Cawagub Ditolak Gerindra, PKS Bakal Boikot Prabowo

ilustrasi

Oleh : Nadia Al Nanggulana

Tiga calon Wakil Gubernur DKI yang diajukan oleh Partai Keadilan Sejahtera ditolak mentah-mentah oleh Partai Gerindra. Ketiga nama yang disodorkan oleh partai pimpinan Shohibul Iman yaitu PKS, yakni Ahmad Syaikhu, Agung Yulianto, dan Abdurrahman Suhaimi dianggap M Taufik tidak dikenal. Kepada media Taufik menyatakan ketiga nama itu tidak cukup dikenal baik di kalangan wakil rakyat maupun masyarakat. Pernyataan ini makin kuat indikasi bahwa Taufik sendiri memang mengincar kursi jabatan itu.

Sejak ditinggalkan Sandiaga Uno yang mencalonkan diri sebagai Cawapres, Anis Baswedan bekerja sendirian sebagai Gubernur. Baik Anies, DPRD, birokrasi maupun masyarakat tidak bertanya atau mendesak segera diisinya kursi Wakil Gubernur DKI 26 Agustus 2018 atau hampir 6 bulan lalu. Hal ini menandakan bahwa peran Sandiaga Uno sebagai wakil gubernur tidak dirasakan. Atau benarkah kursi-kursi wakil kepala daerah memang tidak penting? Bukankah berbagai program yang dikampanyekan Anies Sandi ada beberapa yang berasal dari Sandi. Sebut saja Ok Oce. Lalu bagaimana perkembangan program itu sekarang?

Kembali soal perebutan kursi Wakil Gubernur DKI, sangat aneh ketiga nama sodoran PKS bukan siapa-siapa. Nama pertama, Agung Yulianto merupakan Sekretaris Umum DPW PKS DKI Jakarta dan pengusaha yang tentu namanya sudah banyak dikenal. Lalu ada Abdurrahman Suhaimi yang merupakan Ketua Fraksi PKS DPRD DKI Jakarta. Dan nama terakhir Ahmad Syaikhu, mantan Cawagub Jabar pada Pilkada serentak 2018. Bagaimana bisa Taufik menyatakan ketiga nama itu tidak popular?

Selain itu, tidakkah Taufik ingat bahwa jabatan Wagub DKI adalah incaran PKS? Dan barternya tidak tanggung-tanggung, suara untuk Capres bakal merosot drastis.

Bukan hanya Syaikhu sebetulnya yang mengincar kursi Wagub DKI (karena gagal mendapatkan di Jabar), ada Mardhani Ali Sera yang merasa sudah susah payah membangun tagar 2019 Ganti Presiden namun hingga sekarang tidak dapat apa-apa. Taufik jelas politisi oportunis, targetnya mendapatkan kursi Wagub DKI. Persetan dengan perolehan suara Prabowo kelak. Taufik sendiri wajar marah karena Sandiaga adalah kader Gerindra kenapa ketika mengundurkan diri justru diminta PKS? PKS ngotot meminta kursi itu dikarenakan sewaktu konsesi mendukung proses pencapresan Prabowo disebutkan salah satunya mendapat kursi Wapres. Dan yang bikin tambah marah M Taufik adalah konsesi itu tidak dibicarakan awal serta diminta sesaat menjelang pengumuman dukungan partai-partai terhadap Prabowo Sandi.

Perebutan kursi Wagub DKI antara PKS dan Gerindra telah mengacaukan kesolidan tim mereka di internal termasuk didalamnya Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Sandi. Lihat saja dalam berbagai kunjungan Capres dan Cawapres ke daerah, kita tidak melihat elit Parpol PKS, PAN, Demokrat maupun Berkarya mengiringi mereka ke daerah.

Jika parpol-parpol pendukung saja enggan menyertai mereka dalam kampanye didaerah, bagaimana mereka bisa memenangkan pertarungan Pilpres April 2019? Koalisi mereka sudah pecah, para artis atau tokoh mereka bermasalah dengan hukum, pimpinan parpol pendukung sibuk konsolidasi dan meraih suara partai, buzzer mereka kehabisan bahan, segala Russian propaganda mereka gagal di media social dan para pendukung mereka lari terbirit-birit dalam berbagai forum diskusi atau group di media sosial. PKS sendiri meyakini Prabowo tidak akan memenangkan pilpres makanya mereka realistis, harus mendapatkan kursi Wakil Gubernur. Jika sampai Pilpres kursi Wagub belum terisi, alamat PKS benar-benar kehilangan jatah. Tapi mereka tidak masalah karena Prabowo juga kehilangan kursi Presiden.

Impas kan?

 

Saturday, February 9, 2019 - 21:15
Kategori Rubrik: