Cebong Garis Keras Bukan Cebong Garis Lurus

Oleh: Bekti Susilo

 

Cebong Garis Keras itu bukan Pemandu Sorak yang asal cuap-cuap, teriak-teriak tak jelas dan menari berjingkrak-jingkrak bak orang kalap.!

Cebong Garis Keras itu punya akal dan keberpihakan pada kebenaran dan rakyat. Tetap Kritis dan berempati pada kepentingan rakyat.

 

Cebong Garis Keras bukan untuk membela secara membabi buta Rezim yang sedang berkuasa. Tapi membela type dan figur Kepemimpinan yang baik dan benar. Mengawal dan mengoreksi Kebijakan Pemimpin yang benar. 

Kalau seorang pemimpin salah mengambil kebijakan dan tindakan harus berani kritik dan kritis. Jangan malah membabi buta menghilangkan logika nalar dan kewarasan akal.

Nalar waras mana yang bisa ditolerir, saat sebuah kebijakan sudah dimentahkan dihadapan Hukum Positif masih saja mau di Daur Ulang. Apa semua pejabat sdh mati rasa dan tuna nalar.

Bagaimana kalau Kebijakan Daur Ulang di soal dan dimentahkan lagi dihadapan Hukum Positif. Masih adakah kata Kewarasan dan Keberpihakan.

Lagi-lagi hanya kelas Menengah-Bawah yang rentan miskin akan jadi korban dan tumbal kebijakan.

Wahai Cebong Garis Keras..!
Jumlah masyakat miskin ada sekitar 25-30 juta, 9%-10% dari total penduduk. Dan, mereka sdh dimanjakan dgn segala macam bantuan. Ada KIP, KIS, PKH, BPJS PBI dan Bansos-bansos lainnya. 

Wahai Cebong Garis Keras..!
Jumlah masyarakat Ekonomi atas ada sekitar 5%-10% dari total penduduk. Mereka sdh dimanjakan oleh banyak fasilitas pembangunan. Ada Bandara, Pelabuhan, Jalan Toll, Jalan Trans Nasional, Kawasan Ekonomi Khusus, Perizinan Usaha yang dipermudah dst. Diluar itu ada kelompok kelas menengah atas berjumlah 30%-40% dari total penduduk. Dan, mereka juga sdh dimanjakan dgn banyak fasilitas pembangunan seperti kelompok masyarakat ekonomi atas.

Tapi.. Diluar itu ada kelompok masyarakat Menengah-Bawah yang rentan miskin berjumlah 40%-50% dari total penduduk. Dan, mereka hampir tidak mendapat apa-apa dari kue pembangunan. 
Mereka bepergian tetap dgn motor kreditan berbunga mencekik leher. Mereka berbelanja tetap dgn uang yang pas-pasan.
Mereka berteduh tetap didalam rumah sederhananya. 
Mereka bekerja tetap dilingkungan yang apa adanya dan terkadang malah ala kadarnya.
Mereka hampir-hampir tercerabut dari segala fasilitas negara.

Tanyailah mereka, apakah mereka termasuk kelompok masyarakat yang mendapat PKH, KIP, KIS, BPJS PBI dan Bansos-bansos lainnya. 
Tanyailah mereka apakah mereka kelompok masyarakat yang mendapat Potongan Iuran tarif listrik bahkan gratisan 100%. 
Tanyailah mereka apakah mereka termasuk kelompok masyarakat yg senantiasa ikut terimbas kenaikan iuran BPJS, Gas, BBM dst. 
Tanyailah mereka apakah mereka kelompok masyarakat yg senantiasa mendapat previlage-hak hak khusus dalam hal pekerjaan dan penghidupannya dst.

Kalau semua itu hanya pengabaian atas eksistensi mereka. Buat apa Pemerintah terus mensuport kelompok masyarakat bawah yang 10% dan masyarakat atas serta menengah atas yg berjumlah 30%-40%. Tapi pada saat yang sama terus mengabaikan kelas masyrakat Menengah-Bawah yang jumlahnya 40%-50%. 

Jangan terus usik kehidupan mereka dgn segala macam kenaikan upeti. Mereka diam karena mereka sabar. Mereka diam karena mereka berakal. Mereka diam karena masih berharap kebijakan berpihak pada kehidupan mereka.

Tapi kalau mereka terus dibuat kesal, dibuat merana, dibuat sengsara, dibuat putus asa dan dibuat hilang pengharapan, maka bersiap-siaplah untuk diabaikan. Pengabaian Kelompok Masyarakat Menengah-Bawah yang 40%-50% bisa membuat seisi Kerajaan Cebong babak belur.

Wahai Cebong Garis Keras tetaplah Kritik dan Kritis atas segala Kebijakan Pemerintah. Semua demi kemaslahatan rakyat dan Kepemimpinan yang bermartabat.

Jadilah Cebong Garis Keras yang Lurus berfikir meski juga bukan Cebong Garis Lurus..!

 

(Sumber: Facebook Bekti Susilo)

 

 

Monday, May 18, 2020 - 05:00
Kategori Rubrik: