghabiskan waktu kuliah di Univ. Trisakti - Atmajaya - Univ. Gajahmada dan IPB ?

Karena pernyataan-pernyataannya jauh dari referensi / rujukan para intelektual. Kajian akademik. Sebaliknya dia malah kerap membuat pernyataan di akun medsos dan media yang bernada sentiman agama dan membenturkan unsur unsur SARA.

Ya Allah, ya Allah...mengapa saya jadi ghibah?! Ampuni saya. ***

Sumber : Status Facebook Supriyanto Martosuwito

Saturday, October 17, 2020 - 12:30
Kategori Rubrik: